Selain Ahok, Dua Presiden Ini Gagal Gusur Kampung Luar Batang Batang. Kok Bisa Yah???


Siapa yang tak mengenal Kampung Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara. Pada kepemimpinan Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Kampung Luar Batang disoroti seluruh Indonesia. Bahkan, warga dari luar kota berbondong-bondong datang untuk membantu mempertahankan kampung yang hampir tergusur itu.

Oleh: Evi Ariska

Kala itu Ahok hendak melakukan penertiban dengan mengerahkan seluruh aparat kepolisian berserta TNI. Pasalnya, mantan Bupati Belitung Timur itu mengklaim tanah tersebut merupakan tanah negara. Namun, penertiban itu mendapatkan perlawanan dari warga Luar Batang hingga akhirnya kampung yang terkenal dengan Masjid Jami Luar Batang itu tak jadi digusur dan bertahan sampai sekarang.

Tokoh masyarakat Luar Batang, Mansyur Amin mengatakan, Kampung Luar Batang merupakan salah satu kampung multi etnis dan suku. Pasalnya, pada abad ke-12, pelabuhan Sunda Kelapa adalah satu-satunya pelabuhan internasional yang didatangi para pedagang dari seluruh negara.

"Abad ke 4 dan 5 pelabuhan ini banyak didatangi orang-orang, pelabuhan nasional, terus sampai ke abad 12 pelabuhan ini menjadi internasional, bukan hanya pedang nusantara, tapi luar nusantara seperti Arab, India, Eropa, Pakistan dan masih banyak lagi," kata Mansyur kepada Jawapos.com, Sabtu (10/3).

Daeng Mansyur sapaan akrabnya menerangkan sampai sekarang pun masih tersisa jejak budaya perdagangan dari seluruh penjuru negara itu. Sejak abad ke-12, banyak terjadi pernikahan silang antara etnis dan menetap di Kampung Luar Batang.

"Kami punya bukti jejak sejarah, dari saya kecil sampai sekarang ini sebagian besar masih tersisa, disaat saya kecil disini ada orang bule yang bertahan sampai sekarang, Cina masih ada, Pakistan, India sudah pindah. Zaman dulu disini banyak anak muda ganteng, ternyata dia indo, karena disini ada pernikahan silang bukan hanya antar suku nusantara, tapi dengan bule, Arab, Cina, India, Pakistan," ungkapnya.

Dia mengungkapkan, penggusuran Kampung Luar Batang sudah ada sejak zaman Belanda. Bahkan, pada era kepemimpinan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, kampung ini dicoba untuk dihilangkan. Namun tak ada satu pun yang menggusur seperti kepemimpinan Ahok hingga membekas diingatan warga.

"Belanda saja cuma niat menggusur namum gagal, Soekarno pun pernah, tapi hanya sebatas rencana, zaman Pak Harto pun ada tapi enggak terblow up baru sebatas kajian. Saya selalu bilang bahwa Gubenur Jendral Hindia Belanda lebih baik dari Ahok. Kalau Ahok kemarin itu kan kita kaya menghadapi penjajah dan dia juga memecah belah persaudaraan sesama anak bangsa menginjak pancasila, membenturkan rakyat dengan polisi, satpol pp dan tentara," ucap dia.

Lanjut ditambahkannya, saat itu Ahok menunding bahwa tanah Luar Batang merupakan milik negara. Padahal, kata dia, hampir 60 persen warga memiliki bukti sertifikat tanah. Oleh sebab itu, mereka menentang penggusuran tersebut.

"Kalau Ahok waktu itu menurun kan polisi atau tentara, ini akan terjadi pertumpahan darah, karena anak kecil umur 6 tahun aja itu sudah menyiapkan diri menyiapkan tombak, ketapel, artinya pada waktu itu warga luar batang siap mempertahankan haknya kalau penggusuran secara paksa," ujar Mansyur.

Meski demikian, Mansyur mengucapkan rasa syukur karena Kampung Luar Batang tak jadi gusur. Semua itu, kata Mansyur, dikarenakan banyaknya dukungan dari seluruh penjuru Indonesia, para pejabat, tokoh-tokoh politik, ulama, ormas dan organisasi.

"Alhamdulillah sekarang selamat dari penggusuran, semuanya faktor bantuan Allah. Di saat penggusuran itu nyaris seluruh Indonesia datang, mereka bilang dari Sulawesi, Aceh, Kalimantan, Maluku, Palembang, hampir semua mereka bantu warga Luar Batang. Dahsyatnya yang saya rasakan support yang kami terima dalam melakukan perlawanan Gubenur yang kami bilang sangat dzolim," pungkasnya.


Tak hanya Mansyur, salah satu warga Luar Batang, Nani, 46, juga mengaku trauma jika mengingat saat-saat penggusuran tersebut. Pasalnya, wanita paru baya ini tidak mempunyai sertifikat rumah karena telah hilang entah kemana.

"Saya takut banget waktu itu, mau tinggal dimana lagi, cuma ini harta berharga saya. Semua orang sini tau ini tanah saya walaupun saya enggak punya sertifikat. Surat-surat saya sudah hilang enggak tau kemana," kata Nani.

Nenek dari empat orang cucu ini mengatakan, dia bersama warga Luar Batang lainnya tidak pernah sedikit pun membenci Ahok. Namun, Nani merasa bingung kenapa Ahok sangat tega kepada mereka hingga ingin meratakan tempat tinggalnya.

"Saya itu enggak abis pikir, apa salah kami sama Pak Ahok, kenapa kok dia tega sekali sampai mau menggusur, kami tidak mengganggu atau merugikan siapapun, tapi sekali lagi kenapa dia setega itu," ungkapnya.

Bahkan hingga sekarang, meskipun Ahok telah berbuat jahat kepadanya, kata Nani, dia merasa kasihan dengan masalah yang menimpa Ahok saat ini. Dia menilai, permasalahan itu adalah bagian dari karma akibat perlakuan Ahok kepada warga Luar Batang.

"Saya nonton tv itu saya liat Pak Ahok dipenjara sampai cerai sama istrinya sebenarnya kasihan. Tapi disatu sisi juga kalau ingat Ahok saya rasanya mau marag, sedih. Sampai-sampai saya mikir dia kena masalah kaya gini mungkin karma dia sendiri," pungkasnya.

Pada dua tahun silam (2016), Pemerintah Provinsi DKI berencana melakukan penataan di Kawasan Luar Batang. Konsekuensinya sejumlah permukiman warga akan direlokasi untuk penataan tersebut. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan oleh seluruh warga Luar Batang.

(eve/JPC)