Kata Kapolri dari 47 Laporan Penyerangan Ulama, Ada 32 Kasus yang Hoax


Polri terus memantau soal kasus penyerangan kepada ulama dan juga pemuka agama. Saat ini isu mengenai kasus penyerangan terhadap ulama dan pemuka agama terus saja ‎muncul di media sosial.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan saat ini sebanyak ada sekitar 47 kasus aduan yang ditangani oleh Polri terkait penyerangan kepada ulama.‎ Namun setelah ditelusuri hanya ada lima kasus.

Namun, sebanyak 42 laporan itu tidak terjadi adanya penyerangan terhadap ulama dan juga ke pemuka agama.

"Jadi yang sebenarnya terjadi itu hanya ada lima kasus pidananya," ujar Tito dalam rapat kerja dengan Komisi III, Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/3).

Tito Karnavian juga mengatakan, dari 42 kasus itu, diduga ada rekayasa terhadap kasusnya. Beberapa yang melapor ke kepolisian telah mendapatkan penganiayaan dari orang tidak dikenal. Namun setelah dilakukan rekontruksi banyak terjadi keganjilan.

"Nah itu motifnya rata-rata meminta perhatian karena masalah ekonomi," katanya.

Kemudian yang saat ini banyak berita adanya penganiayaan terhadap ulama di media sosial. Ternyata setelah diselidiki ‎yang dianiaya itu bukanlah ulama. Melainkan orang biasa saja.

"Jadi di medsos diangkat seolah-olah itu adalah ulama," ungkapnya.

Selain itu, dari 42 kasus itu sebanyak 32 laporan itu adalah hoax. Tidak ada sama sekali penganiayaan terhadap ulama dan juga ke pemuka agama. Jadi lewat media sosial seolah-olah masyarakat diberikan informasi palsu adanya penyerangan tersebut.

"Jadi itu kasusnya tidak terjadi sama sekali, tapi seolah-olah dibuat di medsos solah-olah terjadi peristiwa," katanya.

Selain itu, Polri juga terus memeriksa lima kasus penyerangan kepada ulama. Pasalnya beberapa pelaku dalam hal ini bisa sama. Mengalami ganguan jiwa, sehingga perlu penanganan serius untuk mendalaminya.

"Jadi kami melihat ada sesuatu kejanggalan. Nah itu terus kita dalami," katanya.

Tito Karnavian juga mengaku, pihaknya hingga saat ini belum melihat adanya gerakan sistematis dari kelompok tertentu yang menyasar kalangan ulama dan juga pemuka agama.

"Istilahnya kami belum menemukan adanya penyerangan sistematis kepada tokoh agama dan tempat ibadah," pungkasnya.

Berikut ini lima kasus penyerangan kepada ulama dan juga ke pemuka agama:

1. Pada akhir Januari, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong), menjadi korban penganiayaan usai salat Subuh di masjid. Polisi menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian diidentifikasi kemungkinan lemah ingatan.

2. Penyerangan terhadap Komando Brigade PP Persis, Ustad Prawoto. Ustad Prawoto meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada awal Januari lalu.

Pelaku berinisial AM melakukan pemukulan terhadap korban dengan menggunakan linggis. Dugaan sementara, pelaku mengidap gangguan jiwa. Ia sempat diperiksa kondisinya di rumah sakit jiwa.

3. Peristiwa ketiga terjadi di Masjid at-Tawakkal, Bandung. Seorang pemuda mengacung-acungkan pisau dengan mencari ulama.

4. Ustad Abdul Basit mengalami pengeroyokan di depan rumahnya, Jalan Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat. Akibat pengeroyokan itu, Abdul Basit pun mengalami luka di tangannya. Tiga orang pemuda dibekuk polisi.

5. Penyerangan kepada jemaat Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Pria tidak dikenal pada Februari lalu membawa senjata tajam. Akibatnya empat orang luka-luka akibat serangan tersebut.

(ce1/gwn/JPC)