Media Barat Resah Artikel Seruan Erdogan Bentuk ‘Tentara Islam’ untuk Menyerang Israel


Media Barat heboh pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang diam-diam berencana  membuat “Tentara Islam” dan menyerukannya untuk perang melawan Israel di semua sisi.

Rencana Erdogan yang membuat gundah Barat ini terungkap pertama kali dari artikel surat kabar Turki, Yeni Safak bulan lalu dalam bahasa Turki saat pertemuan antara Erdogan dan AKP—partai berkuasa di Turki saat ini.

Artikel itu menyerukan kepada 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di dunia Islam untuk menggabungkan kekuatan melawan penjajah Israel yang kemudian akan jauh kalah jumlah dan tidak dapat mempertahankan ‘negara palsu’ mereka.

Artikel juga merinci bagaimana gabungan kekuatan darat, udara dan laut dapat mengalahkan pejajah Israel secara militer dalam 10 hari dan secara diplomatis dalam 20 hari, dengan demikian membebaskan “Palestina.”

Artikel itu menghebohkan Barat pertama kali ketika diterjemahkan dan muat pertama oleh The Middle East Media Research Institute (MEMRI), sebuah organisasi non-profit bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat yang mendedikasikan untuk menyediakan terjemahan bahasa Inggris untuk media Timur Tengah.

Artikel yang dikutip dari Yeni Şafak itu memuat judul  “Panggilan Aksi Mendesak” dan di situs web surat kabar tersebut dengan judul “Bagaimana jika Pasukan Islam Dibentuk Melawan Israel?”

“Jika negara-negara anggota OKI bersatu secara militer, mereka akan membentuk tentara terbesar dan terlengkap di dunia,” bunyi salah satu kutipan dalam artikel tersebut dikutip laman express.co.uk.

“Jumlah prajurit yang aktif setidaknya akan 5.206.100, sementara anggaran pertahanan diperkirakan mencapai sekitar $ 175 milyar.”

Laporan media itu disertai peta interaktif yang menyediakan formasi pasukan militer gabungan yang secara bersama-sama melawan Zionis Israel.

Artikel itu juga memberikan rincian tambahan, dengan menyatakan; “Diharapkan 250.000 tentara akan berpartisipasi dalam operasi pertama yang memungkinkan.”

“Basis darat, udara dan laut dari negara-negara anggota yang terletak di wilayah paling kritis akan digunakan,” imbuh artikel tersebut.

“Pangkalan gabungan akan dibangun dalam waktu singkat … Ini mungkin bisa menampung 500 tank dan kendaraan lapis baja, 100 pesawat dan 500 helikopter tempur dan 50 kapal untuk dimobilisasi dengan cepat.”

Artikel dalam harian Turki itu menggambarkan penduduk Israel (lebih dari 8 juta) dan kekuatan militer “sangat inferior,” mencatat bahwa penduduk Istanbul, Ibu Kota Turki, lebih dari 14 juta.

“Kemampuan militer negara-negara anggota OKI cukup besar,” kata surat kabar itu. “Tentara-tentara ini memiliki peralatan yang diperlukan untuk melakukan operasi militer di darat, laut dan udara.”

Sebelum ini,  Recep Tayyip Erdogan bebebrapa kali telah mengatakan bahwa Republik Turki merupakan kelanjutan dari Kesultan Ottoman (Khilafah Utsmaniyah).

Dalam sambutan pada upacara peringatan 100 tahun meninggalnya Sultan Abdulhamid II di Istana Yildiz di Istanbul tahun 2017, Erdogan mengatakan,  “sama seperti negara  kita sebelumnya yang merupakan kelanjutan dari satu sama lain, Republik Turki juga sebuah kelanjutan dari Ottoman.”

“Tentu saja, perbatasan telah berubah. bentuk pemerintahan telah berubah. Namun intinya sama, jiwanya sama, bahkan sebagian institusinya sama,” kata Erdogan.

Erdogan menambahkan, itu yang membuat Sultan Abdulhamid merupakan salah satu individu “yang paling penting, paling visioner dan paling strategis” yang mencatat sejarah dalam 150 tahun terakhir.

Sultan Abdulhamid II, putra Sultan Abdul Majid, meninggal pada tahun 1918, dan merupakan sultan ke-34 Kesultanan Ottoman.

Dr Ben-Meir professor dan senior fellow di Universitas New York dalam blog pribadinya mengatakan, tak akan ada Negara Barat yang membiarkan Turki memusuhi sekutu Israel.

"Tidak ada pemerintahan Amerika yang mengizinkan Turki mengancam penghancuran salah satu sekutu terdekatnya — Israel — yang seharusnya memiliki efek mengerikan tidak hanya pada setiap warga Israel, tetapi juga pada setiap sekutu dekatnya," ujar ahli politik timur tengah ini.

Pria yang beberapa kali mengaku terlibat langsung dalam berbagai perundingan antara Israel dan Turki ini juga mengaku ide pendirian tentara gabungan Islam ini tidak akan pernah disetujui Barat.

“Tidak ada pemimpin yang diam tentang pembentukan Tentara Islam harus dipercaya dan diperlakukan sebagai kepala negara yang sah tetapi harus ditangani sebagai pengkhianat yang mengundang bencana ke negara dan rakyatnya,” ujar Ben Meir.

Sumber:

 - 
https://www.memri.org/reports/turkish-newspaper-close-president-erdogan-calls-form-joint-islamic-army-fight-israel
- Terjemahan:
http://m.hidayatullah.com/berita/internasional/read/2018/03/27/138946/media-barat-resah-artikel-seruan-erdogan-bentuk-tentara-islam-untuk-menyerang-israel.html