Halo Pak Jokowi, Masih Ingat Janji Pilpres Ini? "Jokowi Janji Ke Netizen Tak Akan Berangus Kebebasan Berekspresi", Setelah Berkuasa Nyatanya???




Pada saat Pilpres 2014 lalu, Calon Presiden pasangan nomor urut 2, Joko Widodo (Jokowi), "ngobrol" bareng dengan ratusan penggiat dunia maya atau Netizen di Kaskus, Twitter, Facebook, Kompasiana dan JASMEV, di hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Obrolan ini pun saat itu disiarkan oleh stasiun METRO TV yang masih ada rekaman videonya di Youtube.

Di hadapan 1.000-an netizen yang memenuhi acara "Jokowi Ngobrol Bareng Netizen" di Ballroom Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Kamis 26 Juni 2014, calon presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan sikapnya untuk terus menumbuhkan kebebasan berekspresi, tak terkecuali kebebasan berpendapat dan berekspresi di dunia maya. Jokowi tidak akan melakukan tidakan represif kendati para netizen mengkritiknya secara keras.
Diantara cuplikan video ini ada dialog Jokowi dengan seorang penulis blogger politik yang menyuarakan ketakutannya pada pemerintah yang represif dan minta bagaimana tanggapan Jokowi nanti kalau jadi Presiden.

Berikut kutipan dialog (video dibawah):

Blogger (cewek): "Saya sebagai blogger politik sangat takut sama pemerintah yang bisa represif pada blogger-blogger yang berani menyuarakan pendapatnya mengenai pemerintah. Saya ingin tahu bagaimana bapak membuat kita merasa aman kalau bapak nanti menjadi presiden. Dan bagaimana bapak menanggapi para masyarakat netizen yang mengkritisi bapak, karena saya yakin nanti bapak pasti tidak sempurna, nanti banyak kebijakan yang kita tidak setuju tapi kita akan terus mengkritisi bapak, bagaimana bapak menghadapi itu?"

Jokowi: "Kritikan pedas tidak ada masalah. Saya pun juga biasa, saya di masyarakat juga ada yang teriak-teriak seperti itu biasa saja. Apalagi di sosial media gak ada masalah buat saya. Mau ngomong sekasar apapun kepada saya.. gak akan marah saya. Saya akan pakai sebagai koreksi."

Saat itu mendengar tanggapan Jokowi langsung tepuk tangan membahana...

Saat pilpres memang salah satu tema yang jadi sorotan terutama netizen adalah terkait "Kebebasan Berekspresi" dan ketakutan pemimpin yang "Otoriter/Represif".

Saat itu capres Prabowo Subianto yang dari militer dicitrakan sebagai pemimpin yang otoriter, represif, akan mengembalikan ke orba, dll.

Pendukung Jokowi seperti Wanda Hamidah terus memprovokasi publik untuk tidak mendukung capres yang OTORITER...

"Nanti punya media dibredel... baru nyesel
Nanti engga bisa bikin film lagi... baru nyesel
Jgn sampai nanti engga bisa ngeritik lagi... baru nyesel
Gerakan hari ini sekedar mengingatkan.. kita pernah menentang sistim otoriter.." cuit artis pendukung Jokowi, Wanda Hamidah.


KINI SETELAH BERKUASA, APA YANG TERJADI???

SEKARANG... SAAT JOKOWI SUDAH BERKUASA malah terjadi penangkapan terhadap netizen, seperti Jonru, Asma Dewi, dan terbaru seorang ibu-ibu dosen USU ditangkap gara-gara postingan di sosial media terkait peristiwa Teror Bom.


Dulu PDIP tuding SBY pengalihan isu dengan Teror Bom juga gak ditangkap. Itu cuma pendapat yang sah-sah saja di alam demokrasi.

    berpendapat bhw teror untuk mengalihkan isu bisa jd salah klo gak didukung fakta2. Tp kesalahan itu belum tentu kejahatan.

    Jangan anggap semua kesalahan adalah kejahatan sampe seenaknya main tangkap.
    — Kak DuL 🔞 (@dulatips) 21 Mei 2018

    setuju.. hrs dibuktikan dulu klo itu bukan pengalihan isu.. mslhnya siapa yg bs membuktikan itu.. siapa yg dituduh mengalihkan isu.. klo mnrt ane mslh gini cukup dibantah dikolom komentar postingan ybs.. biar ybs mengoreksi postingannya.. hadew.. xixixi
    — baru_gabung (@ba_rugabung) 21 Mei 2018


Perlu bagi Pak Jokowi untuk menonton ulang video di atas, saat dulu "merayu" netizen sehingga mereka kepincut memilih Pemimpin Yang Tidak Otoriter atau Represif.

Atau jangan-jangan yang sekarang Jadi Presiden adalah Prabowo yang otoriter? Dolar juga terpuruk?

Berikut videonya:

[portal-islam.id]