Dunia Islam dalam Belenggu Sekularisme


Pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KSA) telah mencanangkan masa depan Arab Saudi dalam apa yang dinamakan sebagai Visi 2030. Visi 2030 KSA ini akan mengubah wajah Arab Saudi yang moderen tidak kalah dengan negara – negara Barat yang sudah maju.

Untuk mewujudkannya, pemerintah KSA berencana akan membangun sebuah taman hiburan terbesar di dunia yang dimulai pada 25 April 2018. Taman hiburan ini berada di Qiddiya sekitar 40 km dari Riyadh. Luasnya sekitar 334 km persegi lebih besar dibandingkan Walt Disney USA yang luasnya sekitar 134 km persegi.

Taman hiburan akan berisi berbagai macam hiburan, kesenian dan yang lainnya (Kompas.com, 29 April 2018). Bahkan mulai Februari lalu, otoritas hiburan umum KSA akan menyelenggarakan 5000 festival dan konser sepanjang 2018.  Film pertama yang sudah diputar pada bulan April lalu di Bioskop adalah Black Panther. Ke depannya aka nada 40 gedung bioskop yang akan dibangun.

Kebijakan pembangunan taman hiburan tersebut dengan anggaran sebesar 875 trilyun rupiah, merupakan reformasi kebijakan yang digulirkan Pangeran Muhammad bin Salman guna menggairahkan kemajuan ekonomi Saudi yang merosot semenjak turunnya harga minyak Saudi di tahun 2014. Di samping itu kebijakan ini yang diiringi dengan boleh beroperasinya kembali bioskop – bioskop di Saudi yang sudah 35 tahun diberhentikan, akan menarik warga Saudi sendiri ubtuk kembali ke Saudi.

Selama ini anggaran tahunan untuk hiburan warga Saudi ke luar negeri menghabiskan dana lebih dari 400 milyar rupiah. Tentunya bila dana sebesar itu bisa terserap untuk industri hiburan dalam negeri akan berdampak positif bagi kemajuan ekonomi negara. Bahkan ditargetkan industry hiburan Saudi yang mulai menggeliat ini akan mampu menarik warga Teluk guna sekedar mencari hiburan di Saudi. Dengan demikian, akan mampu menarik investor asing guna semakin menggairahkan industri hiburan dalam negeri.

Sesungguhnya memang akan sangat kontras kebijakan KSA ini dalam visi 2030nya, jika kacamata yang dipakai bahwa KSA itu notabenenya sebagai Khodimul Haramain, yakni penjaga 2 kota suci Islam. Mekah dan Madinah, dua kota suci sebagai simbol peradaban Islam. Dari kedua kota suci ini, Islam lahir dan berkembang menyebar hingga ke seluruh dunia. Misi pengembangan dan penyebaran Islam adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya petunjuk Islam. Sementara itu, di dalam bumi Saudi terdapat kandungan minyak bumi yang melimpah. Berkah kandungan minyak bumi yang melimpah ini yang menyebabkan Saudi disebut sebagai Negara Petro dolar. Artinya bahwa Saudi memiliki peran yang strategis dalam menghidupkan kembali peradaban Islam.


Saudi sebenarnya bisa menjadi pelopor dalam pengembangan peradaban Islam yang ditopang dengan kekayaan ekonomi dari hasil tambang minyak buminya. Hanya saja pemandangan KSA nantinya dengan visi 2030 nya menyulap Saudi layaknya Los Angeles dan kota – kota besar di Barat. Saat ini saja beberapa situs sejarah Islam sudah mengalami pembangunan dengan gaya moderen. Tentunya bisa diprediksi bahwa ibadah haji ke depannya dipandang sebagai layaknya ibadah ritual yang tidak ada sumbangsihnya bagi kemajuan sebuah bangsa. Jadi sebenarnya fenomena demikian merupakan bagian dari upaya sekularisasi di dunia Islam. Sedangkan agenda sekularisasi tersebut adalah perang pemikiran yang dilancarkan Barat di dunia Islam.

