Teror Selandia Baru, Contoh Rasisme Bercampur Kebencian Ala Barat






Teroris Australia melakukan pembantaian di sebuah masjid di Selandia Baru dengan tenang dan bahkan sambil mendengarkan musik saat melakukan kejahatannya. Dia mendengarkan lagu Serbia yang memuji pemimpin kriminal Serbia Radovan Karadzic, yang melakukan pembantaian terhadap Muslim di Bosnia. Di antara liriknya adalah, “Serigala sedang bergerak dari Krajina. Karadzic memimpin orang-orang Serbia; biarkan mereka melihat dan tidak takut pada siapa pun.”

Lagu itu diputar saat ia menyiarkan secara live Facebook pembantaian itu. Artinya ada penonton yang mengawasi dan mendorongnya untuk melakukan tindakan ini, di mana ia berkomunikasi dengan seseorang dan bekerja untuk mereka. Dia mengatakan bahwa serangannya diberkati oleh Ksatria Templar, sebuah perintah militer Kristen yang dibentuk di Eropa selama Abad Pertengahan.

Senjata yang digunakan oleh teroris Australia untuk melakukan pembantaian memiliki simbol, tanggal dan tulisan yang menunjukkan tingkat kebencian terhadap umat Islam, serta keberadaan tren agama Kristen ekstremis yang terinspirasi oleh literatur dari sejarah Perang Salib. Simbol itu juga menunjukkan keberadaan organisasi dan entitas yang menanamkan ekstremisme dalam aksi mereka, seperti yang dilakukan Daesh.

Hal itu juga menunjukkan ada badan yang mensponsori dan mendanai mereka, serta merencanakan serangan. Badan ini mengeksploitasi tren kebencian terhadap Muslim dan Islamofobia mereka. Jadi, ini bukan tindakan serigala sendirian (lone-wolf).

Mari kita lihat tanggal dan nama yang tertulis di senjata teroris dan menganalisis simbolisme dan signifikansi mereka.

    1189: Tahun ketika pengepungan Akka, yang berlangsung dua tahun, berakhir dengan masuknya Perang Salib Ketiga ke Akka dan mengeksekusi seluruh garnisun Ayyubiyah.
    1683: Ini adalah tahun Pertempuran besar Wina yang merupakan pengepungan Utsmaniyah kedua di Wina pada masa pemerintahan Mehmed IV. Pertempuran ini berakhir dengan eksekusi komandan pasukan Ustmaniyah Kara Mustafa Pasha di Beograd. Sejarawan percaya bahwa ini adalah tanggal di mana Khilafah Utsmaniyah mulai menurun menuju kehancuran total.
    732: Tahun Pertempuran Pengadilan Martir, atau Pertempuran Tur, di Prancis selatan, yang menghentikan kemajuan Islam di Eropa.
    Charles Martel: Raja Prancis yang mengalahkan Muslim Andalusi dalam Pertempuran Tur.
    Constantine II: Raja Kristen terakhir Bulgaria sebelum Utsmaniyah mengambil kendali.
    Marco Antonio Bragadin: Komandan Venesia yang melanggar perjanjian dengan Utsmaniyah dan membunuh tentara Utsmaniyah yang dipenjara.
    John Hunyadi: Seorang jenderal Hungaria yang berperang melawan Utsmaniyah selama membela Beograd.
    Bohemond I dari Antiokhia: Seorang pemimpin Perang Salib Pertama melawan Muslim Turki.
    Skanderbeg: Komandan militer Albania yang memimpin pemberontakan melawan Utsmaniyah.



Yang menonjol dari nama dan tanggal yang disebutkan di atas adalah keberadaan sejarah permusuhan Utsmaniyah-Kristen. Permusuhan seperti itu disebutkan dalam literatur dan tulisan-tulisan para ekstremis berabad-abad setelah perang Utsmaniyah di Eropa, yang mencoba untuk mencapai jantung benua Eropa.

Kenangan sejarah Perang Salib ini menunjukkan bahwa efeknya masih bertahan dan berpengaruh sebagai kekuatan penghasut -meskipun waktu berlalu- serta memberikan kebangkitan partai-partai sayap kanan di Barat. Terutama setelah Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat dan menyuarakan permusuhannya terhadap Islam, kebenciannya pada Muslim, dan mengaitkan terorisme dengan Islam.

