Apa Maksud Jenderal Luhut?


Manuver Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan jelang Pilpres 2019 menarik perhatian banyak pihak. Cukup mengejutkan Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan menemui kompetitor Jokowi, Prabowo Subianto. Apa sebenarnya maksud dan tujuannya?

"Patut diduga Luhut sedang mengupayakan agar Prabowo mendukung Jokowi jadi di Pilpres 2019 nanti hanya ada satu calon lawan kotak kosong," kata pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri W Satrio, kepada wartawan, Senin (9/4/2018).

Kalau tujuannya itu, kenapa usai pertemuan Luhut justru mengungkap dirinya mendukung Prabowo maju ke Pilpres 2019? Menurut Hendri, jawabannya sederhana, bisa jadi Prabowo dianggap lawan termudah buat Jokowi.

"Begitu Prabowo nggak mau ya didukung agar maju saja. Kan lebih baik Prabowo yang maju capres, lebih gampang dibandingkan yang lain," kata Hendri.

Menurut Hendri, banyak sinyal Jokowi tak percaya diri menghadapi Pilpres 2019. "Karena elektabilitas Jokowi turun terus," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKopi ini.

Pertemuan Luhut dengan Prabowo dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Jumat (6/4) lalu. Dalam pertemuan itu Luhut mengaku mendorong Prabowo nyapres. Cukup unik karena Luhut sudah jelas berada di barisan pendukung Jokowi dua periode, karenanya banyak yang menyebut pergerakan Luhut itu atas arahan Jokowi, meski langsung dibantah.

"Saya tuh dengan Pak Prabowo sering bertemu, kok kalian ribut, itu saja saya ketemu teman masa nggak boleh. Masak ketemu gitu saja mesti utusan Presiden?" ujar Luhut usai menghadiri acara Golkar di Hotel Red Top, Pecenongan, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4).

Dalam pertemuan itu, Luhut mendorong Prabowo nyapres di 2019. Lantas apa jawaban Prabowo? Ternyata Prabowo belum memberikan jawaban yang clear juga. "Ya seperti yang beliau sampaikan di publik kan jelas. Beliau masih menghitung dengan cermat kapan mau melakukan deklarasi. Biar saja, beliau kalau beliau mau maju ya bagus," kata Luhut.


Hal yang juga menarik adalah manuver Luhut membandingkan elektabilitas SBY dan Jokowi jelang pertarungan menuju periode kedua. Ia menyebut posisi Jokowi lebih kuat dari SBY.

"Elektabilitas Presiden Joko Widodo untuk 2019 kita lihat juga sangat baik. Kalau orang mengatakan perbandingan elektabilitas SBY 2007-2008 dan Jokowi 2017, simulasi 2 kandidat, kadang lembaga survei suka nakal dibikin 3 atau 10 ya nggak ketemu. Kita bikin 2 ya posisinya Presiden Joko Widodo 64 persen, pada waktu yang lalu presiden SBY 50 persen, artinya presiden Joko Widodo leading," kata Luhut di Kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Minggu (8/4/2018).

"Kalau kita ambil sampling, elektabilitas Presiden Joko Widodo sangat tinggi di Jawa Timur, 73,7 persen," sambungnya.

Statemen ini cukup menarik, apalagi beberapa waktu lalu PDIP seolah ingin memisahkan kedekatan Jokowi dan SBY yang makin mesra jelang Pilpres 2019. Lantas apakah sebenarya goal manuver-manuver politik mengejutkan Jenderal Luhut jelang Pilpres 2019?
(van/tor)


detik