Ketahuan Begonya... Benarkah Oposisi yang Tidak Kredibel Merupakan Sumber Hoax? Tesis Cacat Logika


Dalam ILC baru-baru ini, Sekjend PSI Raja Juli Antoni mengeluarkan pernyataan menarik.

Apa yang menjadi SUMBER hoax? Tidak berkualitasnya oposisi. Dikatanya, oposisi lebih sering mengangkat isu-isu yang terkait dengan SARA dan bukan (gagasan) program tandingan terhadap program-program pemerintah. Tesis ini bahkan disebut sebagai tesis utama oleh PSI. Bukan main.

Saya ingin menanggapi sekaligus memperjelas ucapan Rocky Gerung. Kebenaran suatu tesis tidak harus dikaitkan dengan data namun pada koherensi logika dalam suatu pernyataan. Tanpa harus memeriksa apakah benar oposisi yg sekarang lebih rendah kualitasnya, saya ingin tunjukkan bahwa tesis ini cacat logika.

Cacatnya logika dari tesis bisa disimpulkan dari adanya kontradiksi atau fallacy saat dia dihadapkan pada standing theory. Karena itu, pertama, saya harus menghadirkan standing theory tentang perilaku. Memproduksi hoax, bagaimanapun juga adalah suatu perilaku.

Banyak theory tentang perilaku yang tersedia, namun sederhananya, suatu perilaku (terencana) terjadi karena mendatangkan manfaat bagi pelakunya. Nanti ada kendala-kendala bagi perilaku seperti biaya dan resiko. Ada juga faktor moderasi seperti kesempatan dan kapabilitas/keahlian.

Kita bisa saja berdiskusi lebih jauh tentang manfaat-manfaat apa yang diperoleh si pelaku. Apakah utilitarian atau hedonis? Apakah fungsional, emosional atau symbolic? Ada banyak cara mengidentifikasi dan menggolongkan itu. Namun, pada titik ini cukup bagi kita untuk memahami bahwa di balik perilaku selalu ada manfaat yang dirasakan oleh pelakunya.

Mencari sumber/penyebab hoax adalah mencari manfaat apa yang bisa diperoleh dengan memproduksi atau menyebarkan hoax tadi. Manfaatnya bisa kita analisa dalam narasi besar. Bisa juga kita analisa dalam lingkup individual.

Kalau kita bicara hoax politik, narasi besarnya jelas sekali. Mendelegitimasi pemerintah atau menegaskan legitimasi pemerintah. Kita jangan menutup mata sebelah. Jangan cuma dilihat dari sisi oposisi saja. Kita lihat juga dari sisi pendukung pemerintah. Hoax” tentang keberhasilan pemerintah Jokowi itu banyak sekali. Foto” jalan-jalan toll yang diaku sebagai hasil karya Jokowi. Ternyata foto jalan

di negara lain.

Di tingkat individu, manfaat memproduksi hoax ini bisa beragam. Yang paling bisa memotivasi tentu uang. Hoax politik hadir karena ada banyak orang yang dibayar untuk itu. Yang bayar siapa? Dari keduabelah pihak juga.

Namun, selain uang, hoax ini hadir karena fanatisme berlebih terhadap “perjuangan”. Fanatisme ini pada gilirannya mengurangi rasa bersalah karena merasa sedang melakukan hal yang benar. Tujuan menghalalkan cara. Kalau anda lihat di sini, fanatisme juga hadir di keduabelah pihak.

Di atas saya sebutkan upaya delegitimasi atau penegasan legitimasi. Raja Juliani Antoni bisa punya poin bagus. Upaya delegitimasi vs penegasan legitimasi ini lebih baik jika dilakukan dengan sehat. Dengan cara mengadu gagasan.

Namun mengatakan sumber hoax adalah oposisi yang tidak kredibel itu adalah lompatan logika yang terlalu jauh. Akrobat.

Apa jaminannya pihak pendukung pemerintah tidak melakukan hoax dengan adanya oposisi yang kredibel? Ngga ada. Pihak pendukung pemerintah masih punya motif untuk menegaskan legitimasinya. Masih punya fanatisme untuk memperjuangkan rezim ini dengan cara apapun.

Untuk intervensi perilaku, baik agar perilaku itu berhenti atau justru ingin dipersering (untuk perilaku-perilaku yang baik), kita harus melihat pada hal-hal apa yang bisa kita ubah dari sisi manfaat, biaya, resiko, kesempatan dan kapabilitas itu.

Saat kita ingin mengubah, kita juga tanya apa yang sebenarnya telah berubah seiring dengan maraknya hoax ini. Ini bisa menjadi solusi dalam intervensi kita.

Tesisnya Raja Juli Antoni jelas tidal memberi kita apa-apa. Kualitas oposisi dari dulu ya gini-gini aja. Ngga ada yg berubah secara substansial dari perilaku partai oposisi. Jaman SBY atau jaman Jokowi. Jadi jangan dilihat ke sana.

Saya pribadi melihat, sesuatu yang sangat berbeda dengan masa lampau adalah soal fanatisme. Rasanya waktu pilpres 2009, tidak ada fanatisme itu. Mendukung SBY dengan biasa. Mendukung Ibu Mega dengan biasa juga. Tidak membuat suatu garis demarkasi yang membuat seolah-olah sedang mendukung kebaikan untuk mengalahkan kejahatan.

Hari-hari ini kedua kubu memiliki sentimen yang sama. Kubunya diaku baik dan musuhnya dianggap jahat. Ini yang selalu diamplifikasi oleh elit dan utamanya buzzer-buzzer di sosial media. Ini basian pilpres 2014 dan pilkada DKI 2017.

Ingin menghilangkan hoax ya harus meredam fanatisme ini. Menyadarkan orang bahwa ini kontes politik biasa. Kalau perlu bikin poros baru agar orang tidak terkungkung pada bipolarisasi.

Kalau narasi Raja Juli Antoni dientertain, justru akan membuat sentimennya menjadi lebih dalam. Yang oposisi merasa disalahkan. Ini sangat kontra produktif terhadap hasil yang diharapkan. Yakni berkurangnya hoax. Begitu.

Penulis: DR. Ardi Wirdamulia