“Karena Tak ada Organisasi Khusus, Semua Bisa Ngaku MCA”


Setelah aparat keamanan mengumumkan  penangkapan anggota “Sindikat Saracen”, bulan lalu polisi mengumumkan penangkapan anggota “MCA”,  dengan tuduhan “pembuatan dan penyebaran hoax”,  khususnya kasus maraknya ‘orang gila’ yang meneror ulama”.

Banyak pihak menilai, penangkapan ini bagian dari ‘shock therapy’ atau juga usaha melemahkan MCA yang asli.

Baru-baru ini, pakar informatika dan analis media sosial Ismail Fahmi  membuat analisis berjudul “The War On MCA’  Periode: 1 Mei 2016 – 4 Maret 2018. Doktor sains informatika lulusan Universitas Groningen, Belanda yang dikenal dengan  teknologi buatannya “Drone Emprit” –merujuk nama burung lambang Twitter, sebuah peranti lunak ini berfungsi memonitor dan menganalisis percakapan di media online dan media sosial,  mengungkap panjang lebar isu-isu terkait MCA.

Siapakan sesungguhnya MCA itu? Mana yang asli dan mana yang abal-abal? Kapan seungguhnya aksi MCA mulai mulai muncul? Apakah ada indikasi kekuatan MCA bakal melemah setelah gempuran ini? Bagaimana peta pertempuran “War on MCA” di media social?

Anda menulis analisis soal MCA. Apa yang sebenarnya ingin Anda tunjukkan?

Di closing-nya itu. Tentang polisi. Ini sebetulnya waktu yang tepat untuk memerangi hoax (berita palsu). Tetapi yang tampak di sini justru memerangi Muslim Cyber Army (MCA). Ini malah tidak terlalu efektif untuk memerangi hoax yang sesungguhnya. Jadi akan bangkit lagi karena adanya rasa ketidakadilan. Karena hoax yang di sebelah (yang di pro pemerintah),  enggak diapa-apain ibaratnya. Padahal kalau seandainya kita mau perang terhadap hoax, di sini ada yang ditangkap, di sana juga harus ada yang diproses juga. Kan sudah banyak juga yang dilaporkan kan.

Harusnya  semangat melawan hoax seperti itu. Kalau mau melawan hoax itu kan harus di dua pihak. Harusnya perang itu dilakukan terhadap dua kelompok dan pak polisi berada di tengah-tengah.  Hoax yang ada di mereka (pihak yang pro pemerintah) kan juga banyak, itu juga “diserang”. Kalau perlu ditangkap. Sama-sama. Tapi kan ini enggak dilakukan. Jadi kesannya, ini perang terhadap MCA.

Soal berita ada ‘MCA’ ditangkap, apa pendapat Anda?

Tentang MCA sendiri. Selama ini kan MCA dianggap tak berbentuk. Tapi dalam percakapan ada MCA. Ini akan lebih bagus jika pihak MCA lebih mensolidkan diri,  menjelaskan memang ada  MCA. Faktanya  kan ada MCA yang benar (asli) dan yang tidak benar (palsu).  Selama ini karena MCA tidak berbentuk, dan MCA tidak melakukan apapun ketika ada hoax yang dilakukan oleh orang yang mengaku-ngaku MCA, maka ketika ada hoax yang viral di mana-mana dibiarkan sama sekali. Ini menjadi target polisi. Karena bukan lagi penyebaran informasi, tapi sudah mengganggu. Kalau MCA lebih terkoordinir dengan bagus, maka itu bisa membantu menunjukan mana hoax mana yang tidak kepada publik. Jadi publik akhirnya bisa ngikutin, “oh ketika ada berita masuk di mereka, ngakunya dari MCA, itu bisa dibilang oh ini hoax ternyata.”

Mungkin bisa dijelakan lebih mudah?

Kita harus tahu, yang mengaku MCA bisa siapapun. Bisa jadi lawan. Lawan sebelah bikin berita dan gambar-gambar. Di gambar itu Pak Jokowi kemudian digambarkan babi segala macam yang kira-kira bernada kebencian, orang-orang yang enggak ngerti ini langsung ngambil dan nge-share  karena mereka banyak yang nggak puas sama kinerja pemerintah. Ketidakpuasan itu sudah sampai –kadang-kadang– pada level benci. Jadi sudah nggak mikir-mikir lagi mereka, material yang dibuat oleh lawan ini langsung di-share.

Apa targetnya?

