Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Duduki Ruang Paripurna DPRD Sumut


Aksi penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pertalite dan kelangkaan premium terus terjadi di Sumut. Seratusan mahasiswa kembali berunjuk rasa di gedung DPRD Sumut, Senin (9/4).

Dalam unjuk rasa itu, massa sempat menyandera salah seorang anggota Dewan. Mereka menguasai ruang paripurna gedung DPRD Sumut dan melakukan salat berjamaah di sana.

Unjuk rasa dilakukan mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Seluruh Indonesia Koordinator Daerah Sumut (BEM SI Sumut). Dalam orasi dan spanduk yang dibawa, mereka menyatakan menolak kenaikan harga BBM. “Turunkan harga BBM. Kembalikan premium kepada rakyat,” tulisnya dalam spanduk yang dibawa.

“Kami menuntut pemerintah dan Pertamina menurunkan harga pertalite dan mengembalikan premium yang langka, menyalurkannya kembali ke seluruh SPBU di Sumut,” kata Wira Putra, Koordinator BEM SI Sumut.

Selain itu, pendemo juga menuntut pemerintah dan pertamina meminta maaf atas kenaikan harga BBM. Sementara DPRD Sumut dituntut untuk membentuk panitia khusus mengusut dugaan penyelewengan premium di Sumut.

Dalam aksinya, mahasiswa sempat menyandera 2 anggota DPRD Sumut, Aripay Tambunan (PAN) dan Muchrid Nasution (Golkar). Aksi penyanderaan terjadi saat keduanya menerima aspirasi para pengunjuk rasa.

Saat keduanya berada di mobil komando, para pengunjuk rasa justru membuat pagar betis. Mereka mengelilingi mobil komando dan tidak mengizinkan keduanya meninggalkan lokasi.

“Mereka tidak boleh turun sebelum harga BBM turun,” teriak pengunjuk rasa.

Aripay Tambunan menyatakan, kenaikan harga BBM merupakan kebijakan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan. Mereka tidak akan mendapat solusi meskipun memanggil pihak Pertamina di Sumut.

“Makanya salah satu yang harus kita pastikan adalah agar premium tidak langka,” ujarnya.


Akhirnya terjadi negosiasi. Aripay menawarkan perwakilan mahasiswa untuk masuk ke aula. Namun, pendemo memaksa agar mereka seluruhnya dibenarkan masuk.

Anggota Dewan mengalah. Seluruh pendemo dibenarkan masuk ke aula untuk menyampaikan aspirasinya. Namun, mahasiswa kemudian masuk ke ruang paripurna dan menguasainya.

Di dalam ruang itu, spanduk dibentangkan di meja pimpinan Dewan. Mereka pun salat berjamaah di sana.

Usai salat mahasiswa kembali menggelar orasi. Selanjutnya mereka seakan-akan sedang menggelar rapat paripurna di sana.

Aksi di dalam gedung Dewan itu berlangsung sekitar 1 jam. Para pengunjuk rasa ini kemudian diajak bertemu dengan Komisi B DPRD Sumut di aula untuk menyampaikan aspirasinya. Selanjutnya mereka membubarkan diri. (*/ls)

Sumber: Merdeka