Sudah Tepat Laporkan Sukmawati Ketimbang Gelar Aksi


Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mujahid menilai laporan polisi Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) dan pihak lain terkait puisi kontroversi Sukmawati Soekarnoputri sudah tepat, ketimbang harus melakukan aksi demo di jalanan.


Laporan pengaduan ke polisi lebih baik daripada demo besar-besaran," kata Sodik saat berbincang dengan redaksi, Selasa (3/4).

Sebab, menurut dia, aksi demo di jalanan secara besar-besaran bisa saja menyebabkan kegaduhan hanya karena ditumpangi oleh kepentingan tertentu. Jika demo itu nanti ditumpangi kepentingan tertentu, dipastikannya akan terjadi kegaduhan.

"Saya berharap umat Islam lebih bersabar. Tidak melakukan demo yang bisa jadi akan ditumpangi menjadi sebuah kegaduhan," ujarnya.

Lebih lanjut diharapkannya kedua belah pihak segera melakukan mediasi untuk berdamai. Pihak kepolisian, dalam hal ini Bareskrim Mabes Polri kata dia haruslah menindaklanjuti laporan yang dilakukan atas salah satu putri proklamator Bung Karno itu. Namun sebelum menindaklanjuti, diharapkannya polisi bersedia untuk melakukan mediasi atas kedua belah pihak.

"Semoga sebelum laporan atau pengaduan difollow up oleh pihak kepolisian, musyawarah segera dilakukan atau pihak kepolisian menjadi mediator," harapnya.

Ditekankannya lagi bahwa Umat Islam haruslah tetap bersabar. Sukmawati pun didesaknya untuk segera meminta maaf kepada Umat Islam dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut. Sebab tidak sedikit Umat Islam yang tersinggung atas puisi berjudul 'Ibu Indonesia' yang dinilai telah menyudutkan syariat Islam, adzan dan cadar.

"Kepada semua pihak diminta untuk hati-hati jika bicara atau bertindak menyangkut masalah SARA. Terutama menyangkut nilai akidah dah syariah atau ibadah," demikian politisi Partai Gerindra ini.

FUIB melaporkan Sukmawati yang juga adik kandung dari Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri itu lantaran puisi berjudul 'Ibu Indonesia' yang dibacakannya dalam ajang ajang Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Jakarta beberapa waktu lalu.

FUIB menilai dua penggalan puisi tersebut sangat menyinggung umat Islam. Dimana terdapat beberapa kalimat yang mengandung unsur SARA diantaranya adalah "Sari Konde sangat indah lebih cantik dari cadar dirimu" dan
"Suara kidung Ibu Indonesia lebih merdu dari alunan Adzan". [rus]