Ust. Felix Siauw: Toleransi Zaman Now,Toleransi yang Tak Serasi


Kalau Muslim yang banyak, toleransi adalah menghargai yang minoritas. Membuat tempat ibadah di tengah penduduk Muslim harus ditoleransi, saat Ramadhan, yang tak puasa itu yang harus ditoleransi.

Saat Muslimnya sedikit, maka lain pula maknanya. Toleransi artinya mengikuti mayoritas. Toleransi adalah kehilangan internet ketika agama lain hari raya, dilarang adzan juga berjamaah di Masjid sebab menyepi.

Masjid dibakar, yang membakar diundang makan di Istana, alasannya demi menjaga stabilitas dan toleransi, perayaan agama lain, tak ada apapun, tiba-tiba dijaga ketat, dengan alasan toleransi dan menjaga dari tindak terorisme yang mungkin Muslim lakukan.

Toleransi berarti

Islam harus selalu mengalah, kalau Muslim yang menang itu pasti tidak toleransi. Yang bercadar diminta dibuka karena toleransi. Tapi yang telanjang diterima di pantai juga dengan alasan toleransi.

Tak boleh menyebut kata kafir, sebab itu tidak toleran pada yang beragama selain Islam. Tapi mereka boleh menyebut “ini tanah yang sudah ditebus oleh tuhan kami”, dan ini juga atas nama toleransi.

Parade barongsai jadi cagar budaya, padahal budaya mana juga kita merasa asing. Tapi sorban dan gamis dituduh-tuduh sebagai budaya Arab. Sekali lagi semua atas dasar toleransi.

Pengusaha yang ingin berkuasa, bawa uang dan janji palsu, yang lebih parah membahayakan aqidah, diundang masuk dan diberi panggung, ini juga atas nama toleransi. Kajian-kajian Islam dibubarkan kelompok yang sama, dalilnya juga toleransi.

Memilih pemimpin yang seakidah dikata melanggar toleransi, ulama mengingatkan penganutnya agar sesuai dengan Al-Qur’an juga dituduh intoleransi. Penista agama dibela dan didaku sebagai tokoh paling toleran.

Jadi aku mengerti arti toleransi saat ini. Muslim pasti salah, Islam harus salah. Termasuk tulisan ini pasti akan dianggap tidak toleran. Lanjutkan daftarnya, supaya semua orang jadi paham, toleransi saat ini itu cuma alat menekan dan memihak.

Penulis: Ust. Felix Siauw