Rocky Gerung Disamakan Dengan Hitler


Direktur LP3ES Rustam Ibrahim mengungkapkan penilaiannya terhadap Rocky Gerung.

Dilansir TribunWow.com, hal itu tampak dari unggah akun Twitternya pada Jumat (13/4/2018).

Rustam Ibrahim menilai jika Rocky Gerung mengabaikan aspek-aspek lain kehidupan dan hanya menempatkan dirinya berdasarkan superioritas intelektual.


@RustamIbrahim: Menurut penilaian saya Rocky Gerung @rockygerung telah menempatkan dirinya berdasarkan superioritas intelektual,

menilai orang lain semata-mata berdasarkan kecerdasan, dan mengabaikan aspek-aspek lain dari kemanusiaan.

Sikap itu menurutnya adalah salah satu wujud dari naziiisme Hitler.

Jika Hitler berkaitan dengan superioritas ras, maka superioritas intelektual adalah atas kemampuan berfikir.

@RustamIbrahim: Sikap yang mengagung-agungkan superioritas intelektual, menurut pendapat saya merupakan salah satu wujud dari naziisme Hitler.

Bedanya naziisme atas dasar superioritas ras, superioritas intelektual atas dasar kemampuan berfikir.


Ia juga menyebutkan jika orang angkuh menganggap dirinya sempurna.

@RustamIbrahim: Orang yang angkuh menganggap dirinya sempurna.

Inilah bahaya utama dari arogansi.

Keangkuhan mengganggu tugas utama seseorang dalam hidup - yakni menjadi orang yang lebih baik - Leo Tolstoy


Diberitakan sebelumnya, Rocky Gerung menjadi sorotan publik usai mengatakan jika kitab suci adalah fiksi.

Hal itu ia lontarkan dalam acara ILC, Selasa (10/4/2018).

"Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi," kata Rocky Gerung.

Rocky Gerung mengatakan jika kitab suci adalah fiksi karena belum selesai dan tiba.

"Jadi ada fungsi dari fiksi, untuk mengaktifkan imajinasi, menuntun kita untuk berfikir lebih imajinatif.

Sekarang kata itu dibunuh oleh politisi," kata Rocky Gerung.

"Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah fiction, dan itu berbeda dengan fiktif," imbuhnya.


Rocky Gerung menjelaskan jika fiksi berbeda dengan fiktif.

Fiksi merupakan suatu hal yang baik, kebalikan dari fiktif.

Rocky Gerung menyebutkan jika fiksi itu kreatif, sama seeprti orang beragama yang terus kreatif dan menunggu telosnya (akhir, tujuan, sasaran-dalam bahasa Yunani).

Atas ucapan tersebut, Rustam Ibrahim bahkan membuat sebuah poling di laman Twitternya.
Dari hasil poling tersebut, terlihat responden yang memberikan suaranya sebanyak 1.645 akun.

Dari akun-akun tersebut, 58 persen sangat tidak setuju jika kitab suci adalah fiksi.

@RustamIbrahim: Hasil POLLING saya menemukan bahwa 76 persen responden (N = 1.645) menyatakan tidak setuju dengan pendapat @rockygerung bahwa KITAB SUCI adalah FIKSI.

58 persen diantaranya menyatakan sangat tidak setuju.

Mudah2an mereka yang tidak setuju ini tidak akan disebut dungu, bong, IQ 200 sekolam.

@RustamIbrahim: Anda boleh saja punya arogansi tertentu, dan saya pikir itu baik-baik saja,

Tapi yang seharusnya tidak pernah Anda hilangkan adalah rasa hormat terhadap yang lain - Steffi Graf. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)