Kemenag Susun Direktori Rumah Ibadah Bersejarah, Ada Apa?


Kementerian Agama (Kemenag) melalui Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi (LKKMO) mulai menggarap proyek unggulan di bidang khazanah keagamaan tebaru, yaitu Buku Direktori Rumah Ibadah Bersejarah.

“Nantinya buku ini akan dikemas menjadi naratif dengan bahasa populer dan dilengkapi gambar yang visualistik,” ujar Kepala Puslitbang LKKMO Kemenag, M Zain di Jakarta, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Selasa (3/4).

Buku itu nantinya akan disusun berdasarkan klasifikasi arsitektur dan ornamen vernacular yang sarat akulturasi budaya sebagai simbolisasi moderasi agama. Menurut Zain, program ini dijalankan dengan tujuan melestarikan rumah ibadah bersejarah yang menjadi cermin simbol identitas dan jati diri bangsa Indonesia.



Sementara itu, Kabid Khazanah Keagamaan Puslitbang LKKMO Kemenag Yasin menyebut seperti Masjid Kudus yang menara dan bedugnya hasil perwujudan akulturasi Islam dan Hindu bisa menjadi contoh betapa kayanya Indonesia dengan berbagai rumah ibadah bersejarah.

Juga contoh lain seperti inskripsi keagamaan bertuliskan aksara Arab di pintu Masjid Sunan Giri dan tiang Masjid Pulo Kameng Aceh yang berisikan informasi sejarah berdirinya rumah ibadah turut menambah keunikan dan khazanah kebudayaan Indonesia.

“Rumah ibadah bersejarah tentu menjelaskan jejak penyebaran agama-agama Indonesia, termasuk tokoh agama dan nilai-nilai moderatnya,” ujar Zain.


Sebelumnya, dalam beberapa tahun belakangan ini, Puslitbang LKKMO Kemenag telah mengeluarkan berbagai produk unggulan yang sarat khazanah keagamaan dan budaya Indonesia. Contoh seperti Al Quran yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti Kaili, Banyumas, Minang, Sasak, Mongondow, Batak, Angkola, Kanayat, Toraja, Ambon, Bali, serta Banjar. (hls)

eramuslim