Kita tidak boleh melupakan pidato pengukuhannya, di mana Trump berkata, “Kami akan memperkuat aliansi lama dan membentuk aliansi baru – dan menyatukan dunia beradab melawan Terorisme Islam Radikal, yang akan kami hapus dari muka bumi.” Trump hendak membasmi Islam, tetapi menambahkan kata radikal untuk melunakkan pukulannya. Hal ini sama dengan yang dilakukan George W. Bush setelah serangan 11 September di Menara Kembar New York.

Untuk diketahui, teroris Australia mengatakan bahwa dia menganggap Presiden AS Trump sebagai idola, memandangnya sebagai simbol identitas kulit putih, bukan sebagai pemimpin politik.

Tren ini sedang meningkat di dunia Barat dengan munculnya fenomena Islamofobia, yang didorong oleh wacana partai-partai sayap kanan ekstremis di Eropa. Wacana seperti itu secara eksplisit memicu kebencian dan penolakan terhadap komunitas Muslim dan imigran. Mereka menuai buah dari perjuangan putus asa mereka melawan imigran. Wacana mereka menimbulkan diskriminasi etnis dan agama.

Aneh bahwa retorika tak berperikemanusiaan yang tertutup ini dihidupkan kembali di pasar politik Eropa, tempat lahirnya modernitas, memulihkan nilai individu, kebebasan, dan hak asasi manusia, yang mencakup kebebasan bergerak di seluruh dunia.

Kecaman yang dikeluarkan oleh beberapa pemimpin Barat hanya membuat debu di mata rakyat dan merupakan upaya untuk membuktikan bahwa Barat masih merupakan benteng kebebasan dan menentang rasisme.


Jika kita membandingkan pembantaian mengerikan ini -yang menewaskan 50 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya, serta melanggar kesucian masjid- dengan apa yang terjadi di Paris dua tahun lalu, ketika enam jurnalis yang bekerja untuk majalah Charlie Hebdo, yang menggambar kartun ofensif, dibunuh oleh seorang Muslim, kita menemukan perbedaan besar dalam cara Barat memperlakukan mereka.

Dunia menjadi terbalik setelah insiden Charlie Hebdo, dan kami menyaksikan kecaman dari seluruh dunia. Media-media langsung meliput, yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang tangisan para korban. Para ulama dari seluruh dunia bergegas mengutuk kejahatan ini dan menganggapnya tidak Islami, sebuah pemakaman diadakan dan dihadiri oleh para pemimpin dunia, termasuk para pemimpin Arab, dan semua orang meneriakkan, “Kami adalah Charlie Hebdo.”

Sementara itu, dalam kasus pembantaian yang mengerikan di Masjid Al-Noor di Selandia Baru, yang digambarkan sebagai tindakan individu yang dilakukan oleh seorang ekstremis, tindakan mengecam terlihat malu-malu, bahkan dari kepala Vatikan. Pernyataannya lemah dan tidak sesuai dengan besarnya insiden itu.

Adapun Presiden Trump, ia hanya mencuit belasungkawa kepada orang-orang Selandia Baru dan tidak menyebutkan korban. Sementara para pemimpin Arab, mereka seolah buta, tuli, dan bisu. Tidak ada yang mengeluarkan kecaman. Bagaimana mereka bisa mengutuk tindakan seperti itu ketika mereka melakukan hal yang sama kepada rakyat mereka dan melakukan tindakan terorisme terhadap mereka?

Saya harus menyebutkan bahwa bulan lalu, di Konferensi Keamanan Munich, Presiden Abdel Fattah Al-Sisi memperingatkan para pemimpin masjid Barat dan mendesak mereka untuk diawasi. Menteri luar negeri UEA juga telah meminta hal yang sama di depannya. Darah para korban ini ada di tangan para pemimpin Arab, yang menghasut terhadap Muslim dalam semua pidato mereka dan menggunakan darah bangsanya untuk tumbuh lebih dekat ke Barat. Mereka adalah ujung tombak perang global melawan Islam.

Pohon teror telah tumbuh dan menghasilkan teroris yang meluncurkan kampanye teror dan mengadakan pesta balas dendam terhadap komunitas Muslim.

Sumber: Middle East Monitor
Penulis: Dr. Amira Abo el-Fetouh

KIBLAT.NET