Terburu-burukah Nahdlatul Wathan Dukung Jokowi?







Oleh: Chusnatul Jannah*

Jakarta, Swamedium.com – Nahdlatul Wathan sebagai ormas terbesar di provinsi NTB nampaknya tak mau ketinggalan dalam kontestasi di tahun politik. Terlihat dukungan mereka untuk memenangkan Jokowi pada pilpres 2019. Hal ini bermula tatkala Jokowi bersilaturahmi ke salah satu pondok pesantren terbesar di NTB, Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan Anjani yang berada di Kecamatan Suralaya, Kabupaten Lombok Timur. Dukungan itu diungkapkan oleh calon Wakil Gubernur NTB yang maju melalui jalur independen, TGH Lalu Gede Sakti. “Dari dulu sampai sekarang, warga NW Lombok tetap mendukung dan memilih Jokowi,” ujar Lalu Gede Sakti di hadapan jemaahnya, Senin 2 April 2018.

Cucu tertua Pendiri ormas NW ini mengatakan, banyak faktor yang membuat warga NW mendukung Jokowi. Di antaranya adalah karena Jokowi satu-satunya Presiden yang menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada Maulana Syaikh TGH Zainuddin Abdul Majid, Pendiri Ormas NW. Beliau juga mengungkapkan Jokowi adalah presiden sederhana, peduli, dan melakukan pemerataan pembangunan di seluruh nusantara.

Ada yang menarik dari dukungan tersebut. Pasalnya, ungkapan itu sejatinya tidaklah mewakili jamaah NW secara keseluruhan. Dalam sejarahnya, NW sejak didirikan oleh Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid sudah mengalami beberapa kali konflik internal dalam organisasinya. Perpecahan yang paling menonjol selama kepemimpinan Syaikh Zainuddin Abdul Majid terjadi pada tahun 1977 dan 1982.

Hingga saat ini, perpecahan itu masih berlangsung. Ditandai dengan NW yang terbelah menjadi dua kubu. NW Anjani untuk wilayah Lombok Timur yang dipimpin oleh putri Syaikh Zainuddin Majdi Ummi Hj Raehanun Zainuddin Abdul Majid. NW Pancor dipimpin oleh putri Syaikh yang lain yaitu, Ummi Hj, Rauhun Zainuddin Abdul Majid yang tidak lain adalah Ibu dari Gubernur NTB saat ini, TGB M Zainul Majdi.

Sejak TGB menjabat sebagai gubernur NTB, tanda penyatuan NW yang terpisah semakin menunjukkan arah yang positif. Namun, sejak kekalahan TGH Lalu Gede Sakti, putra Hj Raihanun sebagai calon bupati Lombok Tengah yang didukung NW Anjani dan Pancor, hubungan antar dua kubu tersebut kembali meregang.

Kubu NW Anjani dan Pancor kerap kali berseberangan dalam sikap politiknya. Sebagai konsekuensi perpecahan dua kubu, sikap politik yang diambil tergantung kepentingan masing-masing. Seringkali kebijakan organisasi antara kedua kubu saling berbenturan. Pada pemilu 1999, kubu Anjani berafiliasi ke partai Golkar pimpinan Akbar Tanjung kala itu, sedang kubu Pancor berafiliasi ke Partai Partai Daulat Rakyat (PDR) pimpinan Adi Sasono. Keputusan politik berseberangan juga terjadi pada pemilu 2004. Kubu Pancor berafiliasi ke Partai Bulan Bintang (PBB), sedangkan kubu Anjani berafiliasi ke Partai Bintang Reformasi (PBR).

Tahun 2008 menjadi tahun politik bagi kedua kubu ini. Baik kubu Anjani maupun Pancor sama-sama bersaing dalam kontestasi pilkada di NTB untuk posisi gubernur NTB dan bupati Lombok Timur. Keduanya memenangkan dalam pilkada tersebut. Terpilihlah TGB M Zainul Majdi (pemimpin NW Pancor) sebagai gubernur NTB hingga dua periode dan Sukiman Azami yang berpasangan dengan Samsul Lutfi (pengurus NW Pancor) sebagai bupati dan wakil bupati Lombok Timur. Hal ini membuktikan bahwa kedua kubu NW bersatu tatkala memiliki kepentingan politik yang sama untuk saling mendukung dalam agenda pilkada.

Kemenangan dalam pemilu 2008 menjadi hal yang menarik perhatian publik. Pasalnya, di tengah persaingan itu kader mereka sama-sama menduduki jabatan penting di provinsi NTB. Yang tak kalah menarik, kubu Anjani sebenarnya tak mendukung calon gubernur dari NW Pancor, justru mereka mendukung calon dari luar NW Pancor.


Melihat dukungan NW Anjani kepada Jokowi untuk pilpres periode kedua, sedang NW Pancor belum menentukan sikap politiknya, akankah persaingan keduanya semakin meruncing? Terlebih, TGB M Zainul Majdi digadang-gadang masuk dalam bursa capres ataupun cawapres. Mungkinkah semakin memanaskan situasi yang sudah ‘panas’ dalam konflik internal mereka? Dinamika politik selalu berubah. Tak ada harga mati. Tergantung kepentingan apa dan siapa yang ingin diraih setiap ormas, parpol atau elit politik. Tak ada kawan ataupun lawan abadi. Dalam politik demokrasi senantiasa dilingkupi intrik kepentingan masing-masing elit, ormas, maupun parpol. Dukungan pun bisa berubah haluan, dari yang keukeuh mendukung Jokowi bisa beralih menjadi rival Jokowi, pun sebaliknya. Itulah politik ala demokrasi. (*/ls)

*Penulis adalah Pengamat Lingkar Studi Perempuan Peradaban