Berapa IQ dokter Tompi?









Oleh: Djadjang Nurjaman*

Benarkah pergaulan bisa menyebabkan seseorang menjadi dungu? Pertanyaan serius tapi sedikit aneh ini dalam dua hari terakhir sedang ramai diperbincangkan.

Adalah seorang dokter bernama Teuku Adiftrian atau lebih dikenal sebagai Tompi yang memicu perdebatan tersebut.

Sebagai seorang dokter lulusan Universitas Indonesia (UI) bisa dipastikan dia sangat cerdas.

Dari tahun ke tahun _passing grade_ test masuk ke Fakultas Kedokteran UI, tertinggi di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Mereka yang lolos masuk adalah orang-orang terbaik. Soal IQ tidak perlu diragukan lagi. Mereka adalah orang-orang pilihan. Di atas rata-rata manusia.

Fakta ini mulai dipertanyakan seiring sikap Tompi membully capres Prabowo Subianto. Dalam pidato Kebangsaan Minggu (14/1) Prabowo menyebut banyak dokter yang gajinya kalah dibandingkan tukang parkir.

“Mungkin yg dimaksud Prabowo : gaji dokter lebih rendah dari tukang parkir adalah dokter yang bekerja sebagai asisten tukang parkir,” cuit Tompi dengan sinis.

Sebagai Ahoker dan Jokower, Tompi dikenal sebagai seorang pendukung garis keras ( _die hard_ ). Apapun langkah Prabowo dan pendukungnya dia serang habis. Saat meledak kasus Ratna Sarumpaet dia paling semangat mem-bully.

Cuitan Tompi soal dokter ini menuai bullyan. Sejumlah dokter muda, teman sejawat menyerangnya. Bahkan ada yang sampai memposting SK pengangkatannya sebagai dokter di sebuah Puskesmas di Jawa Tengah. Dalam SK itu gajinya tertera sebesar Rp 2 juta.

Apalagi setelah Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih membenarkan pernyataan Prabowo. Saat ini memang masih banyak dokter umum di berbagai daerah yang mendapatkan penghasilan di bawah Rp 3 juta.

Coba bandingkan dengan penghasilan seorang tukar parkir di Jakarta yang setiap harinya bisa mengantongi paling sedikit Rp 200 ribu.

Serangan terhadap Tompi semakin deras ketika jejak digitalnya ditemukan. Pada 15 September 2018 Tompi memention akun @Jokowi tentang carut marut BPJS. Dia mempersoalkan gaji dokter yang lebih rendah dari tukang cukur.


“Benar ini masalah kemanusiaan. Tapi dokter kan juga manusia,” cuitnya.

Kalau Tompi sempat menyebut gaji dokter lebih rendah dari tukang cukur, mengapa dia mempersoalkan Prabowo yang menyebut gaji dokter lebih kecil dari tukang parkir. Bukankah profesi ini 11-12?

Sikap Tompi inilah yang mengundang orang menjadi penasaran. Apakah pergaulannya dengan para kecebong membuat IQ-nya turun drastis? Gak bisa lagi menjunjung tinggi obyektivitas.

Sebagai seorang dokter, perilakunya ini mengerikan. Penilaian yang salah atas kondisi seorang pasien, bisa membahayakan kesehatan. Bahkan mengakibatkan kematian.

Untungnya Tompi seorang dokter bedah plastik, ahli kecantikan. Kalau salah perlakuan paling banter akibatnya bibir pasiennya jadi jontor, atau hidungnya jadi tidak proporsional.

Kita tidak boleh menyimpulkan terlalu cepat. Apakah kerusakan IQ Tompi sudah sangat akut. Perlu studi lanjutan yang lebih serius.

Sambil menunggu hasil kajian yang komprehensif, kasus Tompi ini bisa didekati dari kajian perilaku.

Di beberapa negara pernah ditemukan seorang manusia yang lama hidup bersama serigala. Perilakunya juga berubah menjadi serigala.Salah satunya yang paling terkenal adalah seorang manusia serigala asal Spanyol bernama Marcos Rodriguez Pantoja.

Barangkali Tompi karena terlalu banyak bergaul , IQ-nya jadi menurun drastis. Sayang sekali. The End [swamedium.com]

*) Penulis adalah Pengamat Media dan Ruang Publik