Al-Quran Jadi Barang Bukti Terorisme, Fahmi Salim: Ini Overdosis


 Densus 88 menjadikan Al-Quran sebagai barang bukti tindak pidana terorisme di Medan. Menanggapi hal ini, wakil ketua Komisi Dakwah MUI, Ustadz Fahmi Salim menegaskan bahwa hal ini mengesankan yang membawa Al-Quran adalah teroris.

“Ini lucu. Kenapa Al Quran jadi barang bukti. Sehingga timbul kesan bahwa orang yang membawa Al-Quran dilekatkan ciri teroris,” katanya kepada Kiblat.net di Hotel Bidakara, Jakarta pada Jumat (18/05/2018).

“Tolong jangan jadikan Al-Quran barang bukti. Ini overdosis dan tidak pada tempatnya,” sambungnya.

Oleh sebab itu, ia menghimbau kepada aparat agar hati-hati menjadikan Al-Quran sebagai barang bukti. Sebab, bisa mengganggu keberagamaan di Indonesia

“Itu satu hal yang dapat menimbulkan mispersepsi dan menyesatkan. Sangat buruk bagi keberagamaan di Indonesia,” tuturnya.

Menurutnya, polisi seharusnya mengambil barang bukti lain. Tentu, kata dia, yang berkaitan dengan terorisme, bukan Al-Quran.

“Silahkan cari barang bukti yang lain, jangan barang bukti. Barang bukti bisa senjata api, buku-buku yang mengajarkan cara merakit bom,” tukasnya.

KIBLAT.NET