Pasangan ELGEBETEE Ini Harus Rela Merasakan Dinginya Bui


Dua pasangan LGBT yang sempat ramai dibicarakan, yakni M Fadholi, 21, dan Ayu Puji Astuti, 23, dituntut penjara satu tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dua pria tersebut didakwa memberikan keterangan palsu untuk menerbitkan buku surat nikah dari KUA Ajung.

“Masing-masing, keduanya dituntut satu tahun penjara dikurangi masa kurungan,” kata Jaksa Penuntut Umum Nur Khoyin. Keduanya dituntut karena memberikan keterangan yang tidak benar pada aparat pemerintah. Mulai dari pemerintah desa hingga pejabat Kantor Urusan Agama (KUA). Surat nikah kedua pasangan tersebut sudah diputuskan batal demi hukum melalui sidang di pengadilan agama.

JPU menilai, akibat keterangan palsu itulah, akhirnya surat nikah terbit. Dua pria itu pun melanggar pasal 263 KUHP ayat 1. Yakni, membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perserikatan, atau pembebasan utang. Atau, yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu.

Pelanggaran pemalsuan surat tersebut dipidana penjara paling lama enam tahun. Kendati demikian, penasihat hukum terdakwa mengajukan pembelaan hukum kepada majelis hakim. “Karena dia tidak tahu bila itu melanggar,” kata Gunawan Hendro, penasihat hukum terdakwa.

Fakta persidangan, kata dia, terdakwa mengakui memang memalsukan keterangan saat membuat surat nikah. Hanya saja, pendidikannya yang hanya lulus SD membuat dirinya tidak mengerti hukum. “Kami meminta keringanan karena  hanya lulusan SD. Tidak tahu,” imbuhnya.

Muhammad Fadholi merupakan warga Plalangan, Kecamatan Panti dan Ayu Puji Astuti, warga Desa Panca Karya, Kecamatan Ajung. Pernikahan sejenis itu terjadi di Panti. Mereka menikah dengan memalsukan dokumen di KUA. Keduanya sudah menikah sejak Juli 2017 lalu. Dua bulan kemudian terbongkar sehingga berurusan dengan hukum.

(jr/gus/hdi/das/JPR)


jawapos