Proyek Tol Padang Pariaman-Pekanbaru Mandek


Ground breaking pembangunan jalan Tol Padang Pariaman-Pekanbaru telah dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 9 Februari lalu. Namun hingga kini, pengerjaan jalur tol sepanjang 244 kilometer itu belum dilanjutkan. Proses pembebasan lahan menjadi faktor pengganjalnya.

"Soal pembebasan lahan itu tergantung BPN (Badan Pertanahan Nasional) dan Pemkab Padang Pariaman," kata Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Nasrul Abit ketika dikonfirmasi, Senin (8/4).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar sendiri siap bekerja maksimal untuk menyelesaikan apa saja yang menjadi kendala dalam proyek. "Kami masih menunggu apa saja yang harus dikerjakan provinsi. Kami siap mendorong bersama-sama. Apalagi kami dikejar waktu," terangnya.

Meski begitu, Nasrul menegaskan bahwa tahun ini pengerjaan jalan tol tersebut akan tetap dilakukan. Sebab pembangunan jalan Tol Padang Pariaman-Pekanbaru menjadi proyek strategis nasional.

Terkait soal pembebasan lahan, JawaPos.com mencoba menghubungi Kepala BPN Sumbar Musriadi. Namun hingga berita ini diturunkan, pihak BPN belum memberikan jawaban.

Untuk diketahui, proyek tol pertama di Sumbar ini sebetulnya sudah mulai digiatkan pada 2017 lalu. Saat itu Menteri BUMN Rini Soemarno berkunjung ke Sumbar. Namun pengerjaannya terpaksa dihentikan lantaran adalah masalah lahan dan perubahan trase.

Setelah itu tepatnya 9 Februari 2018, Presiden Joko Widodo melakukan ground breaking jalan Tol Padang Pariaman-Pekanbaru. Tapi sejak kedatangan Presiden itu, pengerjaan jalan tol belum juga dilakukan.

Pembangunan jalan Tol Padang-Pekanbaru akan dilakukan dalam tiga tahap hingga 2023 mendatang. Tahap I menghubungkan Padang-Sicincin sepanjang 28 kilometer. Tahap II menghubungkan Bangkinang-Pekanbaru sepanjang 38 kilometer. Lalu tahap III menghubungkan Sicincin-Bangkinan sepanjang 189 kilometer.

Proyek tol ini akan melibatkan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA). Termasuk soal pembiayaannya. Pembangunan jalan tol juga mengalami sedikit perubahan dengan ditambahnya terowongan untuk memangkas jarak.

Kementerian PUPR menyebutkan, sekitar 30 kilometer jalan tol termasuk terowongan akan menekan pinjaman JICA hingga Rp 9,5 triliun. Sementara total kebutuhan dana untuk menyelesaikan jalan Tol Padang Pariaman-Pekanbaru adalah Rp 78,09 triliun.

(rcc/JPC)