IDI Ungkap Pelanggaran Berat di Balik Rekomendasi Pemecatan dr Terawan


Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menjatuhkan sanksi kepada Dr dr Terawan Agus Putranto, SpRad berupa pemecatan sementara. MKEK hanya menyebut ada pelanggaran etik serius, tanpa menyebut lebih jelas pelanggaran yang dimaksud.

Akhirnya, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengungkapkannya. Disebut oleh Ketua Umum PB IDI Prof Ilham Oetama Marsis,SpOG, ada dua pasal yang dikatakan MKEK dilanggar oleh dr Terawan, yaitu pasal 4 dan 6 Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).

Pasal 4
Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri .

Pasal 6
Setiap dokter wajib senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan atau menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.



"Kalau bidang etik yang kita harus nilai apakah yang dilakukan tidak bersifat untuk mengiklankan dirinya sendiri, itu terkait dengan pasal 6. Yang kemudian tidak boleh membanggakan apa yang dilakukan lalu tidak sesuai dengan etika, itu melanggar pasal 4," jelas Prof Marsis usai konferensi pers di Sekretariat PB IDI, Jl Sam Ratulangi, Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018).

"Tetapi yang menjadi masalah, apa betul dia melanggar?" lanjutnya.

Prof Marsis mengatakan bahwa masih akan menganalisis pelanggaran-pelanggaran yang disebut dilakukan oleh dr Terawan dan mengumpulkan bukti-bukti yang ada.

Juga menyerahkan pada Tim Health Technology Assessment (HTA) Kementerian Kesehatan untuk menganalisis metode penelitian yang sudah diterapkan dr Terawan pada pasiennya, atau yang biasa dikenal dengan terapi cuci otak.

"Yang terpenting masyarakat, kalau seandainya yang dilakukan dr Terawan itu sudah memenuhi standar-standar yang berlaku, tentunya beliau tidak salah. Nah itu yang kita kumpulkan bukti-bukti dan kita tunda (pemecatan)," jelasnya.