Sukmawati, Puisimu Tak Seharum Arti Namamu


Para sastrawan terdahulu menciptakan berjuta karya tanpa melukai hati serta menimbulkan prahara.

Para penyair terdahulu, meliukan kidung-kidung indah yang dapat membuncahkan rasa cinta bukan memicu bencana

Kata Ibu adalah kata termulia yang ada didunia, Tapi dalam puisimu kau rusak maknanya kau cabik dengan hujaman dengki semata.

Ibu Indonesia, seharusnya menjadi ibu yang paham segala hal, Ingat Ibu setiap kita adalah manusia serba tau yang memahami apapun yang ditanyakan sejak kecil dulu. Bukan membandingkan syariat Islam dengan kedengkian yang seolah manis itu.

Ibu Indonesia, sangat menghargai panggilan-panggilan suci, terlebih panggilan illahi melalui corong menara-menara masjid yang tegak berdiri.

Ibu Indonesia, menghargai ketetapan hati para calon bidadari surga yang ingin lebih menutupi diri dengan hijab mereka yang syar’i. Bukan malah membenci cadar penutup diri

Sukmawati, para penukil kata sejak dulu tak pernah menebar benci, mereka berusaha mempasrahkan diri dalam menulis setiap bait berharap memperoleh restu sang Robbi disetiap kata-kata yang tersaji.

Sukmawati, para pengukir prosa sejak dulu tak pernah menebar dengki, karena mereka sadar betapa sucinya bahasa-bahasa kontemplasi.

Sukmawati, sayang sekali pikiran picikmu tak seharum arti namamu, baiknya kau ganti namamu menjadi Dengkihati, agar bung karno tak bersedih hati, melihat putrinya membuat kata-kata benci dalam puisi sensi.

Kawendra Lukistian