Waspada, Semua Indikator Ekonomi Indonesia Memburuk


Target Jokowi-Jk sejak 2014 berkuasa adalah pertumbuhan ekonomi 7%, namun yang bisa dicapai 5%. Nilai kurs memburuk ke Rp13.800/dolar AS, ekspor anjlok, neraca perdagangan defisit, daya beli rakyat  memburuk dan utang membengkak Rp7000 trilyun. Semua indikator ekonomi sudah menunjukkan ekonomi RI terpuruk. Demokrasi liberal berbuah gejala negara gagal.   Mahasiswa dan emak-emak siap desak Jokowi-JK melempar handuk,  dan kita khawatir antar kelompok masyarakat ada saling kutuk. Demikian para analis dan peneliti.

Sepanjang 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,07 persen. Pencapaian itu lebih rendah dari target 5,2 persen. Presiden Joko Widodo pun mengatakan bahwa akan terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Ya angka berapa pun kita harus ditingkatkan lagi. Lebih banyak opportunity dan peluang-peluang itu harus kita ambil,” kata Jokowi di kantor Wakil Presiden RI, Jakarta, Selasa (6/2/2018).

Pengamat ekonomi Salamuddin Daeng bilang, pertumbuhan di subregional (ASEAN) sekarang diperkirakan 5,0 persen pada 2017 dan 5,1 persen pada 2018. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,06 persen pada 2017 dipastikan berada di bawah rata-rata ASEAN. Pemerintah ingin kembali meluncurkan paket kebijakan ekonomi jilid XV. Namun demikian, 14 paket kebijakan yang sebelumnya telah dirilis  pemerintah dinilai tidak berhasil, gagal.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menilai pemerintah gagal memanfaatkan momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi lewat paket kebijakan yang sudah ada.

Salamuddin Daeng menambahkan,  Indonesia didera oleh tiga masalah utama yakni produktifitas masyarakat rendah, daya beli masyarakat yang merosot, inflasi yang cukup tinggi, dan defresiasi mata uang Indonesia terhadap mata uang asing yang sangat plugtuatif dan cenderung turun.

Anggaran negara gagal dijadikan fondasi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Anggaran negara dikerahkan untuk tujuan membangun infrastruktur tanpa adanya studi kelayakan dan dampak dampaknya bagi sosial poltik nasional.

Instumen keuangan dan perbankkan gagal dijadikan sebagai strategi utama dalam memajukan ekonomi, peningkatan dan pemerataan pendapatan. Kondisi ini ditunjukkan oleh ketimpangan yang lebar dalam penguasaan saving dan kredit di perbankan.(kl/konfrontasi)