Sulit Untuk Tidak Mengatakan, Pilpres 2019 Adalah Kemenangan Prabowo-Sandi Bersama Rakyat






DALAM kontestasi politik muktakhir yang terjadi di Indonesia, muncul sebuah konstalasi baru, yaitu konstalasi politik dan ideologi antara para aktor politik. Penyumbang yang paling dominan dalam konstalasi ini adalah kaum intelektual dan cedekia muda yang hadir di panggung politik.

Ini sebenarnya titik balik dari pertarungan pencitraan, yang dipoles sedemikian rupa untuk dijual di hadapan publik, yang ditampilkan semenjak tahun 2014 silam. Tetapi pada kenyataannya, antara fakta dan tampilan begitu jauh berbeda.

Keadaan ini, menyadarkan banyak rakyat yang dikelabui dengan citra itu tadi. Sehingga rakyat merasa bahwa penampilan yang dicitrakan sangat jauh dari kebijakan yang diambil. Menampilkan diri sebagai sosok yang merakyat dengan lugu, kemudian diberi bedak dan pakaian sederhana, hanyalah semacam "kepalsuan" yang sama sekali tidak memberikan manfaat bagi rakyat banyak.

Karena sudah merasa "dibohongi" dengan pencitraan dan penampilan itu, rakyat tampil memprotes segala "keluguan" yang telah menipu mereka. Sementara kelas menengah, yang terdiri kaum terdidik, membaca fenomena tersebut sebagai fenomena yang membahayakan bagi kemajuan bangsa.

Sikap kritis kaum intelektual ini melahirkan narasi-narasi besar yang menenggelamkan pencitraan dan polesan. Membuka segala bobroknya kebijakan kekuasaan selama hampir 5 tahun. Suara-suara kaum intelektual itu menembus ruang-ruang kelas percakapan publik dan menarik simpati banyak kalangan.

Tidak heran para intelektual ini, meskipun sebagaian diantara mereka tidak mengambil bagian dalam tim kampanye Prabowo-Sandi, tetapi mereka justru lebih terbuka menyatakan pikirannya untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Menang, Adil dan Makmur.

Ini bukan hanya suatu asumsi belaka, melainkan sebuah realitas politik yang terjadi. Dapat kita lihat, bahwa penguasaan opini publik melalui media Twitter dan Facebook didominasi oleh suara-suara lantang kaum intelektual yang secara terbuka mendukung pikiran-pikiran Prabowo-Sandi.

Bahkan media massa yang menjadi corong kekuasaan bahkan kewalahan untuk menghadapi kekuatan media sosial yang digerakkan oleh para kaum intelektual dengan follower ratusan ribu hingga jutaan followers. Ini menandakan kekuatan rakyat di media sosial didominasi oleh semangat perubahan.

Perpaduan antara kekuatan rakyat, kaum intelektual dan elit-elit nasional yang didengar oleh banyak orang, menjadi satu kunci kemenangan bagi pasangan Prabowo-Sandi. Tanda kemenangan pun terlihat semakin jelas mendekati hari pemungutan suara.

Bukti dan Realitas di Lapangan

Suasana kampanye Prabowo-Sandi yang dihadiri oleh lautan manusia, membludak dan histeria massa yang terjadi di lapangan menandakan semangat perubahan itu mendominasi dibanding dengan semangat untuk mempertahankan pencitraan dan gaya kepemimpinan yang lemah segala-galannya.

Histeria massa dalam lapangan kampanye terbuka pasangan Prabowo-Sandi bukanlah sebuah citra atau diambil dari sudut kamera yang telah diedit. Apa yang tergambar tanpa sensor dan semua menyaksikan lautan manusia hadir dalam kampanye dan kunjungan Prabowo-Sandi tersebut.

Sebaliknya, kampanye petahana terus mengalami penurunan, dan bahkan memiliki massa yang kecil dan dimobolisasi dengan modal finansial, dan kekuasaan untuk menggerakkannya. Ini sungguh ironis bagi petahana, sekaligus menjadi bukti bagi petahana untuk mengoreksi dirinya bahwa dia gagal dalam melaksanakan janji dan tugasnya selama berkuasa.

Karena kegagalan itu, rakyat menghakimi petahana dengan membuat kesimpulan bahwa tidak akan dipilih lagi. Dengan modal finansial dan politik serta kekuasaan yang dimilikinnya, sebenarnya petahana akan sangat mudah untuk mencari simpati masyarakat. Tetapi memang nilai jual petahana dan orang-orang terdekatnya sangat kecil dan bahkan diantaranya tidak ada sama sekali.

