Ditanya Identitas, 'OGGB' Penyerang Kiai Mubarok Tutup Mulut


Wakil pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Mufti Labib, membenarkan, adanya penyerangan yang dilakukan pelaku orang gila gaya baru (OGGB) terhadap KH Hakam Mubarak (Putra KH Abdurrahman Syamsuri), pimpinan Ponpes tersebut. Mufti Labib juga merupakan adik dari Kiai Hakam.

Ustaz Labib mengatakan, kronologi kejadian penyerangan tersebut sudah tepat seperti yang telah diberitakan sebelumnya. Ia membenarkan, jika pelaku gila itu justru menyerang Kiai Hakam, lantaran Kiai menyuruh pelaku pindah dari tempat saat ia duduk.



Menurutnya, Kiai Hakam memintanya pindah karena sudah memasuki waktu shalat Zuhur, Ahad (18/2). Namun, orang gila tersebut justru menantang dan melawan Kiai Hakam, hingga menyebabkan Kiai terjatuh. Beruntung, kejadian itu segera dipisahkan oleh warga dan pelaku kemudian diamankan oleh pihak yang berwajib.



"Sebelum kejadian itu,  pelaku sudah mondar mandir di sekitar Ponpes sejak dua atau tiga hari sebelumnya,"  katanya.



Menurut informasi yang Republika.co,id, dapatkan sebelumnya, terdapat seorang laki-laki muda diduga gila duduk di pendopo rumah Yai Man. Kemudian, Kiai Hakam menyuruh orang gila tersebut untuk pindah. Akan tetapi, orang gila tersebut tidak mau dan akhirnya justru mengejar dan melawan Kiai Barok.



Saat ini, pelaku sudah diamankan di Polres Lamongan. Namun demikian, dikatakan Ustaz Labib, identitas pelaku masih belum diketahui. "Alhamdulillah kondisi Ponpes aman, santri tetap melakukan kegiatan sebagaimana biasa. Orang aneh itu sekarang di Polres Lamongan, sampai sekarang aksi tutup mulut, jadi belum diketahui identitasnya," kata Ustaz Labib melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Senin (19/2).

Aksi penyerangan terhadap ulama bukan kali pertama ini terjadi. Sebelumnya, penyerangan yang dilakukan oleh orang gila telah menewaskan seorang Ustaz Persatuan Islam (Persis) di Bandung dan melukai Kiai Umar Basyri (pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah di Tenjolaya, Cicalengka, Bandung).

Republik