PDIP: Jangan Ancam Jokowi Soal Cawapres


Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari meminta pihak-pihak yang sudah menyodorkan nama sebagai calon wakil presiden (cawapres) ke Joko Widodo agar tidak melakukan ancaman yang tidak perlu. Ia mengungkapkan ada kandidat cawapres yang mencoba mengancam Jokowi agar memilihnya supaya tidak kehilangan suara umat Islam.


"Ada (kandidat cawapres) partai yang ngomong, ini pengikutku (ada) 10 juta. Kalau tidak (jadikan cawapres), nanti tak cabut gitu. Kalau urusan jumlah-jumlahan PDIP paling gede lho," kata Eva Sundari, Ahad (18/3).

Eva menegaskan, sangat tidak pantas bila dalam komunikasi politik, tawar menawar cawapres dilakukan dengan cara seperti itu. Menurut dia, jika mau tawar menawar politik untuk menjadi cawapres, gunakan hasil riil, perolehan suara dan hasil kemenangan di pilkada dan pemilu legislatif (pileg). "Ini logikanya kok banyak-banyakan," terangnya.

Padahal, kalaupun mau banyak-banyakan, Eva menyatakan, tentu lebih banyak perolehan suara PDIP. Ia berharap semua partai yang mengusung Jokowi sebagai capres menggunakan logika hasil riil kinerja partainya, bukan dengan tawar menawar dulu.

Tapi yang terjadi pada salah satu cawapres, Eva menegaskan, justru tawar menawar dahulu tapi hasil kinerja riilnya belum terlihat. Karena itu, lanjut Eva, upaya tawar menawar cawapres Jokowi saat ini belum tepat, apalagi dilakukan dengan cara mengancam.

"Ini belum ada prestasi, belum ada kinerja, kok sudah nekan-nekan gitu. Jadi lucu," terangnya.

Eva mengatakan partai-partai yang saat ini sudah mendeklarasikan dukung Jokowi di 2019 tidak ada yang berani main ancam dan menekan seperti itu. Ia menganggap partai yang sudah mendeklarasikan Jokowi sebagai capres memiliki cara berpikir yang sama. Mereka paham Jokowi fokus menyelesaikan nawacita di tahun terakhir dan ada waktunya membahas bersama cawapres.

Eva merujuk pada pernyataan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau kerap disapa Cak Imin dalam salah satu kesempatan acara di Mata Najwa. Cak Imin mengklaim partainya memiliki basis dukungan yang sangat banyak, sehingga Jokowi sangat layak memilihnya sebagai cawapres.

Cak Imin memaparkan beberapa alasan Jokowi harus memilihnya. Di antaranya, menurut Cak Imin, Jokowi harus memilihnya karena dianggap lemah dalam dukungan umat Islam. Cak Imin mengklaim dirinya mampu menjebatani kekuatan Islam moderat, khususnya kalangan Nahdliyin (NU).


republika