Astagfirullah Ongkos Angkut Ikan dari Merauke Rp 4.300/Kg, dari China Rp 1.200/Kg



Ongkos atau biaya angkut logistik dari daerah timur ke barat Indonesia memang terkenal mahal. Namun tahukah jika harga angkut logistik dari timur ke barat Indonesia empat kali lebih mahal dibanding biaya angkut logistik dari China ke Jawa?

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama Perum Ikan Indonesia (Perindo) Risyanto Suanda. Saat ini biaya angkut logistik di dalam negeri masih mahal, Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau perlu solusi sebagai langkah penekanan biaya ongkos angkut.

"Logistik itu sekarang kita masih sangat mahal. Jadi kami ini banyak operasi menangkap ikan dan mendinginkannya di timur, kemudian kan ini dikirimkan dan di barangkatkan ke Jakarta biaya pengiriman dari timur. Saya contohkan di Merauke itu per kg-nya Rp 4.300, misalnya kita beli ikannya Rp 10.000 jadi harga pengirimannya sudah separuh dari harga ikan itu mahal nggak sehat," kata dia kepada detikFinance dalam obrolan santai akhir pekan lalu.

Bandingkan dengan ongkos angkut ikan dari China misalnya. Menurutnya biaya angkutnya lebih murah.

"Kalau dari luar saja angkutan bisa begitu murah kan. Kirim ikan dari China ke indoneia itu Rp 1.200/kg," tambah dia.

Biaya ongkos angkut yang tinggi membuat harga ikan menjadi mahal, hal ini membuat konsumen harus membeli ikan dengan harga yang lebih tinggi serta Perindo sebagai fasilitator pengadaan ikan di ibu kota harus menggunakan modal yang lebih tinggi juga.

Selain itu permasalahan mengenai rantai dingin yang dibutuhkan oleh untuk mengangkut ikan segara dari timur ke barat juga masih kurang. Risyanto menjelaskan, perjalanan angkutan ikan dari timur ke barat membutuhkan waktu hingga 2 minggu. Dalam durasi tersebut ikan disimpan di dalam kapal khusus berpendingin untuk menjaga kesegaran ikan.

"Perjalanan dari timur ke barat itu dua minggu. Kalau ke Surabaya 11 hari kemudian di Jakarta itu 14 hari itu ikan di kapal itu harus di dinginkan terus. Nah ini yang kadang belum tersedia dengan cukup, jadi kita masih kesulitan baik secara frekuensinya. Kita penginnya mau seminggu sekali, kadang-kadang nggak ada seminggu sekali, ada dua minggu bahkan sebuah sekali kan ini problem," ujarnya. (dna/dna)

DETIK