Andik Kandung Sukmawati Minta Masyarakat Jernih soal Puisi Sukmawati yang Singgung Azan


Puisi Sukmawati Soekarnoputri banyak diperbincangkan publik. Sukma menyinggung soal syariat islam, cadar, hingga lantunan azan yang kalah merdu dari kidung.

Video Sukmawati di acara Anne Avantie akhir pekan lalu, banyak mendapat respons dari publik. Menyebar di media sosial dan WhatsApp group kecaman untuk Sukmawati.

Namun gaduh soal puisi ini, Guruh Soekarnoputra memberi tanggapan. Adik Sukmawati itu meminta agar publik bisa berpikir jernih soal puisi yang dibacakan Sukmawati.

"Ya itulah yang mungkin, ya itulah yang terjadi. Tapi tentunya, yang kita inginkan adalah kita semuanya berpikir jernih. Berpikir dan berbuat bijaksana dalam segala hal," ucap pendiri Kinarya GSP ini di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (3/4).


Setelah diperbincangkan banyak orang dan menjadi viral, Guruh mengaku belum berkomunikasi soal puisi tersebut dengan Sukmawati. Guruh terakhir bertemu dengan Sukmawati di kediaman Rachmawati waktu melayat suami Rachmawati, Benny Soemarno, yang meninggal dunia.

"Kami enggak membicarakan soal itu. Saya ketemu Mbak Sukma. Karena kemarin juga suami dari Mbak Rachmawati juga meninggal," tutur Guruh Soekarnoputra.

kumparan (kumparan.com) sudah mencoba mengontak Sukma namun telepon selulernya tak aktif.
Berikut puisi Sukma yang ramai itu:

Puisi Ibu Indonesia
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi dan kreatif
Selamat datang di duniaku
Bumi ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung ibu Indonesia sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu
Gemulai gerak tarimu adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damai mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi

Pandanglah ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini
Cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya


kumpara