Tujuannya agar umat kita jadi sibuk dengan urusan benci-bencian, artinya enggak membangun diri. Yang rugi kita sendiri. Makanya MCA ini pertanyaannya, mau menjadi aset atau menjadi problem? Kalau saya menawarkan MCA jadi aset. Bisa menjadi aset artinya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. MCA nggak bisa dihilangkan. Nah yang dilakukan polisi itu menganggap MCA ini seperti pabrik hoax. Dan yang pro pemerintah pun juga memberi label MCA sebagai pabrik hoax. Padahal saya kira nggak seluruhnya benar.  Ada yang sebagian yang bikin pabrik hoax, tapi sebagian lain bener. Nah yang benar inilah kemudian kita rapikan,  dan MCA bersihkan diri menjadi aset buat bangsa dan umat. Supaya umat dan bangsa ini lebih maju.

Bagaimana ide Anda soal MCA yang asli dan bisa jadi aset?

Kalau mau mencalonkan, ini kan kekuatan bagus buat program, usulan segala macam yang lebih cerdas. Ketika akan mencalonkan seseorang jadi presiden atau tokoh di Pilkada semua dengan cara yang cerdas. Karena (MCA) ini aset. Jaringannya sudah ada, follower-nya ada, kemampuan sosial medianya sudah bagus. Ini yang harus diarahkan ke sana. Itu yang mau saya fokuskan sebetulnya.

Yang terakhir buat publik. Mereka jadinya bisa hati-hati sekarang. Karena informasi yang mereka terima dan share itu tidak selamanya valid. Bahkan sengaja diciptakan untuk membuat mereka jadi makin benci atau mungkin menjadikan mereka bisa terjerat hukum.

Anda menggunakan ‘Drone Emprit’ dalam menganalisis MCA. Sejauh mana akurasi?

Drone Emprit itu menangkap percakapan yang berdasarkan kata kunci di twitter. Jadi akan masuk semuanya. Untuk MCA, sejak 2013, kita sudah collect (mengumpulkan) data. Berbagai macam isu. Ada isu PKI, Pilkada, Pilpres. Dari situ, kita punya data yang sangat besar. Dan kalau memang ada penyebutan  Muslim Cyber Army (MCA), mesti akan muncul di situ.

Anda tadi menyebut ada lawan yang mengaku-aku jadi MCA, Anda punya datanya?

Ada. Contohnya  ketika ada Facebook page-nya AA Gym. Di situ ada tulisan tentang “Tiga ibadah yang kalau Anda lakukan, diampuni Allah meskipun Anda berzina” misalnya. Kira-kira masuk akan gak, AA Gym bikin kayak gitu?

Orang cinta sama AA GYM, nge-follow itu, langsung nge-share, langsung percaya karena dikira dari AA GYM. Saya enggak yakin itu dari MCA. Karena MCA nggak mungkin memalsukan ustadnya dengan cara seperti itu. Dan hal seperti itu banyak. Saya punya datanya. Akun Facebook page AA GYM yang nggak official ada 170.000 follower. Itu besar sekali. Sindikat ini punya 50 kayak gitu (akun-akun tidak official).

Seperti akun Ustad Yusuf Mansur, Mamah Dedeh, ditipuin semua itu.  Isinya nggak mungkin ditulis ole ustad-ustad atau ustadzah itu. Saya kira inilah lawan-lawan.

Akhirnya identitas MCA menjadi tidak jelas ya?

MCA ini kan gerakan, networking. Banyak yang mengaku MCA di sana. Karena tidak ada organisasi khusus, semua bisa mengaku sebagai MCA. Dan karena sifatnya informasi, semua bisa mungkin nge-share juga. Bisa MCA  atau mungkin piha lawan yang mengaku jadi MCA. Jadi memang nggak jelasnya di situ.

Ini bisa jadi jebakan ya?

Jebakan bisa, ekonomi juga bisa. Contoh, dia buat artikel di blogspot, lalu link blogspotnya dituliskan di status. Orang-orang dari Facebook page-nya nge-link ke artikel itu, kemudian dari artikel yang di blogspot, ada iklan-iklannya.*>>> klik [Bersambung] “MCA Harus Bikin Akun Official”

MCA Harus Bikin Akun Official”

Jadi bagaimana baiknya soal MCA ini?

Yes. MCA harus bikin akun official. Itu yang bagus untuk umat. Dia bisa mengisi tempat clearing house, tempat bertanya umat, (berita) ini benar atau tidak di situ. Kalo enggak, umat terus dibodohin. Kalau saya lihat, umat itu sekarang jadi mudah kan dibuat benci atau tidak  membenci.

