Tersingkap Alasan Abu Bakar Baasyir Gagal Bebas karena Permintaan untuk Menghormati Australia






Media asing menulis, ini faktor yang mengakibatkan rencana Abu Bakar Baasyir dibebaskan akhirnya tidak jadi dilaksanakan.

Salah satunya diungkap The Guardian, Selasa (22/1/2019).
Menteri Keamanan Indonesia (yang dimaksud adalah Menteri Koordinator Politik Hukum Keamanan, Wiranto) yang mengatakan, keputusan untuk membebaskan dalang pelaku pengeboman Bali, Abu Bakar Baasyir sedang ditinjau, yang dilakukan, beberapa jam, setelah Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mendesak Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan rasa hormat kepada Australia.

Menteri, Wiranto, mengatakan kepada konferensi pers yang tergesa-gesa pada Senin malam bahwa Widodo telah memintanya untuk mengoordinasikan peninjauan terhadap semua aspek dari rilis yang direncanakan.

 Abu Bakar Baasyir, sebelumnya dianggap tidak memenuhi syarat untuk pembebasan bersyarat karena penolakannya untuk melepaskan keyakinan radikal.
Namun, alasan sebenarnya bukan itu.

Keluarganya telah meminta pembebasannya sejak 2017 karena usianya dan kesehatan yang memburuk.

"Atas dasar pertimbangan kemanusiaan, presiden sangat memahami permintaan keluarga," kata Wiranto. "Namun, masih perlu dipertimbangkan oleh aspek lain," katanya.

 Abu Bakar Baasyir (81) dianggap sebagai pemimpin  kelompok Islam Jemaah Islamiah  yang terlibat dalam pemboman Bali, tahun 2002.

Tokoh  itu dinyatakan bersalah atas tuduhan terorisme pada tahun 2010 karena terkait dengan kamp pelatihan militan di provinsi Aceh dan dipenjara selama 15 tahun.

Namun, Joko Widodo mengatakan pada hari Jumat bahwa Abu Bakar Baasyir akan diberikan pembebasan lebih awal dari penjara dengan alasan kemanusiaan.

Sedangkan Scott Morrison dan anggota lain dari pemerintah Australia telah melakukan kontak langsung dengan rekan-rekan mereka dari Indonesia atas rencana pembebasan Abu Bakar Baasyir yang akan datang.

"Orang Australia meninggal secara mengerikan pada malam itu dan saya pikir, orang Australia di mana-mana akan mengharapkan bahwa masalah ini ditangani dengan sangat serius oleh pemerintah kami, yaitu," kata perdana menteri kepada wartawan, Senin.

“Tetapi juga bahwa pemerintah Indonesia akan sangat menghormati Australia dalam cara mereka mengelola masalah ini.”


"Kami selalu konsisten, pemerintah dari kedua persuasi, selama periode waktu yang lama, tentang keprihatinan kami tentang Abu Bakar Bashir," kata Morrison.
"Dia harus menjalankan apa yang telah disampaikan oleh sistem peradilan Indonesia kepadanya sebagai hukumannya," katanya.


Scott Morrison mengatakan, itu tidak biasa bagi tahanan yang telah menjalani dua pertiga dari hukuman penjara Indonesia mereka untuk mendapatkan pembebasan bersyarat.

“Tetapi, kami telah sangat jelas tentang perlunya memastikan bahwa sebagai bagian dari upaya kontra-terorisme bersama kami, kami memiliki kemitraan kontraterorisme yang sangat baik dengan Indonesia, bahwa Abu Bakar Baasyir tidak akan berada dalam posisi apa pun atau dengan cara apa pun dapat mempengaruhi atau menghasut apa pun,” katanya.
 [http://wartakota.tribunnews.com]