Selain tidak memiliki kemampuan personal,sebagaimana dikemukakan oleh Arbi Sanit dalam acara talkshow di salah satu TV nasional, petahana juga tidak memiliki kemampuan tim yang mumpuni. Akhirnya, nilai jual yang ditawarkan hanyalah program yang sebetulnya merupakan hasil klaim yang juga pengaruhnya tidak menyentuh langsung masyarakat paling bawah.

Sebaliknya tokoh-tokoh intelektual dan politisi berpengaruh melebur bersama Prabowo-Sandi dengan kekuatan politik dan pengaruh yang dahsyat. Para intelektual yang juga mantan pejabat, para politisi yang juga mantan aktivis, memiliki massa riil di lapangan yang menyumbang lebih banyak modal sosial untuk menggerakkan massa.

Magnet tokoh-tokoh yang memihak kepada Prabowo-Sandi ini sungguh sangat melemahkan citra dan gaya yang ditampilkan oleh kubu Jokowi-Maruf. Sehingga kelemahan itu menjadi satu kepanikan tersendiri yang menghinggapi tim kampanye Jokowi-Maaruf. Keadaan tersebut memaksa muncul beberapa wacana, mulai dari wacana menggaji pengganguran hingga menjerat hoax dengan terorisme.

Wacana ini adalah klimaks dari perang total yang dinarasikan oleh kubu Jokowi-Maruf. Narasi perang total sebagai jalan untuk mengerahkan semua kekuatan dan kekuasaan hanya menjadi narasi saja, ketika sampai kepada masyarakat, kondisi politik dan suhu perubahan lebih dahsyat mengalahkan narasi petahana itu.

Modal Kedua Paslon

Dalam konteks narasi ini, petahana sama sekali tidak memilikinya. Narasi dan ideologi, seharusnya menjadi modal utama bagi calon pemimpin untuk dilemparkan kepada publik. Tetapi petahana miskin narasi, yang jual di hadapan publik hanya janji yang seharusnya tidak boleh lagi diucapkan oleh petahana. Petahana bukan menawarkan janji, tetapi menjelaskan program dan capaian.

Tidak bisa dipungkiri kedua paslon tentu memiliki modal politik, sosial dan ekonomi. Tentu modal itu tidak sama, ada yang memiliki modal politik tapi modal sosial tidak dimiliki, atau modal sosial tidak ada, tetapi modal ekonomi besar. Ketiga modal itu tentu masing-masing menopang untuk menenangan paslon.

Kalau kita bongkar modal kedua paslon, maka yang kita lihat adalah pasangan 01 lebih mendominasi modal finansialnya dibanding dengan pasangan 02. Modal finansial yang dimiliki oleh kubu 02 begitu sangat kurang, bahkan menggalang rakyat untuk menyumbang demi Indonesia yang adil dan makmur.

Tetapi tiba sampai pada realitas sosial, maka keunggulan kubu 02 sangat besar. Kekuatan sosial yang bergerak di rakyat, meginginkan perubahan dan kekuatan ini sangat solid dan kuat. Sementara kubu 01, hanya mengandalkan dukungan-dukungan rakyat yang mengambang, yang belum tentu memilihnya lagi dalam pemilu.

Inilah yang sangat menguntungkan bagi kubu 02. Sebab tidak ada kekuatan yang mampu untuk menandingi semangat perubahan yang datang dari rakyat. Sebuah social movement itu muncul dari kekuatan akar rumput yang tidak bisa dilawan oleh kekuatan finansial maupun kekuasaan, karena itu adalah kehendak rakyat.

Dukungan Parpol dan Ormas

Gerakan perubahan sosial tidak lahir begitu saja, tetapi ia merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dengan ideologi politik pasangan calon. Sehingga secara ideologis afiliasi politik dibangun dengan narasi besar, yang menggelorakan semangat persatuan dan kesamaan perasaan dan pandangan. Jadi tidak heran, kalau pendukung 02 lebih progressif, dan ikhlas dalam mengkampanyekan kemenangan bagi pasangan Prabowo-Sandi, meskipun finansial sangat tipis.

Itu juga yang mempengaruhi sikap dan dukungan partai politik. Partai yang memiliki aktor-aktor utama, rentan dengan dualisme dukungan. Karena ideologi aktor sangat menentukan dukungan dari bawah.

Dilihat dari koalisi dukungan partai politik, 01 lebih besar dan kuat dibandingkan dengan kubu 02. Meskipun di tingkat pusat partai politik dominan mendukung 01, tetapi para caleg di beberapa daerah tidak berani untuk mengakampanyekan calon Presiden mereka.