Cuma kemudian, ini yang dipakai untuk menimbulkan kebencian yang menurut saya sudah terlalu berlebihan.  Jadi kadang-kadang orang membuat konten (isi pesan) sampai diluar batas dan berlebihan.

Bisa dijelaskan tipologinya?

Misalnya aanggota MCA yang ada di twitter, yang saya perhatikan, mereka lebih banyak sebetulnya untuk mencoba hati-hati, ngeyel-ngeyelan tapi mereka enggak sampai terlalu berlebihan, melebihi batas, sebab dia bisa jatuh ke hoax atau penghinaan yang berlebihan. Karena mereka mengerti UU ITE. Ibaratanya, pegguna  twitter lebih agak cerdas dikit lah.


Ismail Fahmi dan analisis percapakan di media sosial

Tapi kalau yang di Facebook, kebanyakan di sini orang-orang biasa, nggak mengerti UU ITE, sehingga mereka merasa bisa melakukan apapun. Bisa bikin konten apapun dan di-share. Ada konten yang parah banget, misal ada Pak Jokowi dan gambar binatang, lalu mereka share karena dianggap ‘jihad’ media. Yang seperti ini yang remnya gak ada. Jadi saya pikir umat ini sudah melampaui batas untuk mengekspresikan ketidaksukaannya. Ini yang saya nilai berbahaya. Sebetulnya ini harus ada yang mengingatkan.

Akhirnya, kemungkinan yang ditangkap polisi itu bisa juga bagian dari umat atau yang mengaku-ngaku MCA. Karena MCA itu sendiri sangat open (terbuka).  Coba sebelum ditangkap, MCA sudah bilang MCA yang asli  seperti ini. Misi kita ini… ini… melawan hoax dan fitnah, kami tidak membuat hoax dan fitnah, dan sudah membabat hoax.  kalau MCA sudah bisa begitu, jika yang ditangkapin polisi  ternyata bukan MCA yang asli, polisi akan malu. Tapi sekarang enggak. MCA nya itu nggak jelas.

Ini zaman informasi, tabayun harus lebih diperbanyak lagi. Siapa yang membuat tabayun ini? Harusnya MCA yang resmi sebagai pusatnya. Clearing house, command center, pusat kendali informasi yang menyebar buat seluruh umat. Kalau MCA yang asli bisa resmi sepeti ini, MCA jadi aset umat dan umat akan berdaya dengan itu.

Sejak kapan MCA ada?

Mungkin yang disebut media itu wujudnya, bukan namanya. Sebelum ada nama MCA, sudah ada teman-teman FPI, Habib Rizieq membentuk jaringan. Itulah yang menggerakkan Aksi 411 (4 November 2016), dan Aksi 212 (2 Desember 2016). Jadi itu sudah ada networknya. Mulai Desember (baru dua tahunan, red) itu, mereka menamakan dirinya sebagai MCA. Kemudian mulai mengkoordinasikan diri dalam pelatihan-pelatihan social media, pelatihan cyber army. Sudah mulai lebih banyak dibanding sebelumnya. Tapi kalau cikal bakalnya sudah lama.

Polisi mengaitkan MCA yang ditangkap dengan anggota SARACEN?

MCA saja enggak jelas (ada yang asli dan tida, red). Anggota SARACEN bisa jadi anggota MCA juga. Mereka yang sindikat (palsu, red), tukang bikin hoax, bisa jadi ngaku anggota MCA juga. Orang yang menjadi S2, S3, Ph.D bisa mengaku anggota MCA juga karena semangatnya di situ. Siapapun bisa. Jadi saya sih lihat ada kemungkinan itu. Bisa jadi.

Sejak kapan jagad media berubah jadi ajang perang seperti ini?

Saya kira sejak sebelum ada media pun sudah ada. Setiap Pilpres juga sudah ada. Sejak zaman  sebelum ada internet, Pilpres kan menggunakan selebaran gelap.  Cuma dengan ada medium yang baru, jadinya labih mudah. Begitu ada internet langsung udah kayak begitu. Langsung dimanfaatkan.

Faktor utama adanya perang ini apa ya?

Kepentingan politik dan ekonomi. Politik, orang yang pingin berkuasa kan melakukan berbagai macam cara kan untuk menjatuhkan lawan dan menaikkan dia.

Bidang ekonomi, orang cari uang dengan menjadi buzzer, pengamat media, penasihatnya, melakukan operasi lapangan, itu kan setiap kali ada pemilihan-pemilihan ada peluang di situ. Jadi simbiosis-mutualisme antara politik dan ekonomi.*/Andi R


Hidayatullah