Terbongkar, Inikah Data Bank Dunia yang Dikutip Prabowo dan Amien Rais? Siapa Yang Dusta????


Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menyatakan 80 persen tanah tak dikuasai oleh rakyat adalah hal yang tidak benar. Menurut Prabowo, pernyataannya ini didukung oleh Bank Dunia (World Bank).

"Bank Dunia mengiyakan, 1 persen rakyat Indonesia menguasai hampir 40 persen kekayaan Indonesia, ini adil atau tidak?" kata Prabowo dalam pidatonya di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Margonda, Depok, Minggu (1/4/2018).

Pernyataan ini untuk menguatkan kalimat Prabowo sebelumnya yang membahas soal ketimpangan kepemilikan lahan. Prabowo merujuk pada UUD 1945.

"Di pasal 33 (UUD 1945) Ayat 3, 'bumi, air dan kekayaan alam, diatur oleh negara'. Tidak benar tanah 80 persen dikuasai (rakyat), (tapi) 1 persen," ujar Prabowo.

Sebelumnya Ketua Dewan Pembina PAN Amien Rais pun mengungkap data soal 74 persen tanah di Indonesia dikuasai segelintir orang. Belakangan putranya yang juga Waketum PAN, Hanafi Rais, menyebut data itu berasal dari Bank Dunia yang dikutip oleh Komnas HAM dan dimuat oleh media online CNN Indonesia.

"Saya ambil contoh, Komnas HAM tercatat pada September 2016 itu mengatakan bahwa data atau informasi 74 persen tanah dikuasai 0,2 persen penduduk itu disebutkan berdasarkan dari Bank Dunia oleh Komnas HAM, saya membaca itu. Tentu informasi itu sudah jauh-jauh hari ada, semua bisa buka itu," kata Hanafi di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (29/3).

detikcom sudah menghubungi Ketua Komnas HAM periode 2012-2017 Hafid Abbas. Hafid adalah pihak yang pernyataannya dikutip cnnindonesia.com soal 74% lahan di Indonesia dikuasai 0,2% penduduk. Saat dihubungi detikcom pada Rabu (21/3) lalu, Hafid mengklaim mendapat data dari Bank Dunia keluaran 15 Desember 2015. Namun Hafid tak bisa menunjukkan dokumen yang dikutipnya.

Sementara itu Prabowo tak menjelaskan lebih rinci soal data Bank Dunia tahun berapa yang dia pakai. Namun menurut penelusuran detikcom, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Sandiaga Uno pernah memamerkan cetakan hasil riset Bank Dunia.

Kala itu Sandiaga masih merupakan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang menghadiri konsolidasi di kediaman Prabowo, Jl Kertanegara, Jakarta Selatan pada Jumat 10 Maret 2017. Sandiaga mengenakan kemeja putih dan peci hitam memegang cetakan riset itu dengan tangan kanannya.

Riset tersebut berjudul 'Ketimpangan yang Semakin Lebar' dengan sampul bergambar wajah 2 anak kecil hitam putih, satu tersenyum dan lainnya tanpa ekspresi. Ada simbol 'sama dengan' yang diberi warna merah dan putih seperti bendera Indonesia.

detikcom menelusuri data tersebut di situs resmi Bank Dunia. Riset itu dipublikasikan Bank Dunia pada Maret 2016.

"Pengentasan kemiskinan mulai stagnan, dengan penurunan yang mendekati nol pada tahun 2014. Ketimpangan pendapatan naik dengan cepat dan hampir sepertiganya berasal dari ketimpangan kesempatan," tulis Country Director World Bank for Indonesia, Rodrigo A Chaves, dalam kata pengantar laporan tersebut seperti dikutip detikcom, Senin (2/4/2018).

Laporan itu terdiri dari 150 halaman yang juga menawarkan solusi untuk mengentaskan ketimpangan. Laporan itu tak secara khusus menyoroti soal kepemilikan lahan atau tanah.

Laporan itu menuliskan pada tahun 2015, Indonesia menjadi negara yang semakin tidak setara. Disebutkan pula soal ketimpangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Berikut kutipan Ringkasan Eksekutif laporan tersebut:

Sejumlah kecil orang Indonesia yang beruntung memiliki akses ke aset keuangan dan fisik (seperti tanah dan properti) yang membuat kekayaan mereka meningkat seiring waktu. Kekayaan ini diwariskan dari generasi ke generasi, baik dalam bentuk uang maupun aset fisik, dan melalui akses lebih besar pada kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Alhasil, ketimpangan semakin berlipat ganda dan semakin lebar seiring berjalannya waktu.

Soal data 1 persen orang terkaya RI menguasai hampir 40 persen kekayaan negara yang diungkap Prabowo tak secara persis ditulis di laporan tersebut. Namun Bank Dunia mengungkap data soal persentase konsumsi. Berikut kutipannya:

Berdasarkan sebagian besar pengukuran, ketimpangan di Indonesia telah mencapai tingkat yang tinggi. Pada tahun 2002, 10 persen warga terkaya Indonesia mengonsumsi sama banyaknya dengan total konsumsi 42 persen warga termiskin, sedangkan pada tahun 2014 mereka mengonsumsi sama banyaknya dengan 54 persen warga termiskin.

Selain itu ada pula data lain yang diungkap oleh Bank Dunia soal kekayaan. Berikut kutipannya:

Sepuluh persen orang Indonesia terkaya menguasai sekitar 77 persen dari seluruh kekayaan di negeri ini. Satu persen orang terkaya bahkan memiliki separuh dari seluruh kekayaan, menempati posisi tertinggi kedua (bersama Thailand) setelah Rusia dari 38 negara. Ini berarti pendapatan dari aset keuangan dan fisik dinikmati lebih sedikit rumah tangga di Indonesia dibandingkan di banyak negara lain.
(bag/tor)