Harga Meroket, Pedagang dan Pembeli Cabai Sama-Sama Menjerit


Harga cabai yang naik signifikan membuat sejumlah pedagang dan pembeli menjerit. Bagi pedagang, kenaikan harga ini mengakibatkan penurunan keuntungan dan peningkatan risiko kerugian. Sedangkan bagi pembeli, uang belanja kebutuhan memasak yang harus dikeluarkan naik.

Pedagang bumbu di Pasar Banyuwangi, Susnawati mengatakan, saat harga cabai mahal, pedagang justru merasa susah. Konsumen yang biasanya membeli cabai sebanyak 1 kilogram (kg), ketika harga cabai rawit mahal mereka hanya membeli cabai rawit sebanyak seperempat kg atau setengah kg. ”Konsumen belinya nyericil (pembelian dalam porsi sangat sedikit). Bahkan tidak sedikit yang membeli cabai sebanyak setengah ons seharga Rp 4 ribu,” ujarnya kemarin (10/3).

Selain itu, saat harga cabai mahal, keuntungan yang didapat pedagang lebih kecil. Padahal, mereka harus mengeluarkan modal yang lebih besar dibanding biasanya. ”Kalau cabai rawit dijual dengan stand (selisih harga kulakan dengan jual, Red), bisa-bisa konsumen kabur,” akunya.

Bukan itu saja, Susnawati mengaku harga cabai rawit yang sangat mahal tersebut mengakibatkan risiko yang dihadapi pedagang lebih besar. ”Jika pasokan cabai membusuk, kami bisa rugi besar,” kata dia.

Syamsul, pedagang yang lain menuturkan, saat harga cabai murah, risiko yang dihadapi pedagang tidak terlalu besar. Pedagang juga bisa mengambil keuntungan lebih besar dibandingkan saat harga cabai mahal.

Samsul mencontohkan, pada Jumat pagi (9/3) dirinya kulakan cabai seharga Rp 54 ribu per kg. Sehari berselang atau pagi kemarin, dia mendapat pasokan cabai rawit dari pengepul seharga Rp 64 ribu per kg. ”Pada Jumat saya menjual cabai rawit seharga Rp 60 ribu per kg. sedangkan pagi ini (kemarin) saya menjual cabai rawit seharga Rp 70 ribu per kg,” ujarnya.

Nah, meski selisih harga beli dan harga jual tetap, yakni sebesar Rp 6 ribu per kg, imbuh Samsul, namun keuntungan yang didapat cenderung lebih kecil. Dia mencontohkan, jika di antara pasokan yang didapat ada 1 kg cabai rawit yang busuk (seharga Rp 64 ribu), maka untuk menutupi kerugian dia harus menjual 10 kg lebih (keuntungan Rp 6 ribu per kg). ”Kalau tidak, bisa dipastikan kami merugi,” kata dia.

Sedangkan saat harga kulakan cabai sebesar Rp 54 ribu per kg dengan selisih harga jual dan harga beli sebesar Rp 6 ribu per kg, maka ketika mampu menjual 10 kg cabai, pedagang sudah untung meskipun ada 1 kg cabai yang busuk. Dengan menjual 10 kg, selisih harga jual dan harga beli yang dikantongi pedagang mencapai Rp 60 ribu. “Artinya, jika ada 1 Kg cabai yang busuk, kami masih dapat untung Rp 6 ribu,” cetusnya.

Sementara itu, salah satu pembeli, Lilik, mengaku kenaikan harga cabai cukup memberatkan dirinya. ”Saya suka masakan pedas. Jadi, kalau harga cabai mahal seperti ini, uang belanja yang harus saya keluarkan lebih besar dibandingkan sebelumnya,” kata perempuan yang beralamat di Kelurahan Kebalenan, Kecamatan Banyuwangi itu.

JAWAPOS