Penyerangan Ulama: Saat Polisi Memburu Asap, Bukan Api


Kasus penyerangan ulama dan tempat ibadah masih belum menemukan kejelasan siapa pelaku dan apa motifnya. Juga, apakah ada keterkaitan antara serangan yang satu dengan yang lainnya.

Ketika rasa penasaran publik begitu tinggi untuk mengetahui pelaku dan motif serangan yang katanya dilakukan oleh orang gila, tiba-tiba polisi sibuk berasumsi tentang hoaksnya serangan ke ulama. Polisi juga kini sibuk memburu pelaku penyebar informasi hoaks serangan kepada ulama itu meski secara jelas dan nyata serangan itu ada.

Wakapolri Komjen Pol Syafruddin menyebutkan, peristiwa penyerangan kepada kiai atau pemuka agama di beberapa daerah belakangan ini lebih banyak isu hoaksnya. Ia memberi contoh di Jawa Barat yang dikabarkan ada 13 kasus penyerangan terhadap pemuka agama, tapi setelah ditelusuri hanya ada dua. "Yang 11 ada hoaks," kata Wakapolri di Surabaya, Rabu (21/2).

Di Jawa Timur juga hanya ada dua. Dari semua yang diberitakan ternyata lebih banyak adalah hoaks. Wakapolri mengakui ada kejadian penyerangan ulama namun informasi-informasi yang lainnya hoaks.

Dia menjelaskan, sebagai bentuk keseriusan polisi, pihaknya telah menurunkan tiga tim satuan tugas. Tim itu sudah dari tiga minggu yang lalu diturunkan di Jabar, Jatim, dan DIY Yogyakarta. Dia mengungkapkan, pelaku penyebar kabar bohong itu sudah diketahui oleh polisi.

"Isu yang dibangun oleh orang tertentu, sudah ketahuan siapa pelakunya dan akan dikembangkan. Pelaku akan dijerat UU ITE, karena mendesain informasi hoaks. Bukan karena mendesain penyerangan itu (kepada pemuka agama)," kata Wakapolri.

Polri menyebut ada oknum yang menciptakan hoaks menyertai penyerangan pemuka agama. Informasi hoaks tersebut difabrikasi sehingga menciptakan kegaduhan di masyarakat. "Misalnya isu penyerangan oleh orang gila yang dibesar-besarkan oleh oknum tertentu," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Iqbal .

Kabar hoaks ini mengalir yang mengaitkan antarkejadian kekerasan antarulama. Misalnya di Jawa Barat. Berdasarkan data Bareskrim Polri, peristiwa pidana yang korbannya adalah ulama berjumlah dua peristiwa. Namun, peristiwa pidana kekerasan biasa, tapi diviralkan seolah korbannya ulama dan pelakunya orang gila, mencapai empat peristiwa.

Bahkan, tidak ada peristiwa pidana, tapi difabrikasi hoaks seolah ada peristiwa dengan korban orang gila mencapai lima peristiwa. Bukan hanya itu, polisi juga dihoakskan di mana muncul berita bohong bahwa polisi seolah menangkap pelaku orang gila penyerang ulama sebanyak dua peristiwa.

Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto menyatakan, Polri sudah mengantungi para aktor penyebar hoaks. Terutama yang terkait dengan 'penggorengan' isu atas kekerasan terhadap pemuka agama belakangan ini.

"Hasil penyelidikan menemukan fakta bahwa itu semua hoaks. Tujuan hoaks itu justru untuk menggiring opini bahwa negara ini sedang berada dalam situasi dan kondisi yang seolah-olah bahaya," kata Ari dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/2).

Menurut Ari, di titik ini, masyarakat sebenarnya justru terjebak dalam skenario dari sutradara hoaks itu. Dia mengungkapkan, berdasarkan hasil penyelidikan, penyebaran hoaks itu memang terstruktur dan sistematis.

"Misalnya saja, dari media sosial. Diketahui ada puluhan ribu artikel pembahasan yang membahas dan berkorelasi dengan permasalahan penyerangan ustaz, ulama, dan tokoh agama," tutur Ari.

Kemudian para aktor itu mengaitkannya dengan isu kebangkitan PKI serta lainnya. Tujuannya jelas, membuat kegaduhan dan kekacauan dengan hoaks, ujarnya menambahkan.

Dari data yang berhasil dikumpulkan Bareskrim Polri, diketahui kabar hoaks itu tersebar di berbagai jejaring media sosial. Mulai dari bentuk artikel di platform Facebook, Google+, Media Massa, juga video di Youtube

Rangkaian penyerangan tokoh-tokoh agama dimulai dari penganiayaan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri. Kiai Umar menjadi korban penganiayaan seusai Shalat Subuh di masjid, Sabtu (27/1).