Barat dalam melancarkan serangan pemikirannya menggunakan strategi melalui para agennya. Adalah seorang agen Inggris yang ikut membidani sekulrisasi dunia Islam yakni Ali Abdurroziq. Di dalam kitabnya yang berjudul al Islam wa Ushulul Hukm, ia menyatakan bahwa pemerintahan itu tidak ada kaitannya dengan agama (islam). Isi kitab ini sejalan dengan tujuan imperialism Inggris di dunia Islam. Inggris ingin melenyapkan pemerintahan Islam yakni Khilafah, dan melenyapkan semua upaya untuk mengembalikannya kembali. Inggris ingin pemerintahan yang akan terbentuk di dunia Islam adalah pemerintahan sekuler. Begitulah mereka sebelumnya. Begitu pula mereka sekarang. Saat ini para agen Amerika juga telah dan sedang menempuh cara yang sama sebagaimana yang mereka tempuh.

Adapun kemajuan fisik dan materi yang dialami dunia Barat saat ini, yang menjadikan dunia Islam silau bahkan tidak terkecuali para intelektualnya, adalah didasarkan pada sebuah pandangan hidup. Pandangan hidup yang membidani bangkitnya dunia barat dari masa kegelapannya adalah sekularisme, yakni memisahkan kehidupan dan pemerintahan dari agama. Sekularisme ini menjadi asas ideologi Barat.
BACA JUGA  Persatuan Umat Kunci Pembebasan Masjid Al-Aqsha dan Palestina

Ideologi barat itu lahir disebabkan adanya ketidakharmonisan hubungan antara kekuasaan dengan agama, dalam hal ini pihak gereja. Pihak gereja menginginkan agar semua pengaturan kehidupan diatur oleh gereja. Sedangkan para pemikir barat waktu itu menginginkan adanya pemisahan total agama dengan kehidupan. Akhirnya didapatkan satu konsensus bahwa agama boleh berperan hanya di wilayah privat seseorang. Agama dikebiri dari wilayah pengaturan urusan publik. Dengan pandangan inilah dunia barat mengembangkan berbagai macam inovasi dalam kehidupannya baik yang berkaitan dengan sains teknologi maupun sosial kemasyarakatan. Dunia Barat mengalami kemajuan luar biasa sejak saat itu. Walhasil, dunia barat bisa mencapai kemajuan dan kejayaannya dengan memisahkan agama dari kehidupannya.

Jika selanjutnya pandangan sekularisme ini mau dipaksakan kepada dunia Islam, tentunya merupakan suatu upaya yang ahistoris. Mari kita simak pengakuan Raja George II, Raja Inggris, Swedia dan Norwegia bahwa ia mengakui keagungan dan kehebatan peradaban Islam masa itu. Ia menulis surat yang ditujukan kepada penguasa Islam di Andalusia. Dalam suratnya, ia berniat untuk mengirim puteri saudara kandungnya, Dubant, supaya bisa menimba ilmu dan keagungan di negeri Andalusia. Secara umum, Raja George II mengharapkan agar keagungan keKhilafahan Islam tersebut juga mampu menjadi motor kemajuan bagi kerajaannya yang masih diliputi keterbelakangan dari berbagai penjuru.

Begitu juga seorang Montgomery Watt dalam bukunya, The Influence of Islam on Medieval Europe (1994), menuliskan bahwa tanpa dukungan peradaban Islam, Barat tidak ada artinya. Jadi sudah jelas bahwa pandangan sekularisme bukanlah yang menjadikan dunia Islam mengalami kemajuan. Dengan memegang teguh Islam, kaum muslimin mengalami kemajuan yang luar biasa dan menjadi pemimpin dunia. Peradaban Islam mengalami kegemilangan dalam kemajuan Sains dan teknologi yang bersinergi harmonis dengan kemajuan khasanah tsaqofah atau pemikiran Islam.

Selama kaum muslimin ini memegang teguh agamanya maka kaum muslimin akan mampu memimpin dunia menuju kemajuan dan keberkahan. Inilah yang seharusnya menjadi visi 2030 bagi KSA, dan bagi dunia Islam secara keseluruhan. Dengan demikian dunia Islam akan terbebas dari belenggu sekularisme.



Penulis: Ainul Mizan, Spd (Pengisi Kajian FUUI Malang)

KIBLAT