Yahudi Ortodoks Ini Ungkap Kerinduan Masa Kekhalifahan Utsmani


Ben Tziyon Margilit, seorang Yahudi Ultra-Ortodoks (Yahudi Haredi), menyebut Zionis Israel saat ini menindas orang-orang Palestina dan kaum Yahudi yang taat. Margilit pun mengungkapkan kerinduan saat hari-hari terbaik warga Yahudi di bawah Kekhalifahan Utsmani.

Pada hari Selasa (3/04) kemarin, kelompok Yahudi Haredi berkumpul di Al Quds memprotes keputusan Pengadilan Pidana Perdamaian Ashkelon yang melakukan autopsi—sebuah praktik yang secara tegas dilarang oleh kelompok Yahudi Haredi—pada seorang anak berusia  1 bulan yang meninggal hari Senin (2/4).

“Kami ingin (memakamkan) jasad anak itu, tetapi mereka (otoritas penjajah Zionis) ingin melakukan autopsi,” ujar Ben Tziyon Margilit, yang turut melakukan aksi protes, kepada Anadolu Agency. “Mereka tidak akan membiarkan kita mengubur jasad (anak) tersebut,” terangnya seperti dikutip Kantor Berita Anadolu, Rabu (4/4).



Berkenaan dengan isu sensitif dari hukum penjajah Zionis “Israel” tentang wajib militer, Margilit mengatakan, “Mereka juga memberlakukan wajib militer terhadap orang-orang yang taat yang tidak memiliki kesamaan (pandangan) dengan ‘Israel’ yang sekuler.”

Memperhatikan struktur politik “sekuler Zionis Israel”, ia menyesalkan. “Kami hanya ingin menjalani kehidupan Yahudi, tetapi mereka (otoritas penjajah) melanggar hari Sabat (hari istirahat Yahudi pada Sabtu) dan gagal dalam melaksanakan kewajiban agama mereka,” terang Margilit.


‘Zaman Keemasan’ Ottoman

Margilit pun mengungkapkan bahwa Kakek-nenek kami mengatakan kepada kami bahwa era Ottoman (Kekhalifahan Turki Utsmani) adalah zaman keemasan bagi orang Yahudi di Palestina.

“Hari ini, orang-orang Yahudi yang taat—bersama dengan warga Palestina—menghadapi penindasan (penjajahan) Zionis Israel,” ujar Margilit.

Margilit melanjutkan, “Kami ingin orang Turki (Kekhalifahan Ottoman) kembali. Kami ingin seperti itu sebelum ‘Israel’ didirikan.”


Sultan Abdul Hamid II

“Israel ingin menjadikan (Palestina) sebagai negara sekuler, bukan negara Yahudi yang memenuhi kewajiban agama.”

Ketika mereka mengetahui bahwa wartawan Anadolu Agency yang meliput aksi protes mereka berasal dari Turki, beberapa orang Yahudi Haredi kontan meneriakkan slogan-slogan yang menyeru Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Tolak wajib militer

Yahudi Haredi di Palestina berjumlah 11% dari total penduduk ilegal “Israel”. Mereka bereaksi terhadap keputusan pengadilan penjajah baru-baru ini dengan menutup Alun-alun Sabat di Al-Quds untuk lalu lintas dan pengaturan tempat pembuangan sampah.

Menurut polisi penjajah, lima orang Yahudi Haredi ditangkap dalam unjuk rasa itu karena dianggap “mengganggu ketenangan”.

Pada hari yang sama, orang-orang Yahudi Haredi berkumpul kembali di sepanjang Meah Shearim, sebuah jalan di dekat aksi semula, tetapi segera dibubarkan oleh polisi penjajah.

Dikenal karena topi hitam, mantel hitam panjang dan sidelock panjang mereka, Yahudi Haredi baru-baru ini mengorganisir protes di seluruh negeri untuk mengekspresikan penolakan mereka terhadap wajib militer penjajah Zionis. (s-o/ram)