Melecehkan Syariat, Tanda Hilangnya Pengagungan Allah dari dalam Hati


 Dalam puisi kontroversialnya, Sukmawati membandingkan syariat cadar dan azan dengan budaya Indonesia. lebih jauh dia mengatakan bahwa dirinya tidak paham syariat. Putri Soekarno tersebut mengunggul-unggulkan konde dan kidung ibu Indonesia ketimbang cadar dan lantunan azan. Sontak puisi tersebut menuai protes dari umat Islam.

Jika kita melihat lebih jauh, apa yang dilakukan oleh putri Soekarno tersebut berasal dari nihilnya “iman” dalam dirinya tentang pengagungan terhadap syariat. Karena orang yang mengagungkan syariat tidak mungkin berani lancang seperti itu menodai syariat Islam Miris lagi ketika mengingat dia mengaku beragama Islam.

Sebagai muslim seharusnya memiliki pengagungan terhadap perintah dan ketetapan Allah yang terwujud di dalam syariat dan wahyu. Sikap ideal seorang mukmin terhadap syariat Allah sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidak selayaknya bagi mukmin laki-laki maupun mukmin perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu perintah, (tidak selayaknya) mereka memiliki pilihan dari urusan mereka.” (QS Al-Ahzab: 36)

Antara Melecehkan Syariat dan Keimanan

Orang yang dengan seenaknya menghina syariat Allah, bahkan membandingkan syariat Allah dengan selainnya, pada dasarnya dia telah kehilangan satu hal besar dalam dirinya, jika dia seorang mukmin. Dia telah kehilangan pengagungan kepada Allah. Padahal pengagungan terhadap Allah yang suci nama-nama-Nya, mulia sifat-sifat-Nya adalah konsekuensi kalimat syahadat.

Pengagungan terhadap Allah adalah inti keimanan, landasan ibadah, dan poin dari setiap keutamaan. Ta’dzimullah (mengagungkan Allah) adalah muara dari semua amalan-amalan hati, baik kecintaan, rasa takut, pengharapan, tawakal, khusyuk dan lain sebagainya.

Atas dasar mengagungkan Allahlah diciptakannya langit dan bumi beserta isinya. Allah ‘azza wajalla berfirman,

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Bertasbih epada-NYa (ALLah) langit tujuh lapis dan bumi beserta yang ada di dalamya. Dan tidaklah ada sesuatu melainkan bertasbih dengan memuji kepada-Nya. Akan tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Pengampun.” (QS Al-Isra’: 44)

Dan tidaklah kesyirikan dan kesesatan terjadi pada umat manusia melainkan karena mengabaikan hak-hak Allah dalam hal pengagungan terhadap diri-Nya.

Ibnu Qayyim berkata,

“Sesunguhnya istiqomahnya hati dapat terwujud dengan mengagungkan perintah dan larangan (Allah). Sedangkan mengagungkan perintah dan larangan itu bersumber dari pengagungan terhadap Dzat yang memerintah dan melarang. Sesungguhnya Allah mencela siapa yang tidak mengagungkannya dan tidak mengagungkan perintah dan larangan Allah. Allah ‘azza wajalla berfirman, “Kenapa kalian tidak melakukan penghormatan kepada Allah.” (QS. Nuh: 13) https://tafsirq.com/71-nuh/ayat-13 dalam menafsirkan ayat di atas para ulama berkata, “Kenapa kalian tidak takut akan keagungan Allah?” (Al-Wabilush Shayyib, hal 15)

Lihatlah bagaimana Ibnu Taimiyah mengaitkan antara ta’dzimullah dengan pengesaan Allah ‘azza wajalla:

