Sehari Sebut Tersangka MCA Diduga Ahokers, Jawapos Minta Maaf







Setelah hari Ahad kemarin menayangkan berita yang menyebut tersangka Muslim Cyber Army (MCA) diduga sebagai pendukung terpidana penodaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), media online Jawapos.com meminta maaf dan menghapus berita tersebut.

Diketahui, berita berjudul “Tersangka Muslim Cyber Army Diduga Ahokers” tersebut ditayangkan media itu tertanggal 4 Maret 2018 pukul 11.35 dalam rubrik Hukum & Kriminal.

Pada Senin (05/03/2018) pagi ini berita tersebut sudah tidak bisa diakses.

Redaksi media tersebut meminta maaf karena menganggap artikel itu telah menimbulkan kegaduhan akibat dari proses jurnalistik yang dianggap tidak sesuai dengan standar media tersebut.

“Berita terkait juga kami putuskan untuk dihapus,” sebut Pemimpin Redaksi media tersebut sebagaimana penjelasannya diterima hidayatullah.com, Senin (05/03/2018) pagi, yang ditayangkan pula di media itu semalam.

Berdasarkan pantauan sejak semalam hingga Senin pagi ini pukul 07.05 WIB, laman media online tersebut tidak bisa dibuka.

Redaksi hidayatullah.com sempat mengambil berita dari Jawapos dengan judul ‘Tersangka “MCA” yang Ditangkap Diduga Ahokers’. Redaksi meminta maaf atas kesalahan teknis ini.

Sebelum ini, redaksi juga sempat mewawancari secara khusus aktivis senior di bidang media sosial yang juga Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa B Nahrawardaya, terkait anggota ‘MCA’ yang ditangkap aparat.

Menurut Mustofa, MCA hanya berkerja secara pribadi, bekerja penuh etik tanpa melakukan ujaran kebencian, mereka menggunalan sel terputus tanpa pemimpin dan tanpa alamat jelas. Karena itu, jika tiba-tiba muncul mengaku MCA, bisa jadi mereka adalah ‘MCA Abal-abal’ yang bekerja menjelang Pemilu. [Baca: “Penangkapan MCA Palsu Besar Kemungkinan karena Kecewa Kekalahan Politik”]

“Saya yakin, banyak sekali rakyat Jakarta khususnya, yang menjadi korban dari beroperasinya kelompok Cyber Army pendukung Ahok. Saya mensinyalir, praktik penyesatan informasi dan pengaburan fakta demi memenangkan jagoannya, sudah dilakukan kelompok liar tersebut, sejak 2012. Lalu makin sukses membodohi masyarakat pada 2014, dan mungkin akan dilanjutkan 2018 dan 2019,” ujarnya.*

Hidayatullah