20 March 2018

Kematian Remaja Papua Usai Ditahan Polisi Ramai Diberitakan Media Asing


Kematian seorang remaja di Papua Barat menjadi perbincangan ramai di media asing. Pasalnya, remaja 17 tahun itu meninggal setelah ditahan selama 24 jam oleh pihak kepolisian.

Remaja bernama itu bernama Rico Ayomi yang meninggal pada tanggal 13 Maret lalu. Ia meninggal usai pihak kepolisian mengembalikannya ke pihak keluarga setelah ditahan atas dugaan pencurian.

Saat dikembalikan, pihak keluarga menyebut bahwa sekujur tubuh Rico sudah mengalami banyak memar dan luka. Pihak keluarga juga menolak penjelasan kepolisian yang menyebut bahwa Rico meninggal karena minum-minuman keras. Tidak hanya itu, pihak kepolisian juga mengklaim bahwa mereka telah menyelamatkan Rico dari gerombolan warga desa yang marah di pantai kota Sorong di Papua Barat.

"Kami akan membawa kasus ini ke pengadilan sehingga tidak ada orang asli Papua yang diperlakukan sewenang-wenang dan tidak adil,” ujar Pemimpin Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda Sorong, Simon Soren, yang mewakili keluarga Rico.

Kata Simon, ada luka memar di leher dan dada Rico. Selain itu juga ada luka di wajah dan lengannya. Dari mulut Rico juga mengeluarkan darah.

"Anggota keluarga terkejut ketika empat petugas polisi mengembalikan Rico ke rumah keluarganya sekitar tengah malam, karena tidak dapat berdiri atau berbicara," tegasnya.

"Rico meninggal sekitar pukul 5 pagi tanggal 13 Maret," lanjut Simon.

Sementara itu, jurubicara Kepolisian Papua Barat Hary Supriyono mengatakan bahwa Ayomi tidak sadarkan diri selama ditahan di penjara. Rico juga muntah-muntah. Polisi sempat membawa Rico ke rumah sakit sebelum kemudian mengantarkannya ke keluarga.

"Keluarga korban yang merupakan suku Serui tidak sepenuhnya menerima bahwa Rico Ayomi meninggal karena alkohol," kata Supriyono dalam keterangannya.

"Beberapa dari mereka percaya bahwa dia meninggal karena dipukuli oleh penduduk desa dari Seram. Memang telah terjadi perselisihan panjang antara suku Serui dan penduduk desa Seram," lanjutnya.

Penyebab kematian ini masih belum jelas. Sebab, hasil otopsi yang dilakukan oleh dokter dari pihak Kepolisian belum dirilis.

Kematian Rico ini banyak diberitakan oleh media asing. The Wasington Post membuat judul “Papuan teen dies hours after release from Indonesia jail”. Berita yang sama juga diunggah oleh media asal AS, The New York Times dan The Associated Press.

Dalam pemberitaan itu, media asing tersebut menyebutkan bahwa pembunhan terhadap warga asli Papua yang berakhir tanpa alasan jelas sering terjadi di Papua dan Papua Barat. Insiden ini kerap terjadi karena ada pemberontakan pemerintahan Indonesia.

Media-media ini juga menyebut bahwa kekayaan di Papua telah disedot oleh perusahaan tambang AS, Freeport dan memberikan pendapatan pajak yang signifikan bagi pemerintah Indonesia. Sementara di satu sisi, dambung media-media itu, penduduk asli Papua hanya sedikit yang merasakan manfaat, sehingga hidup dalam kemiskinan dan dikelilingi penyakit. [ian]

rmol

Heboh Salam Dua Jari Aa Gym Ternyata Hablu Minallah dan Hablu Minannas