Fahri Angkat Suara Soal Kata Kafir "Kenapa yang Jadi Korban Agama Islam?"






Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyoroti sikap Nahdlatul Ulama (NU) yang meminta agar non muslim tidak lagi disebut kafir.

Fahri menilai, kata kafir lahir dari kitab suci yang tidak bisa diamandemen. Namun, apabila kata itu dibuat oleh manusia tentu bisa diamandemen.

"Jika ada kata kafir dalam konstitusi dan UU, mari kita amandemen, itu buatan manusia. Katanya kita disuruh jangan campur agama dan politik. Beginian aja gak bisa dicerna," tulis Fahri Hamzah lewat Twitternya, Jumat (1/3/2019).


Fahri melanjutkan, kata kafir banyak digunakan dalam kitab suci, tidak hanya Alquran.

"Kenapa yang jadi korban hanya agama Islam? Kenapa Alquran yang dipersoalkan? Susah banget mau jadi orang Islam. Kalau oleh konsep iman agama lain saya disebut kafir ya terima saja. Memang kenapa kalau kafir?," imbuhnya dikicauan berbeda.

Fahri menyebut, hal yang sudah tercatat dalam kitab suci tidak mungkin bisa diubah manusia. Bahkan seorang nabi pun tidak boleh melakukan itu.

"Justru kedewasaan berwarganegara dan toleransi itu ditentukan oleh kemampuan kita untuk mencerna perbedaan konsep dalam iman. Ini malah toleransi mau merasuk pada perubahan konsep iman. Lah apa hak kita mengubah konsep iman? Nabi aja gak boleh. Heran saya. Ini kan sederhana," tuturnya.

Lantas, Fahri menyindir tokoh Islam yang dinilai minder untuk mengenal konsep iman. "Semoga ke depan lahir generasi yang percaya diri dari pesantren dan sekolah-sekolah agama. Sehingga tegaklah agama dan tegaklah negara. Sebab kalau ulama minder maka negara kacau. Ini potret hari ini," ujarnya.

"Harusnya warga negara didewasakan untuk menerima konsep iman yang beragam. Toleransi pada perbedaan adalah syarat kewarganegaraan. Agama tidak perlu diamandemen sebab ia telah didisain untuk mengelola perbedaan. Kalau Tuhan mau, kita gak bakal beragam," imbuhnya.[akurat.co]