TKN Angkat Bicara soal Video 'Tak Ada Zikir di Istana': Internal, Bukan untuk Publik






Tim Kampanye Nasional (TKN) 01 Jokowi-Ma'ruf menanggapi beredarnya video yang menunjukkan ceramah seorang ulama yang menyebut jika Ma'ruf Amin kalah pada Pilpres 17 April, maka tahlil dan zikir di Istana tidak akan berkumandang lagi.

Direktur Hukum dan Advokasi TKN Jokowi-Ma'ruf, Ade Irfan Pulungan, mengatakan video diambil dalam acara internal yang dihadiri oleh Ma'ruf Amin dan sejumlah relawan beberapa waktu lalu. Irfan menegaskan video itu bukan untuk konsumsi publik.

"Ya ini kan pertemuan internal yang itu disampaikan kepada semua tim pendukung, ya kan. Itu internal, yang kedua ini kan sebenarnya tidak untuk konsumsi publik," kata Irfan di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (19/3).

Irfan mengaku heran mengapa video itu bisa sampai tersebar di media sosial. Ia menduga ada pihak yang ingin memperkeruh suasana dengan sengaja menyebarkan video itu kepada publik.

"Jadi pertanyaan adalah siapa yang memviralkan itu? Dia punya niat untuk melakukan semacam adu domba terhadap yang menyampaikan sambutan atau pidato tersebut. Mungkin patut diduga didalam pertemuan internal ini juga ada orang penyusup. Nah itu juga harus kroscek juga itu," ungkap Irfan.

Selain itu, Irfan menjelaskan maksud yang disampaikan oleh ulama dalam acara itu adalah dalam rangka menyemangati para relawan yang hadir dalam acara itu untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 17 April mendatang.

"Saya rasa itu sah-sah saja. Itu kan cara metode atau strategi dari semua tim kampanye ya kan," ucap Irfan.

"Kalau pihak 02 keberatan, ini tidak tersebar ke publik ya tidak kepada masyarakat umum disampaikan. Kan itu kan dalam forum internal, tertutup lagi,"



Lebih lanjut, Irfan mengaku keberatan jika apa disampikan oleh seorang ulama dalam acara itu disebut sebagai bentuk kampanye hitam. Karena peserta yang hadir dalam acara itu merupakan para relawan Jokowi-Ma'ruf.

"Kampanye hitam ke tempat siapa? Kalau misal emak-emak di Karawang sama Sulsel itu itu kan pada umum mempengaruhi tapi ini kan rata-rata semua pada pendukung yang sudah mendukung dan itu tertutup," tuturnya.

"Jadi saya rasa tidak tepat kalau ini menjadi sebuah perbuatan pidana, tidak ada yang dirugikan, justru kami yang dirugikan karena orang yang punya niat untuk ekspose ini ke publik," imbuh Irfan.

Video itu beredar di media sosial, salah satunya diunggah oleh salah seorang pengguna Twitter @RajaPurwa pada Senin 18 Maret 2019.

Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 25 detik itu, nampak cawapres Ma'ruf Amin hadir di tengah-tengah acara yang belum diketahui kapan dan di mana keberadaannya. Sambil duduk, Ma'ruf nampak tengah mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh salah satu ustaz dalam acara itu.

Namun yang menjadi sorotan adalah pernyataan ustaz yang belum diketahui namanya itu menimbulkan spekulasi. Ia menyatakan jika Ma'ruf tidak terpilih dalam Pemilu nanti, maka tidak akan ada tahlil, dzikir di Istana.

Selain itu disebutkan tidak akan ada lagi hari santri. Maka dari itu, ia meminta kepada seluruh yang hadir dalam acara itu untuk memenangkan Ma'ruf Amin pada 17 April mendatang.

Berikut penggalan pernyataan dari ustaz tersebut:

"Sesuatu yang bid'ah yang musyrik yang kafir dan lain sebagainya dan mereka ini akan membuat sebuah kekuatan yang apabila terjadi maka akan menjadikan Islam mainstream seperti NU ini, seperti pesantren ini, hanya akan menjadi fosil di masa depan.

Jangan berpikir masih ada tahlil, jangan berpikir masih ada zikir di istana, jangan berpikir masih ada hari santri apabila sampai kiai Ma`ruf ini kalah. Nauzubillahi mindzalik.

Ajengan semuanya masih ingin hari santri? Masih ingin zikir berkumandang di Istana? Masih ingin budaya NU dan ahli sunah terus berkembang di Indonesia ? Jawabnya hanya satu, kalau ingin semuanya masih, 17 April yang akan datang semua kita jaga untuk memenangkan kiai Ma`ruf Amin.

KUMPARAN.COM