“Barangsiapa yang mengakui keesaan Allah dalam hal ibadah (uluhiyah) dan Allah menurunkan risalah kepada hamba dan Rasul-Nya, kemudian orang tadi dengan keyakinan tadi dia tidak menyertakan pengagungan dan penghormatan (kepada Allah), yang seharusnya bersemayam di hati kemudian memunculkan efeknya pada amal perbuatan, bahkan mencampuri (keyakinan mengesakan Allah) dengan menganggap remeh, menganggap bodoh dan mencela baik dengan perkataan dan perbuatan, maka keyakinan (yang diakuinya) sama sekali tidak berguna. Bahkan hal itu memiliki konsekuensi akan rusaknya keyakinan itu, menghapuskan segala manfaat dan kebaikan yang ada pada keyakinan itu. karena pada dasarnya keyakinan iman itu menyucikan jiwa dan memperbaikinya, selama keimanan (yang diakui) tadi tidak menyucikan hati dan memperbaikinya, maka tanda keimanan itu tidak menghunjam di dalam hati.” (Ash-Sharimul Maslul, 1/375)


Dengan tegas Ibnu Taimiyah menafikan keimanan mereka yang mengakui keesaan Allah namun melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap Allah (atau syariatnya). Karena keimanan kepada Allah menghasilkan pengagungan dan  penghormatan paripurna kepada Allah, dan hamba yang mengagungkan Allah secara paripurna tidak mungkin menghinakan syariat Allah. Karena syariat adalah sarana kita menghamba dan mengagungkan-Nya.

Pengagungan terhadap syariat Allah, adalah turunan dari pengagungan Allah ‘azza wajalla. Allah ‘azza wajalla berfirman,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ عِندَ رَبِّهِ

“Dan yang demikian itu, barangsiapa yang mengaungkan hurumat Allah maka itu baik baginya di sisi Rabb-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata,

“Mengagungkan hurumat Allah adalah hal yang dicintai Allah dan bentuk taqarrub kepada-Nya, siapa yang mengagungkannya an menghormatinya maka Allah akan berikan balasan yang berlimpah dan balasan tersbut baik bagi diin, dunia dan akhiratnya di sisi rabb-nya.” (Karimur Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, as-Sa’di, 628)

Apa yang dimaksud hurumat Allah? Yaitu segala sesuatu yang memiliki kehormatan dan kita diperitahkan untuk ibadah atau selainnya, seperti rangkaian ibadah haji, tanah haram, ihram, sembelihan dan ibadah-ibadah yang Allah perintahkan.” (Karimur Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, as-Sa’di, 510)

Potret Para Salaf dalam Mengagungkan Syariat Allah

Ta’zhim terhadap wahyu yang tertulis dalam sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dicontohkan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

قال أبو بكر الصديق رضي الله عنه: «لست تاركًا شيئًا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعمل به، إلا عملت به، وإني لأخشى إن تركت شيئًا من أمره أن أزيغ».
علَّق ابن بطة على هذا بقوله: هذا يا أخواني الصدِّيق الأكبر يتخوَّف على نفسه من الزيغ إن هو خالف شيئًا من أمر نبيه صلى الله عليه وسلم، فماذا عسى أن يكون من زمان أضحى أهله يستهزئون بنبيهم وبأوامره، ويتباهون بمخالفته ويسخرون بسنته؟! نسأل الله عصمة من الزلل، ونجاة من سوء العمل

Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata,

“Saya tidak meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan saya juga mengerjakannya. Saya takut jika saya meninggalkan perintah Rasul, maka saya akan tersesat.”

Kemudian Ibnu Baththah mengomentari perkataan Abu Bakar Ash-Shiddiq di atas dengan berkata, “Wahai saudaraku, inilah Ash-Shiddiq, dia khawatir kesesatan menimpa dirinya jika dia menyelisihi perintah Nabinya. Maka bagaimana dengan sebuah zaman yang masyarakatnya, mencela nabi dan perintahnya, bahkan berbangga ketika menyelisihi Nabi dan menghina sunah Nabi. Kita berdoa kepada Allah dari kesesatan dan agar diselamatkan dari amal yang buruk.” (Al-Ibanah, 1/246)

Jauh sebelum Abu Bakar, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga telah memberi teladan kepada kita semua dalam hal mengagungkan Allah. Pengagungan Ibrahim kepada Allah terwujud dalam “taat tanpa tapi” dan “patuh tanpa syarat” ketika Allah ‘azza wajalla memerintahkannya untuk menyemblih anaknya Ismail.

