Untuk Sukmawati: Mudah-mudahan Suatu Saat Kau Bisa Menikmati Suara Adzan


Puisi karya Sukmawati Soekarnoputri yang berjudul ‘Ibu Indonesia’ terus menuai polemik dan pro-kontra di kalangan publik.

Penyebabnya, pusisi tersebut dianggap memiliki unsur provokasi berbau suku, ras, agama dan antargolongan (SARA).

Terutama saat ia membandingkan cadar dengan konde serta adzan dengan kidung.

Menanggapi hal itu, Ketua PP Pemudah Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak membalasnya dengan juga sedikit berpusisi.

Hal itu ia sampaikan dalam akun twitter pribadi miliknya, Senin (2/4/2018) sekitar pukul 17.48 WIB.

Menurutnya, sah-sah saja jika Sukmawati dengan puisi karyanya itu.

“Bagi saya Puisi Bu Sukmawati Soekarno Putri adalah subyektifitas dia,” buka Dahnil.

Karib penyidik senior KPK Novel Baswedan itu pun mengaku tak mempermasalah Sukmawati yang menganggap suara adzan tak semerdu kidung.

“Dia merasa suara adzan tak merdu. Bagi ku tak apa, karena suara itu teramat merdu memanggil,” lanjutnya.

Kendati demikian, ia tetap menghargai puisi karya Sukmawati itu.

Akan tetapi, ia juga berharap agar suatu saat nanti, putri proklamator kemeerdekaan RI Soekarno itu bisa menikmati suara adzan.

“Aku menghargai kau tak bisa menikmati suara adzan. Mudah2an suatu saat kau bisa menikmati suara adzan,” tutupnya dengan hastag #TakApa.

Sebelumnya, Sukmawati mengaku sama sekali tak menyiggung soal SARA dalam puisi yang ia buat itu.

Ia menegaskan apa yang dia tulis itu adalah suatu realitas tentang Indonesia.

Dalam menciptakan puisi itu, katanya, dirinya menyelami lebih dulu pikiran rakyat indonesia.

Utamanya dari daerah yang tak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, Bali dan daerah lainnya.

“Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sukmawati menegaskan bahwa apa yang ada di dalam puisi karyanya itu adalah pendapatnya secara jujur.

“Soal kidung ibu pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong,” katanya.

Sebab menurutnya, tak selalu orang yang mengumandangkan azan itu bersuara merdu.

“Itu suatu kenyataan. Ini kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu,”

“Itu kan suatu opini saya sebagai budayawati,” jelas Sukmawati.

Ia kemudian menyarankan orang-orang yang mengumandangkan azan adalah orang-orang pilihan dengan suara merdu dan enak didengar sebagai panggilan waktu shalat.

“Kalau tidak ada, akhirnya di kuping kita kan terdengar yang tidak merdu,” sambungnya.[pojoksatu]


eramuslim