Kasus Rocky Gerung Pertegas Rezim Jokowi Panik






Pemeriksaan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan analis politik sekaligus ahli filsafat, Rocky Gerung menunjukkan rezim saat ini panik.

Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM), Bin Firman Tresnadi menduga, kepanikan itu timbul karena tingkat elektabilitas petahana Joko Widodo yang kian menurun akibat pernyataan kritis yang disampaikan kalangan akademisi, aktivis, maupun politisi oposisi.

"Rezim panik. Mereka sadar elektabilitas mereka terus merosot," kata Bin Firman saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (31/1).

Bukan hanya Rocky, lanjutnya, apa yang dilakukan rezim ini terhadap Ahmad Dhani pun diduga untuk membungkam suara-suara kritis.

Konkretnya adalah dengan menunggu lawan politik salah ucap untuk kemudian "diserang" dengan dalil pembenaran, dalam hal ini penistaan agama, hate space dan lain-lain.

Rocky dilaporkan oleh Sekjen Cyber Indonesia, Jack Boyd Lapian atas dugaan penistaan agama. Dugaan itu didasarkan atas pernyataan Rocky yang mengatakan bahwa "kitab suci adalah fiksi" dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) pada tahun lalu. Meski demikian, Rocky sama sekali tidak menyebut kitab suci agama mana yang dimaksud.

"Kita semakim melihat bentuk nyata dari rezim ini, mereka anti demokrasi. Anti terhadap suara-suara kritis. Penyebab utamanya karena rezim ini telah gagal membawa republik ini ke arah yang lebih baik. Sehingga cara-cara represif seperti inilah cara mereka untuk tetap berkuasa dan memenangkan Pemilu 2019," pungkas Bin Firman. [rmol.co]