Sementara potret yang berbeda 180 derajat disebutkan dalam al-Quran tentang Bani Israil. Setelah sekian banyak nikmat dan karunia yang Allah tampakkan kepada mereka, namun ketika Allah memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi, mereka mempertanyakan dulu perintah tersebut.


Secara logika, tentunya perintah menyembelih sapi lebih logis dari perintah menyembelih anak. Akan tetapi karena nihilnya sikap pengagungan kepada Allah dalam diri mereka sehingga mereka menunda-nunda perintah Allah yang akhirnya justru memberatkan mereka.

Pengagungan terhadap Allah ‘azza wajalla yang terwujud pada pengagungan terhadap wahyu juga terpancar dari potret hidup para sahabat.

Suatu ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sandal beliau ketika shalat. Sontak para sahabat melepas sandal mereka. Setelah selesai shalat Rasul bertanya kepada para sahabat,

“Kenapa kalian melepas sandal kalian?”

Para sahabat menjawab, “Kami melihat engkau melepas sendalmu wahai Rasulullah.”

Rasul berkata, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan memberi tahu bahwa di kedua sendalku ada kotoran.” (HR. Ahmad)

Inilah kehati-hatian para sahabat, mereka khawatir jika melewatkan apapun yang dicontohkan Allah sehingga membuat Allah marah kepada mereka. Semacam inilah gambaran sikap takzim mereka terhadap perintah Allah dan rasul-Nya.

Tidak hanya pada para sahabat, pengagungan Allah ‘azza wajalla juga tergambar jelas pada generasi sesudahnya. Inilah Umar bin Abdul Azis, beliau berkata:

لا رأي لأحد مع سُنة سنَّها رسول الله صلى الله عليه وسلم

“Tidak boleh (mendahulukan) pendapat melebihi sunnah yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (I’lamul Muwaqqi’in, 2/252)

Imam asy-Syafi’i berkata:

أجمع المسلمون على أنَّ من استبان له سُنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يحلّ له أن يدعها لقول أحد

“Ulama berijmak bahwa barangsiapa yang sudah jelas baginya hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan hadits dan mengikuti perkataan orang lain. (I’lamul Muwaqqi’in, 2/282)

Imam Adz-Dzahabi memiliki perkataan menarik tentang orang-orang yang menganggap rendah dan meninggalkan al-Quran dan as-Sunnah, beliau berkata:

وإذا رأيت المتكلِّم المبتدع يقول «دعنا من الكتاب والأحاديث الآحاد وهات العقل» فاعلم أنه أبو جهل، وإذا رأيت السالك التوحيدي يقول «دعنا من النقل ومن العقل وهات الذوق والوجد» فاعلم أنه إبليس قد ظهر بصورة بشر أو قد حلَّ فيه، فإن جبنت منه فاهرب، وإلاَّ فاصرعه، وابرك على صدره، واقرأ عليه آية الكرسي واخنقه

“Jika kamu melihat ahlul kalam pelaku bid’ah berkata, ‘Kita tinggalkan al-Quran dan Hadits-hadits ahad, mari kita merujuk kepada akal’, maka dia adalah Abu Jahal. Jika engkau melihat Sufi berkata berkata, ‘Kita tinggalkan dulu wahyu dan akal, mari kita gunakan perasaan’, maka dia adalah Iblis dalam wujud manusia atau orang itu sudah kemasukan Iblis. Jika engkau takut, maka larilah darinya, tapi jika berani gulatlah dengan dia, duduk di atas dadanya dan bacakan kepadanya ayat kursi dan cekiklah dia.” (Siyar A’lamin Nubala’, 4/472)

Beginilah sikap para salaf dan ulama, pengagungan Allah mengisi semua relung hati mereka. Pengagungan tersebut berbuah kepada sikap hormat dan tunduk terhadap wahyu. Ketaatan paripurna yang tercermin dalam sikap sami’na wa atha’na, seolah tidak memberikan celah kepada setan dan hawa nafsu untuk bermain di dalam diri mereka.

Jika kondisi ini memenuhi relung hati setiap mukmin, niscaya mereka akan jauh dari sikap-sikap yang merendahkan syariat Allah. Wallahu a’lam