Gizi Buruk, 495 Bayi di Solo Alami Kekerdilan.. Gimana nih Pak Jokowi??? DiSolo loh..


Sedikitnya 495 bayi di Kota Solo mengalami kekerdilan atau dikenal dengan stunting. Jumlah ini tercatat sebanyak 3,2 persen dari jumlah total bayi dua tahun (baduta) di Solo yang mencapai 15.191 anak.

Meski jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan angka di tingkat Nasional yang mencapai 37 persen, tetapi kasus tersebut tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Pemkot Solo.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, menjelaskan bahwa sebenarnya kondisi bayi di Kota Solo sudah cukup bagus. Tetapi, masih adanya bayi dengan stunting tetap akan diminimalisir.

"Kalau saya berprinsip tidak boleh ada anak yang stunting, meskipun hanya 3,2 persen saja. Itu bagi saya juga jadi PR. Itu kan warning," ucap perempuan yang akrab disapa Bu Ning kepada JawaPos.com, Senin (12/3).

Ning menambahkan, permasalahan stunting tidak cukup dientaskan dengan kesehatan saja. Karena kesehatan hanya berpengaruh antara 20-30 persen saja. Tetapi ada faktor lain untuk mencegah terjadinya stunting pada bayi.

Yakni sanitasi, pemukiman, ekonomi. "Kalau perempuan hamil, suaminya nganggur dan tidak ada yang di makan maka anak yang dihasilkan bisa saja stunting," katanya.

Perempuan berhijab itu menjelaskan, suatu kondisi stunting adalah di mana pertumbuhan bayi tidak sesuai dengan standarnya. Karena pada usia tertentu pertumbuhan bisa dipantau. Salah satu alat yang digunakan untuk memantau pertumbuhan tersebut bernama tikar.

"Tikar ini adalah alat pendeteksi awal terjadinya stunting. Kalau alatnya sudah tersebar, termasuk juga di Solo," kata Ning.

Untuk mengantisipasi bertambahnya bayi dengan stunting salah satu upaya yang dilakukan oleh DKK yakni menggalakkan Posyandu, pemberian edukasi kepada ibu hamil. Terutama memperhatikan 1.000 hari pertama kehidupan bayi.

"Karena itu yang menentukan, kalau sampai terlambat bisa terkena (stunting)," tandasnya.

(apl/JPC)