PSI Sama Dengan PKI dan Gerwani Yang Menolak Poligami







 Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara terbuka pernah menyatakan tidak akan mendukung perda berlandaskan agama, seperti perda syariah dan perda injil. Itupun jika mereka lolos di DPR nanti.

Tidak berhenti disitu, partai baru yang mengaku progresif, tapi tidak menawarkan ide-ide baru kecuali hanya mendukung penguasa ini, baru-baru ini juga menegaskan tidak akan mendukung praktik-praktik poligami.

Sikap PSI yang menolak poligami dinyatakan dalam pidato Grace Natalie, ketua umumnya, saat berbicara di acara Festival 11, di Jatim Expo International Surabaya, Selasa (11/12), malam.

“PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami,” kata Grace.

Aidit PKI Juga Menolak Poligami

Pidato Grace Natalie dari PSI ini kurang lebih sama dengan yang pernah disampaikan Ketua Umum Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit.

“Indonesia belum mencapai kemajuan dan kemakmuran. Negara ini memang tidak akan bisa maju kalau diurus oleh pemimpin yang mempunyai empat atau malahan lima orang istri!” teriak Aidit, mengutip dari artikel Tirto.id.

Ucapan Aidit yang menyinggung soal poligami ini disampaikan dalam rangka ulang tahun organ sayap mahasiswa PKI, Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Padahal saat itu Presiden Sukarno juga hadir dalam acara itu.

Seperti diketahui, Sukarno juga mempraktikkan poligami. Istri Sukarno tercatat ada sembilan.

Gerwani Juga Anti Poligami

Tak hanya PKI dan PSI, ternyata organisasi lawas underbow PKI, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) juga menolak praktik poligami.

Seperti dikutip dari Merdeka.com, sejak awal berdiri Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) memperjuangkan undang-undang perkawinan yang melarang poligami. Bahkan sejak Gerwani masih bernama Gerwis atau Gerakan Wanita Sadar Sedar tahun 1950, mereka sudah memperjuangkan wanita agar tak mau dimadu.

Gerwani pun mengeluarkan aturan tegas. Anggota Gerwani yang mau dipoligami harus dikeluarkan dari organisasi.

Tapi tahun 1960an, saat demokrasi terpimpin, dan Sukarno berada di puncak kekuasaannya, Gerwani menghadapi dilema. Saat itu Sukarno melakukan poligami. Dia menikahi Hartini, Ratna Sari Dewi dan Yurike Singer.

Padahal Gerwani adalah pendukung Sukarno. Tapi diam saja ketika Sukarno melakukan praktik poligami.

Jadi, ide PSI yang menolak perda Syariah dan poligami ini bukanlah hal baru. PSI hanya mengulang kembali yang pernah ditolak oleh Gerwani dan PKI. [zk]  Panjimas.com