Jawaban Mahfud MD saat Ditanya Apakah Jokowi Seperti Umar bin Khattab? Netizen Cerdas Amat




Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mendapat pertanyaan terkait Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Umar bin Khattab.

Pantauan TribunWow.com, hal tersebut terlihat dari laman Twitter @mohmahfudmd pada Sabtu (14/4/2018).

Awalnya, Mahfud MD menceritakan jika dirinya merasa tentram usai melakukan ibadah tahajud dan membaca Quran.


@mohmahfudmd: Ya Allah, Alangkah tenteram hati hamba ini stlh bertahajjud dan membaca Qur'an kitab suci-Mu di tengah malam ini.
Berbeda dgn membaca fiksi spt karya Harry Potter, stlh membaca kitab suci-Mu hati hamba menjadi hangat, ingin Istiqomah, optimis, dan penuh harap akan berkah-Mu.



Postingan tersebut kemudian ditanggapi oleh akun @BobyRahmat yang menanyakan "Ibadah Riya?"

Mahfud Md kemudian menjelaskan jika ibadah riya itu merupakan hal yang dilarang.

Ia lantas memberi contoh Umar bin Khattab yang selalu mengumumkan zakatnya.

Sementara Abu Bakar sebaliknya, malah menyembunyikannya.

Menurut Nabi, apa yang dilakukan oleh Umar adalah hal yang bagus, begitu pula dengan Abu Bakar.

@mohmahfudmd: Ibadah yg Riya’ itu dilarang dan mendustai agamanya.

Umar ibn Khatthab selalu mengumumkan zakatnya, Abu Bakar selalu menyembunyikan zakatnya.

Kata Nabi, Umar bagus, bkn riya, krn mengingatkan orng utk berbuat sama,

Abu Bakar bagus krn tawadhu’ & beramal tanpa ingin diketahui orng.


Tanggapan tersebut kemudian dikomentari oleh @UmarSandi5 yang meminta agar Mahfud MD memberikan contoh salat Tahajud.

@UmarSandi5: Klo bahas tahajjud mesti contohnya jg tahajjud prof,

supaya ada pencerahan misalnya dulu ada sahabat yg umumkn tahajjudnya kmudian Nabi mengatakn itu bagus,.

Mahfud MD lantas menurutinya dengan memberikan contoh tahajjud.

@mohmahfudmd: Ya, itu tambahannya.

Umar ibn Khotthab bertahajjud sblm tidur menjelang tengah malam, Abu Bakar selalu bertahajjud stlh tidur dulu.

Kata Nabi, keduanya bagus krn Umar ber-hati2 agar tak tinggalkan tahajjud krn kebablasan tidur sedang Abu adl orng yg disiplin menjaga ibadahnya.



Cuitan itu dikomentari oleh akun @bumidamai yang menanyakan apakah Presiden Joko Widodo (Jokowi) sama dengan Umar yang memberi beras sekarung kepada rakyat pada tengah malam?

@bumidamai: Apakah @jokowi seperti Umar bin khottob yang ngasih beras sekarung ke rakyatnya tengah malam.

Tanpa ada bawa wartawan? @mohmahfudmd


Mendapat pertanyaan seperti itu, Mahfud MD memberi jawaban, jika pada zaman old bellum ada wartawan, koran, hingga TV.

Meski demikian, sudah ada fungsi-fungsi kehumasan.

@mohmahfudmd: Waktu zaman old era Umar ibn Khatthab belum ada wartawan, Bro.

Belum ada koran dan tipi.

Tapi fungsi kehumasan sdh ada sesuai zamannya.

Makanya yg dilakukan oleh Umar menjadi atsar, kisah yg terwariskan scr resmi krn diberitakan sejak awal oleh humasnya.

Ada ribuan contoh atsar (Pengertian atsar menurut bahasa sama artinya dengan khabar, hadits dan sunnah. Sedangkan pengertiannya menurut istilah yaitu segala sesuatu yang berasal dari sahabat yang juga disandarkan kepada Nabi SAW-red).


Jawaban Mahfud MD kemudian kembali mendapat komentar dan ia pun balik memberikan tanggapan seperti di bawah ini.

@iNuyhawhadne: Umar bukan PEMBOHONG dan humas nya bukan PENJILAT, dulu sahabat Umar tak ada Penjilat, sekarang baaanyaakkk mungkin pengen diangkat jadi minimal Komisaris BUMN.

@mohmahfudmd: Salah juga tuh. Zaman Nabi pun ada yg pengen dpt jabatan.

Makanya ada hadits terkenal ketika Nabi bersabda kpd Abdurrahman bin Samurah, “Laa tas’alil ‘imaarah...”, jangan kamu minta jabatan itu karena kalau.....dst.

@Husni_Tan: Umar bin Khattab tidak anti kritik...

"Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku," -Umar bin Khattab RA-



@mohmahfudmd: Memang.

Khalifah Umar, Abu Bakar, dan yg lain selalu bilang luruskan saya kalau menyimpang.

Imam Syafii dan pendiri madzhab yg lain mengatakan,

“jgn ikuti pendapatku jika menurutmu menyimpang dari Qur’an dan Sunnah”. Jd kritik blh sj.

Tp kritik yg bengkok ya boleh dikritik juga.

@Abduroh57621794: Kalau hanya untuk menjatuh kan itu bukan kritik

Dan umar bin khottob pun tidak pernah mengusulkan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

@mohmahfudmd: Pd suatu khuthbah, Umar bilang, “Luruskan sy jika menyeleweng”. Seorang jamaah berteriak, “Akan kuluruskan dgn pedangku ini jika Engkau menyeleweng, Umar”.

Jd mengritik itu boleh, tp jgn mengritik kalau hny ingin mendapat kesempatan korupsi di kekuasaan. Ini dl sdh sy kultwitkan. (TribunWow.com/Lailatun Niqmah)