Kerap Terjadi Kecelakaan Proyek Infrastruktur, Ombudsman RI: Darurat Keselamatan


Terjadinya serangkaian kecelakaan yang terjadi pada proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, membuat salah satu Anggota Ombudsman RI, Alvin Lie, ikut angkat bicara. Alvin menyebut, kondisi tersebut sebagai krisis menuju darurat keselamatan.

Menurut Alvin, dari perspektif publik sebagai penerima manfaat, kecelakaan-kecelakaan tersebut telah menurunkan kepercayaan publik terhadap kualitas, keamanan dan keselamatan infrastruktur yang sedang dibangun pemerintahan Jokowi.

Presiden Jokowi dan menteri-menteri terkait perlu segera mengevaluasi kondisi ini yang sudah tergolong krisis menuju darurat keselamatan,” ujar Alvin melalui keterangan tertulis yang diterima Swamedium.com, Selasa (20/2).

Alvin menambahkan, kecelakaan beruntun pada sejumlah proyek infrastruktur dalam tiga bulan ini, sudah mengindikasikan adanya potensi maladministrasi dalam pembangunan infratruktur secara masif dalam waktu yang bersamaan.

“Perlu tindakan luar biasa utk menghentikan kecelakaan-kecelakaan ini dan mengantisipasi kecelakaan-kecelakaan berikutnya. Tidak bisa Business As Usual,” ucapnya.

Untuk itu, Alvin mendesak agar perhatian dari Presiden Jokowi selaku pemimpin tertinggi negara dapat lebih ditingkatkan. Selain itu, Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan terhadap seluruh aspek proyek infrastruktur tersebut.

Alvin pun merinci beberapa aspek yang harus ditingkatkan pengawasannya. Pertama, kedisipilinan terhadap Standar Prosedur Operasional (SOP) teknis.

Kedua, kepatuhan terhadap panduan Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Ketiga, teliti kembali kualitas, kompetensi dan jumlah tenaga kerja serta tenaga ahli yang dipekerjakan. “Pastikan seua memadai dan sesuai standar,” tandasnya.

Keempat, memastikan bahan yang dipakai sesuai spesifikasi teknis, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Kelima, memeriksa kembali kualitas dan jumlah alat berat serta peralatan kerja yang digunakan.

Keenam, tinjau kembali desain dan rencana kerja. “Apakah sudah mencakup aspek keamanan dan keselamatan terhadap curah hujan, banjir dan gempa,” jelas Alvin.

Kesembilan, tinjau kembali jadwal kerja, jumlah jam kerja dan istirahat pekerja.

“Jangan hanya kejar tayang namun abaikan aspek teknis dan K3. Tidak semua proses teknis dapat dipercepat. Manusia juga rawan terhadap fatigue (kejenuhan),” tegas Alvin.

Kesepuluh, tinjau kembali kapasitas kontraktor pelaksana proyek.
“Apakah kapasitas mereka benar-benar mampu melaksakanan sedemikian banyak proyek besar secara simultan?
Apakah sudah sesuai dgn amanat Perpres 54 tahun 2010 ttg Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah,” sergah Alvin.

Terakhir dan yang terpenting, Alvin meminta Pemerintah untuk segera memberikan santunan kepada korban yang cedera serta santunan bantuan bagi keluarga korban yang tewas.

“Sebagai wujud tanggungjawab,” tukasnya. (*/ls)


Swamedium