Selain itu, kekuatan massa partai politik, seperti Golkar dan PPP, yang berupa simpatisan dan pemilih partai banyak yang mendukung 02. Apalagi baru-baru ini, elite Golkar yang juga merupakan keponakan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan dukungan kepada pasangan 02 Prabowo-Sandi. Ini merupakan sebuah sinyal, bahwa kekuatan Golkar, baik tingkat elite, lebih-lebih di tingkat akar rumput mengalami perpecahan dan tidak solid mendukung 01 Jokowi-Maruf.

Hal yang sama pula dengan partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pemilih PPP di tingkat bawah sangat banyak yang berpihak kepada 02. Apalagi ada PPP khittah sebagai aktor idelogis yang menggerakkan massa PPP di tingkat bawah untuk bergerak memenangkan pasangan 02.

Partai pendukung seperti Partai Bulan Bintang, yang bergabung terakhir di kubu 01 tidak bulat untuk memilih pasangan tesebut. Sebagian besar pemilih ideologis PBB mengikuti Ijtima Ulama. Termasuk dengan simpatisan PBB  semua adalah pemilih 02. Meskipun Ketua Umum PBB Prof. Yusril Ihza Mahendra menyatakan dukungan partai ke kubu 01, tetapi pada pemilih PBB tidak berpindah pilihan, yaitu memilih 02.

Kekuatan-kekuatan ormas seperti NU misalnya, sebagai modal utama Kiai Maruf untuk tampil menjadi Cawapres, justru banyak yang menyatakan dukungan kepada 02. Ulama-ulama NU bahkan menyatakan dukungan secara terbuka. Ini menandakan bahwa kekuatan politik 01 memang sangat mengambang dan tidak solid seperti kekuatan rakyat yang ingin perubahan.

Sementara ormas-ormas Islam lainnya, seperti FPI, Dewan Dakwah, Al Irsyad, Persis, Hidayatullah dan ormas-ormas Islam yang memiliki massa riil di lapangan menjadi pemilih yang militant terus bergerak untuk memperjuangkan kemenangan 02.

Hal yang sama juga terjadi di pemilih Muhammadiyah yang sebagian besar merupakan kaum intelektual modernis, yang mereka adalah orang-orang terdidik, secara pribadi-pribadi lebih besar menyatakan dukungan ke 02. Elite maupun intelektual Muhammadiyah, tidak melihat persoalan pertarungan antara siapa yang menang dan kalah, ini adalah pilihan ideologis dan itu sangat berpengaruh hingga sampai pada masyakarat di bawah.

Beberapa sinyal telah diberikan oleh tokoh-tokoh elite Muhammadiyah, meskipun itu tidak secara resmi. Sinyal dengan menyatakan dukungan secara personal itu, tentu sangat mempengaruhi para kader-kader muda Muhammadiyah dan warga Muhammadiyah. Ini merupakan kekuatan yang sangat besar di tengah masyarakat.

Menyambut Kemenangan Prabowo-Sandi

Realitas dan pemetaan dukungan tersebut di atas, menjadi bukti yang kuat untuk menyatakan, bahwa jalan Jokowi untuk menuju periode kedua sangat tidak memungkinkan lagi. Untuk membuktikan bahwa jalan itu sulit, adalah dengan melihat angka survei Litbang Kompas yang merilis elektibilitas petahana di bawah 50 persen.

Artinya, petahana sedang menghadapi suatu kekalahan yang sangat jelas di depan mata. Elektabilitas petahana di bawah 50 persen mendekati pemilu adalah posisi yang sangat tidak aman, dan potensi kekalahan semakin besar.

Pemilih yang dianggap undicided voters itu bukanlah pemilih yang golput, tetapi itu pemilih yang akan menentukan siapa yang menjadi Presiden. Pemilih andicided dan swing voters, adalah pemilih yang masih merahasiakan pilihannya. Kalau kita lihat dinamika politik, yang merahasiakan itu mungkin karena beberapa alasan, karena karir dan lain sebagainnya. Dengan demikian dapat dikatakan pemilih undicided dan swing voters adalah pemilih Prabowo-Sandi.

Jadi dengan realitas tersebut, maka Pemilu 17 April 2019, pemilihan Presiden akan dimenangkan oleh Prabowo-Sandi dengan alat ukur dan kekuatan sosial yang bisa kita lihat dengan kasat mata. Dimana-mana, petahana kalah dalam hal narasi, opini, media sosial, trend di media dan berbagai tempat. Lebih khusus lagi di lapangan, dimana Jokowi semakin sepi dari rakyat, Kiai Maruf lebih sepi lagi sementara Prabowo semakin membludak, sementara Sandi mampu membuat massa histeria. Dari hal itu saja sulit untuk tidak mengatakan, "Pemilu 2019 adalah kemenangan Prabowo-Sandi bersama rakyat Indonesia". []

Dr. Ahmad Yani

Caleg DPR RI PBB Dapil DKI I (Jakarta Timur).

[rmol.co]