Lagi-lagi Megawati ancam 'sembelih' pengurus PDIP jika Ganjar-Yasin kalah di Jateng


Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri akan memecat para pengurus partai jika tak bisa memenangkan pasangan Ganjar Pranowo - Taj Yasin dalam Pilgub Jawa Tengah 2018. Ancaman tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pengarahan pada acara Apel Siaga Pemenangan Ganjar-Yasin di Stadion Manahan, Jumat (15 /5).


Bahkan dengan berkelakar, ia mengancam akan menyembelih para pengurus DPD, DPC, Ranting dan Anak Ranting.

"Saya akan sembelih para pengurus kalau tidak bisa memenangkan pak Ganjar dan Gus Yasin. Baiknya kita apakan, kita pecat saja ya?" ujar Megawati sambil tertawa.

Meski sambil berkelakar, namun Megawati mewanti-wanti agar para pengurus dan kader bersungguh-sungguh memenangkan pilkada Jateng. Ia juga meminta anggota agar melaksanakan disiplin partai dan bekerja ekstra untuk menjaga citra partai.

Selain Megawati, apel siaga juga dihadiri funsionaris partai Puan Maharani, Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo, Ketua DPC PDIP Semarang Hendrar Prihadi, dan sejumlah perwakilan DPC di 35 kota/kabupaten di Jateng, Gubernur Jateng non aktif Ganjar Pranowo, Plt Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko dan Taj Yasin.

Puan Maharani yang bertindak sebagai inspektur upacara menyampaikan bila PDIP akan menghadapi agenda politik penting dalam rangka menentukan arah bangsa. Yakni pilkada serentak 2018 hingga 2019.

"Hal ini adalah upaya kita meraih kekuasaan konstitusional. Untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mengarahkan negara ke arah yang tepat," katanya.

Untuk meraih hal itu bukan perkara yang mudah, pasalnya, dewasa ini banyak sekali cara-cara kampanye yang tak terpuji. Yakni menghalalkan segala cara, hingga hoaks yang dilakukan. Hal itu, menurutnya bisa merusak persatuan bangsa.

"Sebagai partai ideologis, PDIP tak boleh menggunakan cara seperti itu dalam pertarungan di pilkada serentak hingga pilpres mendatang. PDIP adalah partai yang berlandaskan pancasila dan nilai-nilai dan gagasan Bung Karno. Tak boleh menggunakan cara seperti itu," tandasnya. [rnd]

MERDEKA