Pengamat Komunikasi Politik Ini Mengatakan, Puisi Sukmawati Sarat Makna


Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing menilai, puisi yang dikemukakan Sukmawati Soekarnoputri yang berjudul 'Ibu Indonesia' telah menimbulkan polemik multimakna di ruang publik meski bermuatan SARA.

Menurutnya, hal itu adalah bukti bahwa puisi tersebut sarat makna, tergantung kerangka referensi yang digunakan dan kerangka pengalaman serta posisi sosial atau politik dari setiap orang terkait dengan pemaknaan simbol dan kalimat yang merangkai puisi tersebut.


"Sebab, dari perspektif kualitatif, khususnya paradigma konstruktivis, setiap individu memiliki kehendak bebas memberikan pemaknaan terhadap simbol yang diterima, termasuk isi puisi tersebut," kata Emrus Sihombing, Selasa (3/4/2018).

Dari aspek komunikasi, lambang atau pesan komunikasi tidak bermakna, tetapi manusialah yang memberikan makna terhadap lambang dan pesan komunikasi tersebut.

Kata dia, perbedaan makna yang tersimpan di peta kognisi setiap individu akan menimbulkan perilaku yang unik antara satu dengan yang lainnya.

Interaksi perilaku yang unik antara setiap individu bisa bertujuan mengkonstruksi realitas sosial maupun politik tertentu di tengah masyarakat atau suatu negara.

"Oleh karena itu, tidak heran setiap perilaku komunikasi sarat nilai, kepentingan, kontekstual dan pasti subyektif," imbuhnya.

Emrus Sihombing melihat perlu ada solusi bijak dan produktif mempertemukan perbedaan makna atau pandangan dengan membuka ruang dialog antara berbagai pihak atau pemangku kepentingan.

Tujuannya, untuk mempertemukan berbagai makna tersurat dan tersirat pada keseluruhan isi puisi tersebut yang sudah tersimpan di peta kognisi masing-mading individu dalam suatu masyarakat atau negara.


Bisa saja pertemuan tersebut dimediasi oleh organisasi keagamaan atau partai politik, atau tokoh masyarakat yang kredibel yang diterima semua golongan. Pertemuan tersebut, untuk menyelesaikan perbedaan wacana semacam ini, jauh lebih produktif dan permanen daripada melalui proses hukum," katanya.

Dengan perjumpaan irisan antar makna satu dengan lain, dapat menumbuhkan proses kedewasaan komunikasi di Indonesia, sehingga tidak terjadi polemik yang berpotensi menimbulkan gesekan sosial antar berbagai kepentingan ke depan.

Baca: Pengalaman Investor Pasar Modal Jalani Terapi Cuci Otak Dokter Terawan Agus Putranto.


Baca: ALFI: Penerapan Ganjil-Genap Nggak Banyak Ngaruh ke Pebisnis Logistik

Sebelumnya, Puisi Sukmawati Soekarnoputri berjudul 'Ibu Indonesia' di acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, berbuntut panjang.

Bait puisi yang dibacakan putri Proklamator RI Soekarno itu menyinggung-nyinggung syariat Islam, seperti azan dan cadar. Inilah isi lengkap puisi Sukmawati yang sudah dilaporkan sejumlah pihak ke polisi:

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.


tribunnews