Jokowi Dinilai Tidak Kredibel dalam Mengelola Tata Negara


Direktur Eksekutif Institut For Policy Studies, M Tri Andika, mengatakan dua tahun Jokowi banyak didapati perbedaan pendapat antarkabinet. Sehingga, Jokowi dinilai tidak kredibel dalam mengelola tata kelola negara termasuk pengelolaan anggaran yang berujung meroketnya utang negara.

“Ada tiga problem di bidang ekonomi Indonesia saat ini. Ketiganya, ekspansi infrastruktur, pencabutan subsidi, dan kesalahan manajemen,” katanya dalam diskusi bertajuk ‘Meroketnya Utang Jokowi’ di Jakarta, Jumat malam (9/3/2018).

Tri mengungkapkan, di awal jabatan, Jokowi sudah melanggar janji dengan mencabut subsidi BBM. Hanya waktu dua bulan, subsidi BBM itu dicabut dengan alasan mengalihkan anggaran ke produktif dengan meningkatkan infrastruktur.

“Pemerintahan Jokowi kerap ugal-ugalan mengeluarkan kebijakan, yang terlihat tergesa-gesa. Padahal ini urusan satu negara loh bukan kota, yang perencanaannya harus matang dan memakan waktu lama,” kritiknya.

Dia menegaskan dampaknya ,kita membangun infrastruktur tapi tanpa perencanaan yang jelas maka akan hancur. Seharusnya pembangunan negara jangan dijadikan modal citra politik melanjutkan kepemimpinan yang akan datang, tetapi perlu manajemen yang baik.

“Saya juga melihat ada pembohongan harapan, dengan harapan infrastruktur dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Justru rakyat mendapatkan harapan palsu, di mana faktanya infrastruktur hanya padat modal tapi miskin karya dan tidak membuka lapangan kerja,” ujarnya.

Saya justru mencatat pencabutan subsidi bukan untuk dialokasikan ke anggaran yang produktif lainnya. Akan tetapi pemerintah menutupi pencabutan anggaran subsidi itu guna membayar utang negara.

BACA JUGA  Indonesia Diminta Inisiasi Perdamaian Suriah
“Kita melihat sektor pendidikan dan kesehatan juga tidak ada peningkatan. Ditambah pendapatan melalui pajak tidak sesuai harapan, sedangkan modal infrastruktur sangat padat yang berakibat utang dan akhirnya APBN sebagian besar untuk bayar utang yang sudah jatuh tempo,” tukasnya.