Setelah itu, muncul kasus baru yang bahkan menyebabkan kematian Komando Brigade PP Persis Ustaz Prawoto pada Kamis (2/2) pagi. Kemudian peristiwa penyerangan seorang pastur di Sleman, Yogyakarta, Ahad (11/1). Penyerangan itu menyebabkan Pastur Romo Karl Edmund Prier terluka bersama lima orang lainnya.

Yang terakhir, percobaan penyerangan terjadi terhadap KH Hakam Mubarok, yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Ahad (18/2).

Jangan gegabah simpulkan

Pakar Politik Universitas Airlangga Surabaya Prof Kacung Marijan meminta pihak polisi untuk tidak gegabah dalam menyimpulkan kondisi pelaku penyerangan kiai atau pemuka agama. Polisi harus memetakan untuk mengetahui dalang penyerangan terhadap ulama.

"Apa yang terjadi di Bandung bahkan terakhir di Ploso, Kediri, kita harus hati-hati. Ini harus ada pemetaan yang jelas terkait siapa sebenarnya yang terlibat dalam penyerangan. Apakah betul mereka orang gila," kata guru besar Ilmu Politik Unair itu di Surabaya, Kamis (22/2).

Menurut Kacung, polisi terlalu cepat dalam menyimpulkan kondisi pelaku. Jika benar pelaku penyerangan kepada pemuka agama adalah orang gila, maka perlu langkah-langkah ke depan seperti apa agar tak terjadi peristiwa serupa.

Langkah kedua yang perlu dilakukan polisi adalah menyelidiki kejadian tersebut hingga tuntas. Apakah benar pelakunya adalah orang gila itu karena kemauannya orang gila itu sendiri atau ada yang menyuruh. Sebab, ada juga orang gila yang disuruh.

Polisi juga, tambah Kacung, perlu melakukan investigasi yang lebih mendalam terkait pola penyerangan oleh orang yang disebut gila ini seperti apa. Apakah gila beneran atau tidak.

Hal hampir senada disampaikan Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun. Ia menilai aparat penegak hukum semestinya mengejar siapa di balik penyerangan terhadap tokoh dan simbol agama. Ia pun menyayangkan kondisi sekarang ini karena aparat justru malah memproses informasi hoaks terkait penyerangan tersebut.

"Hoaks ini jadi sumber kambing hitam. Saya mendengar pernyataan beberapa pejabat keamanan kita di dalam penganiayaan beberapa ulama akhir-akhir ini. Jadi yang diteliti itu hoaksnya, bukan ini," kata dia di Jakarta, Kamis (22/2).

Rico juga heran dengan kemunculan orang-orang gila yang melakukan penyerangan dalam waktu yang tampak diatur. Ia mengumpamakan, dalam memproses kasus penyerangan tokoh agama itu, semestinya yang dikejar adalah apinya dan bukan asapnya. Namun yang terjadi, aparat malah mengejar asap dengan mempermasalahkan sumber hoaks yang bermunculan.

Dalam survei Median, ditemukan bahwa ada 3,1 persen pemilih yang menganggap berita bohong atau hoax adalah hal yang paling meresahkan. Ini masih di bawah jika dibandingkan dengan kesenjangan ekonomi di Indonesia di mana dianggap pemilih sebagai hal yang paling meresahkan dengan persentase 15,6 persen.

Komnas HAM dalami kasus

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendalami kasus penyerangan terhadap pemuka agama yang terjadi di sejumlah daerah. Komnas HAM juga sedang mempelajari polanya.

"Kami sedang mempelajari ini bagaimana polanya. Apakah memang dilakukan sendiri atau sudah diatur," ujar Wakil Ketua Komnas HAM Sandrayati Moniaga di Jakarta, Kamis (22/2).

Komnas HAM akan memeriksa kebenaran mengenai pelaku, yang diduga merupakan orang gila. Sandrayati  mengungkapkan fakta-fakta yang diperoleh Komnas HAM dari pihak kepolisian maupun dari informan lainnya, akan diklasifikasi ke dalam pelanggaran berat atau biasa. "Kalau masuk pelanggaran HAM berat akan dibentuk tim dan sudah harus ada pemberitahuan ke Kejaksaan," kata dia.

Sebelumnya, Menko Polhukam Wiranto mengungkapkan dari total 21 kasus penyerangan tokoh agama dan rumah ibadah pada Desember 2017 hingga Februari 2018, sebanyak 15 kasus diduga dilakukan oleh orang gila. Terkait masalah itu, Presiden Joko Widodo telah meminta Polri untuk menuntaskan kasus-kasus tersebut.


antara