Foto Bung Karno Dilarang, PDIP: Masa Pasang Syahrini







Aturan pelarangan pencantuman tokoh-tokoh bangsa dalam alat peraga kampanye, terus menuai polemik. Sejumlah kader partai politik memprotes 'inovasi' yang dibuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) tersebut.

Ketua Dewan Pembina Gerakan Marhaen Pecinta Tanah Air, Totok Sardjono mengatakan, KPU sudah berlebihan dalam membuat aturan. Menurutnya, pencantuman sosok tokoh bangsa tak melulu soal kepentingan politik, tetapi mengingatkan kepada masyarakat khususnya kader bahwa ada ikatan historis yang kuat antara si tokoh dengan partai.

"Contohnya PDI Perjuangan dan Bung Karno. Keduanya sama-sama melekat, tak bisa dipisahkan. Kelahiran PDIP tak lepas dari Bung Karno, relasinya sangat kuat," ujar dia kepada JawaPos.com, Jumat (2/3).

Towels-sapaannya- menjelaskan, memasang foto para tokoh bangsa seperti Bung Karno di alat peraga kampanye, sejatinya membawa pesan moril. Baik bagi si calon kepala daerah atau legislator maupun masyarakat.

"Maknanya apa, ketika kita ingin mengabdikan diri kepada masyarakat. Tirulah keteladanan mereka. Bagaimana para founding father kita berjuang dengan harta dan nyawa untuk bangsa. Itu maknanya," jelas pria yang juga Sekretaris PDI Perjuangan.

"Jadi kalau ada yang menuduh untuk menjaring suara, itu pikiran picik dan sempat akal. Sekalian aja pasang foto Syahrini kalau gitu," kelakar dia.

Towels berharap KPU berpikir jernih sebelum membuat aturan. Alih-alih membuat kondusif, beleid pelarangan tokoh di alat peraga kampanye justru berpotensi blunder.

"Yang semestinya dilarang itu, masang tokoh-tokoh yang menentang NKRI. Kalau orang mau pasang Jenderal Sudirman, KH Hasyim Asy'ari, BJ Habibie, ngapain dilarang. Mereka semua kan tokoh bangsa, gitu aja kok repot," pungkas Towels.

(mam/JPC)