Makjleb !! Wacanakan Kredit Pendidikan, Jokowi Diingatkan Ekonom Muda Tak Asal Comot Kebijakan"


Baru-baru ini Presiden Joko Widodo memunculkan wacana student loan atau kredit pendidikan bagi pelajar di perguruan tinggi. Hal itu dilontarkannya menyusul target pertumbuhan kredit perbankan 2017 yang tak tercapai.

Permintaan penerbitan produk perbankan berupa kredit pendidikan dilontarkan Jokowi saat bertemu dengan para pimpinan perbankan Indonesia di Istana Negara, Jakarta. Saat itu presiden menyindir target pertumbuhan kredit tahun 2017 yang tidak tercapai. Dia pun meminta penerbitan produk kredit pendidikan atau student loan.

“Saya ingin memberi PR kepada bapak ibu sekalian. Dengan yang namanya student loan atau kredit pendidikan,” kata Jokowi, Kamis (15/03/2018).

Menurutnya, kredit pendidikan itu bisa mengalihkan dari hal konsumtif yang produktif. “Nantinya juga akan memberikan nilai tambah pada intelektualitas, visi ke depan yang sangat basic, yaitu bidang pendidikan,” ujar Jokowi.

Mantan Walikota Solo itu lantas menyebut program student loan di Amerika Serikat sebagai contoh. Jokowi menyebut kredit pendidikan di Amerika yang mencapai 1,3 triliun dollar AS, lebih besar dari total pinjaman kartu kredit yaitu 800 miliar dollar AS.

Menanggapi wacana itu, Ekonom Muda Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid menegaskan bahwa pada prinsipnya negara bertanggung jawab dalam menyediakan dan menyelenggarakan pendidikan. Hal itu adalah amanat konsitusi, bukan justeru dijadikan alat bisnis negara.

“Pendidikan bukan seperti commercial goods (komoditas komersial), negara harus turun tangan menyediakan pendidikan yang berkualitas dan menjangkau semuanya,” ujarnya kepada Kiblat.net, Senin, (19/3/2018).

Dia menjelaskan kredit pendidikan sebenarnya bukan konsep baru, tetapi konsep lama dan sudah diterapkan di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat. Kholid mengatakan pemerintahan Jokowi harus benar-benar mengkaji dampak positif dan negatif penerapannya di Indonesia. Dia mengingatkan student loan bisa menimbulkan dampak tak baik bagi ekonomi negara.

“Di AS, student loan bukan berarti tanpa masalah. Tingginya utang akibat student loan juga berdampak tidak baik bagi ekonomi,” tegasnya.

Kholid menilai ketika generasi muda bekerja, pendapatan yang seharusnya dia belanjakan untuk beli rumah, kesehatan, konsumsi lainnya jadi harus dibayarkan untuk tanggungan student loan. “Ini berdampak negatif ke pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

Kholid mengingatkan Amerika Serikat yang pendapatan per kapitanya mencapai 52 ribu USD saja kesulitan dengan adanya student loan, apalagi Indonesia yang income per kapitanya masih 3.500 USD. “Jadi harus dikaji betul, jangan asal comot dan mencontoh kebijakan tanpa perhatikan kompleksitas masalah yang akan dihadapi nanti,” pungkasnya.

kiblat