Kata Ketua PBNU Soal Rocky Gerung dan Teks Suci yang Fiksi


Kitab suci itu fiksi atau bukan? Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi maka kitab suci itu adalah fiksi karena belum selesai, belum tiba.

Kutipan yang disampaikan Rocky Gerung dalam acara Indonesian Lawyers Club (ILC) itu membuat sebagian kelompok tersentak, terperangah kemudian terdiam. Terdapat pula kelompok masyarakat yang tersengat dan mengambil kuda-kuda reaksi secara hukum.


Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sulton Fatoni mengatakan gambaran di atas menunjukkan kondisi masyarakat saat ini yang semakin buram. "Itulah wajah buram masyarakat Indonesia pasca Jokowi terpilih sebagai Presiden dan semakin menajam saat proses pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang dimenangkan Anies Baswedan," ujar Sulton kepada Republika, Ahad (15/4).

Dosen Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Jakarta Ini menjelaskan, narasi di atas menggunakan awalan kata kalau. Dengan demikian, Rocky sebenarnya ingin menggiring publik untuk mendiskusikan tentang teks suci terbatas dalam perspektif ketuhanan, fiksi dan imajinasi.

Karena itu, dia mengatakan, akan kehilangan relevansi jika berbantah-bantahan dengan perspektif lain di luar tema tersebut. Di sisi lain, menurut dia, diskursus tentang teks suci di dunia Barat juga tak pernah usai.

Gladys Hunt, seorang aktivis InterVarsity Christian Fellowship, Cedar Campus, Michigan Amerika Serikat pernah mengatakan fiksi adalah membentuk, membayangkan sesuatu yang abstrak dengan cara menggambarkannya. Karena itu, kata Sulton, basis fiksi itu sastra tentang sesuatu yang imajiner.

"Sebuah cerita dikreasi bukan berarti itu tidak benar. Maka Tuhan itu imajinatif sedangkan manusia diciptakan sebagai gambaran (image) Tuhan. Sedangkan Bibel adalah antologi yang berisi puisi, kisah petualangan, misteri dan lainnya. Karena itu Bibel adalah buku sastra, karya seni dan itu imajinatif," jelas Sulton mengutip pernyataan Hunt.

Sulton melanjutkan, apabila Barat berbicara tentang agama, bahkan Tuhan sekalipun, berarti mereka sedang berdiskusi tentang teks suci. Reformasi Protestan sangat mementingkan teks suci untuk memahami agama.

Dengan demikian, kajian atas teks suci pun menyentuh aspek kesusastraan. Karena itu, aspek sastra yang menguniversal menjadi alat untuk mengidealkan agama dan meletakkannya ke dalam dunia teks yang abstrak.

"Namun saya tidak menemukan konklusi kajian dari sarjana Barat yang secara tegas mengatakan bahwa Bibel itu fiksi," katanya.

Jika Barat melihat Bibel dengan pendekatan khusus berorientasi teks (text oriented approach) dengan menempatkan imajinasi sebagai faktor penting meski diakui tak selalu benar, lalu bagaimana orang Timur berpendapat tentang teks suci? Menurut Sulton, para sarjana Muslim tidak mengategorikan Alquran sebagai sebuah teks, tetapi fokus kepada kajian Alquran sebagai bagian dari sifat Tuhan.

Alquran diterima Muhammad dalam susunan tutur yang tidak dalam bentuk teks, meski saat ini terdapat teks yang menggambarkan Alquran. "Maka tidak mungkin Alquran yang tidak berbentuk teks itu divonis fiksi. Perdebatan di internal sarjana Muslim juga terjadi, namun bukan pada kajian teks tapi pada status Alquran itu sebagai hasil kreasi yang bersifat baru atau bukan," tuturnya.