Indef Beri Warning Beban Bunga Utang LN RI Makin Berat






 Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan peringatan terkait beban bunga utang luar negeri (LN) Indonesia yang makin naik dan dinilai makin memberatkan. Tren pembayaran beban bunga utang juga dinilai menjadi yang tertinggi dibanding pos belanja lainnya, termasuk dibanding belanja modal untuk infrastruktur.

“Tahun 2014-2018, belanja pembayaran bunga utang naik 86,9%. Trennya tertinggi dibanding pos belanja lainnya termasuk jika dibanding belanja modal untuk infrastruktur,” ujar Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, saat dikonfirmasi indonesiainside.id di Jakarta, Rabu (20/3).

Sementara di sisi lain, lanjut dia, defisit keseimbangan primer masih terjadi. Itu berarti untuk membayar beban bunga, negeri ini mesti menerbitkan utang baru. “Kalau terus begini, APBN bisa kurang produktif meski rasio utang di bawah 60% batas aman,” paparnya.

Dampak lain, menurut dia, beban bunga utang mahal ke likuiditas perbankan terjadi perebutan dana. Deposan memindahkan sebagian dana untuk membeli surat berharga negara (SBN) karena bunganya mencapai 7,9%-8%. Sementara bunga deposito berkisar 5%-6%. “Likuiditas bank yang mengetat diperkirakan akan mengganggu fungsi intermediasi perbankan,” ucapnya.

Dia juga menyoroti strategi frontloading utang lebih digunakan untuk belanja konsumsi dan rutin seperti belanja pegawai dan belanja barang. “Bisa dicek realisasi belanja modalnya tidak tinggi,” ujarnya.

Beruntung dalam tahun politik seperti sekarang, lanjut dia, beban bunga utang yang makin berat tidak akan mempengaruhi subsidi rakyat kecil. “Mungkin ini tahun politik jadi bantuan social (bansos) dan subsidi naik. Tapi jangka panjang bisa jadi dipangkas,” ujarnya.
Baca Juga:  Alokasi Penggunaan Utang Pemerintah Dipertanyakan

Berdasarkan data Asian Bonds Online, Indonesia adalah negara mempunyai tingkat bunga utang sebesar 8,12%. Sementara bunga utang Filipina 6,47%, Vietnam 4,88%, Malaysia sebesar 4,07%, Thailand 2,27%, dan Singapura 2,21% atau terendah di ASEAN.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), utang luar negeri Indonesia kembali naik pada periode Januari 2019. Menurut data tersebut, utang luar negeri Indonesia naik 7,2% secara tahunan pada akhir Januari 2019 menjadi US$ 383,3 miliar atau setara dengan Rp5.404 triliun, berdasarkan asumsi kurs referensi Bank Sentral akhir Januari 2019.

Utang luar negeri Indonesia hingga akhir Januari 2019 itu terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 190,2 miliar dan utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 193,1 miliar.

“Pertumbuhan utang luar negeri mencapai 7,2% (year on year/yoy) yang relatif stabil tersebut sejalan dengan peningkatan pertumbuhan utang luar negeri pemerintah di tengah perlambatan pertumbuhan utang luar negeri swasta,” tulis Bank Sentral dalam laporannya.

Adapun utang luar negeri pemerintah yang sebesar US$ 187,2 miliar atau tumbuh 3,7% (yoy) dipengaruhi oleh arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) selama Januari 2019.(*/Dry)


[https://indonesiainside.id/indef-beri-warning-beban-bunga-utang-ln-ri-makin-berat]